“Yang paling banyak teridentifikasi adalah kelelahan, terutama setelah melaksanakan ibadah di Armuzna. Pemicu utamanya adalah gangguan fungsi jantung akibat kelelahan. Oleh karena itu, ini akan menjadi bahan evaluasi kami, bagaimana ke depannya penanganan terhadap kondisi fisik jemaah agar lebih maksimal, terutama dalam mengantisipasi dampak kelelahan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Debarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, mengatakan kondisi medis dan upaya penanganan yang telah dilakukan.
Ia menyebutkan bahwa untuk jemaah yang meninggal di pesawat, tim medis kloter telah memberikan pertolongan selama 15 menit, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
“Jemaah yang wafat di pesawat sudah dilakukan tindakan medis selama 15 menit. Namun saat pesawat hendak mendarat, tindakan medis yang dilakukan dokter kloter harus dihentikan. Diduga jemaah tersebut wafat tepat saat pesawat hendak mendarat,” tuturnya.
Sedangkan jemaah yang wafat di bus diperkirakan menghembuskan napas terakhir saat kendaraan hendak masuk ke Asrama Haji Debarkasi Surabaya.
“Jemaah tersebut sempat diturunkan dan dibawa ke klinik untuk ditangani, namun akhirnya dirujuk ke RS Haji untuk memastikan kondisinya,” imbuhnya.
Rosidi juga menambahkan kesehatan kedua almarhum. Jemaah pria berusia 69 tahun tersebut diketahui memiliki riwayat penyakit jantung dan tekanan darah tinggi. Sedangkan jemaah perempuan juga memiliki keluhan serupa pada jantung.
“Kami turut berduka cita atas wafatnya dua jemaah pada siang ini. Sehingga total jemaah yang wafat hingga hari ini menjadi 49 orang. Identifikasi sementara menunjukkan faktor dominan adalah kelelahan berat yang memicu gangguan jantung, mengingat aktivitas ibadah yang sangat padat dan melelahkan,” pungkasnya. (ahm)
“Yang paling banyak teridentifikasi adalah kelelahan, terutama setelah melaksanakan ibadah di Armuzna. Pemicu utamanya adalah gangguan fungsi jantung akibat kelelahan. Oleh karena itu, ini akan menjadi bahan evaluasi kami, bagaimana ke depannya penanganan terhadap kondisi fisik jemaah agar lebih maksimal, terutama dalam mengantisipasi dampak kelelahan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Debarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, mengatakan kondisi medis dan upaya penanganan yang telah dilakukan.
Ia menyebutkan bahwa untuk jemaah yang meninggal di pesawat, tim medis kloter telah memberikan pertolongan selama 15 menit, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
“Jemaah yang wafat di pesawat sudah dilakukan tindakan medis selama 15 menit. Namun saat pesawat hendak mendarat, tindakan medis yang dilakukan dokter kloter harus dihentikan. Diduga jemaah tersebut wafat tepat saat pesawat hendak mendarat,” tuturnya.
Sedangkan jemaah yang wafat di bus diperkirakan menghembuskan napas terakhir saat kendaraan hendak masuk ke Asrama Haji Debarkasi Surabaya.
“Jemaah tersebut sempat diturunkan dan dibawa ke klinik untuk ditangani, namun akhirnya dirujuk ke RS Haji untuk memastikan kondisinya,” imbuhnya.
Rosidi juga menambahkan kesehatan kedua almarhum. Jemaah pria berusia 69 tahun tersebut diketahui memiliki riwayat penyakit jantung dan tekanan darah tinggi. Sedangkan jemaah perempuan juga memiliki keluhan serupa pada jantung.
“Kami turut berduka cita atas wafatnya dua jemaah pada siang ini. Sehingga total jemaah yang wafat hingga hari ini menjadi 49 orang. Identifikasi sementara menunjukkan faktor dominan adalah kelelahan berat yang memicu gangguan jantung, mengingat aktivitas ibadah yang sangat padat dan melelahkan,” pungkasnya. (ahm)