METROTODAY, SURABAYA – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menyoroti jumlah jemaah haji asal Jawa Timur yang wafat mencapai 67 orang hingga saat ini di tanah suci, angka yang masih tercatat paling tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Sedangkan jemaah yang wafat saat kepulangan di Asrama Haji Surabaya mencapai 5 orang. Sehingga total jemaah haji yang wafat mencapai 72 orang.
Kondisi ini mendorong pemerintah untuk memperketat kembali persyaratan istitaah kesehatan bagi calon jemaah yang akan berangkat ke Tanah Suci pada tahun mendatang.
“Catatan buat Jawa Timur. Kedepan memang yang harus kita perketat itu istitaah kesehatan. Karena Jawa Timur adalah salah satu daerah yang tingkat mortalitasnya tinggi, tingkat kematian jemaahnya tinggi,” ujarnya, Sabtu (13/6).
Meskipun jumlah tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 100 orang, Dahnil menegaskan bahwa angka 65 orang masih tergolong tinggi dan menjadi penyumbang terbesar di Indonesia.
“Memang ada penurunan signifikan dibandingkan tahun yang lalu. Tahun lalu sudah lebih dari 100 orang, tapi tahun ini 65 orang. Namun demikian, angka itu relatif masih menjadi penyumbang jemaah yang wafat tertinggi di Indonesia,” jelasnya.
Untuk menekan angka kematian ke depannya, Dahnil menyatakan bahwa pemeriksaan kesehatan akan dilakukan lebih ketat, bahkan sebelum jemaah melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih). Langkah ini bertujuan memastikan hanya jemaah dengan kondisi fisik prima yang dapat berangkat.
“Kita akan lebih memperketat istitaah supaya mereka yang berangkat adalah mereka yang memang kesehatannya benar-benar prima. Hal ini diharapkan dapat menekan jumlah kematian yang terjadi di Tanah Suci,” tegasnya.
METROTODAY, SURABAYA – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menyoroti jumlah jemaah haji asal Jawa Timur yang wafat mencapai 67 orang hingga saat ini di tanah suci, angka yang masih tercatat paling tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Sedangkan jemaah yang wafat saat kepulangan di Asrama Haji Surabaya mencapai 5 orang. Sehingga total jemaah haji yang wafat mencapai 72 orang.
Kondisi ini mendorong pemerintah untuk memperketat kembali persyaratan istitaah kesehatan bagi calon jemaah yang akan berangkat ke Tanah Suci pada tahun mendatang.
“Catatan buat Jawa Timur. Kedepan memang yang harus kita perketat itu istitaah kesehatan. Karena Jawa Timur adalah salah satu daerah yang tingkat mortalitasnya tinggi, tingkat kematian jemaahnya tinggi,” ujarnya, Sabtu (13/6).
Meskipun jumlah tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 100 orang, Dahnil menegaskan bahwa angka 65 orang masih tergolong tinggi dan menjadi penyumbang terbesar di Indonesia.
“Memang ada penurunan signifikan dibandingkan tahun yang lalu. Tahun lalu sudah lebih dari 100 orang, tapi tahun ini 65 orang. Namun demikian, angka itu relatif masih menjadi penyumbang jemaah yang wafat tertinggi di Indonesia,” jelasnya.
Untuk menekan angka kematian ke depannya, Dahnil menyatakan bahwa pemeriksaan kesehatan akan dilakukan lebih ketat, bahkan sebelum jemaah melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih). Langkah ini bertujuan memastikan hanya jemaah dengan kondisi fisik prima yang dapat berangkat.
“Kita akan lebih memperketat istitaah supaya mereka yang berangkat adalah mereka yang memang kesehatannya benar-benar prima. Hal ini diharapkan dapat menekan jumlah kematian yang terjadi di Tanah Suci,” tegasnya.