MARRYLAND, AS, METROTODAY – Indonesia Day on the Creek bukan sekadar festival, tetapi ruang untuk membangun hubungan melalui budaya. Presiden IDECN sekaligus Ketua Panitia Haris Koentjoro melihat festival ini sebagai ruang yang mempertemukan manusia melalui kebudayaan.
Ketika masyarakat menyaksikan Reog Ponorogo, mendengar angklung, mencoba membatik, dan menikmati kuliner Indonesia, mereka tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan. Mereka terhubung dengan tradisi hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi,” jelas Haris antusias.
Pandangan itu diamini Ari Sufiati, Presiden Indonesia Lighthouse. Baginya, kebudayaan bukan sekadar sesuatu yang dipentaskan di atas panggung. Budaya adalah cahaya yang menuntun generasi muda mengenali siapa dirinya.
”Kebudayaan bukan hanya untuk dipertunjukkan, tetapi juga menjadi cahaya yang menuntun generasi muda untuk mengenal jati diri, membangun kebanggaan, dan terhubung dengan masyarakat dunia,” terang Ari Sufiati, Arek Suroboyo yang sudah hampir 30 tahun tinggal di Amerika ini.
Di era ketika batas negara semakin kabur oleh teknologi, budaya justru menjadi penanda identitas yang paling kuat. Festival seperti Indonesia Day on the Creek membuktikan bahwa diplomasi tidak selalu berlangsung di ruang perundingan atau meja konferensi.
Kadang ia lahir dari bunyi bambu yang dipukul bersama, dari aroma masakan yang mengundang orang asing untuk mencicipi, atau dari seorang anak Amerika yang untuk pertama kalinya mengenakan batik dan tersenyum bangga di depan cermin.
Menjelang petang, satu demi satu pengunjung mulai meninggalkan Carroll Creek Park. Namun, gema musik Reog seolah masih tertinggal di antara aliran sungai kecil yang membelah kota Frederick. Barangkali esok kota itu kembali seperti biasa.
Musik jalanan Amerika kembali menguasai trotoar. Percakapan bahasa Inggris kembali memenuhi taman. Tetapi bagi mereka yang hadir hari itu, Carroll Creek tak lagi sekadar taman kota.
Ia telah menjadi saksi bahwa Indonesia, dengan segala keragaman budayanya, mampu melintasi samudra, menjangkau hati orang-orang yang berbeda bangsa, lalu menetap sebagai kenangan yang sulit dilupakan. Dan selama masih ada orang-orang yang menjaga warisan itu dengan cinta, suara Reog akan terus menemukan langit baru untuk bergema. (MT/Indonesia Lighthouse)

