Cek Keimigrasian Ratusan Jemaah Hanya 40 Menit, Gubernur Khofifah Apresiasi Seamless Corridor di Asrama Haji Surabaya

METROTODAY, SURABAYA – Kedatangan jemaah haji kloter 1 asal Probolinggo disambut langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Senin (1/6) malam di Gedung Muzdalifah, Asrama Haji Debarkasi Surabaya.

IMG_20260602_070807
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat meninjau langsung Seamless Corridor saat kedatangan jemaah kloter 1 di Gedung Muzdalifah Asrama Haji Surabaya. (FOTO: Ahmad/METROTODAY)

Sebanyak 378 jemaah tersebut begitu tiba langsung melakukan pengecekan dokumen keimigrasian dengan menggunakan seamless corridor yang diterapkan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi.

Lewat sistem ini, jemaah haji tidak perlu lagi antre untuk mendapatkan stempel cap pada paspor mereka.

Begitu jemaah melewati pintu kedatangan, identitas mereka akan langsung dikenali dan tercatat otomatis dalam sistem data negara.

Gubernur Khofifah yang mengamati langsung proses tersebut tampak sangat mengapresiasi dan memuji efisiensi serta akurasi layanan ini.

Menurutnya, inovasi ini menjadi bukti nyata peningkatan kualitas layanan publik, terutama bagi jemaah haji yang usai menempuh perjalanan jauh dan melelahkan.

“Selamat datang jemaah haji. Kita doakan mereka menjadi mabrur. Dan mudah-mudahan menjadi bagian dari upaya meningkatkan layanan publik ya dari Imigrasi. Mereka lihat layar kecil itu dan ternyata itu cukup untuk melihat iris (mata) dari mereka, sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan paspor. Prosesnya menjadi sangat cepat,” ujarnya.

Jadi, digital ecosystem yang sudah dilakukan oleh pihak Imigrasi ini sudah dimulai di Jakarta tahun lalu, dan hari ini ditambah di lakukan du Surabaya.

Khofifah mengaku bahwa hari demi hari layanan publik kepada masyarakat, terutama kepada jemaah haji memberikan kemudahan dan percepatan layanan.

“Tentu suasana menjadi lebih nyaman bagi mereka. Mereka habis perjalanan jauh pasti relatif lelah, tapi dari proses keimigrasian cukup mereka melihat layar kecil dan itu sudah cukup untuk memberikan identifikasi dan tanpa dicap lagi paspor mereka,” tuturnya.

IMG-20260602-WA0007

Menurut Khofifah semua ikhtiar ini tentu dilakukan dengan memaksimalkan layanan publik dan tetap dengan asas kehati-hatian.

“Inovasi ini diharapkan terus berlanjut agar proses kepulangan jemaah haji ke depannya semakin cepat, nyaman, dan bebas antrean,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Timur, Novianto Sulastono, mengatakan jika sebelumnya menggunakan cara konvensional atau manual, pemeriksaan dokumen untuk 378 jemaah bisa memakan waktu hingga 2 hingga 3 jam.

Namun dengan sistem Seamless Corridor, seluruh proses selesai dalam waktu sangat singkat.

“Pemeriksaan jemaah tadi kurang lebih 378 penumpang, tidak sampai 40 menit tadi. Karena teman-teman bisa tahu kondisi bagaimana kalau manual, terus kemudian ada layanan lewat autogate. Nah, ini kita tingkatkan lagi melalui seamless corridor tadi itu,” ungkap Novianto.

Lebih lanjut, Novianto menjelaskan bahwa sistem canggih ini baru diterapkan di dua lokasi di Indonesia, yakni Bandara Soekarno-Hatta dan kini Bandara Juanda Surabaya. Tingkat keakuratan sistem ini pun sangat tinggi, mencapai 99,9 persen.

“Ini di Surabaya yang pertama. Yang pertama di Soekarno-Hatta sudah tahun lalu. Kemudian Surabaya yang pertama ini. Jadi hanya ada di Cengkareng dan di Juanda,” jelasnya.

Meski sangat akurat, Novianto mengakui tetap ada sedikit kendala teknis namun jumlahnya sangat minim.

Dari ratusan jemaah, hanya sekitar 2 hingga 3 orang yang tidak terbaca oleh sistem. Penyebabnya bukan karena sistem error, melainkan karena faktor manusia.

“Itu keakuratannya 99,9 persen ya. Jadi sangat akurat. Nah, ketika ada kendala yang memang tidak terbaca, dari 378 tadi mungkin yang enggak terbaca hanya 2 sampai 3 lah. Karena bisa saja karena mungkin dia tidak lihat kamera. Kan ini searah, harus lihat kamera. Baru terdeteksi. Nah, kalau tidak lihat, ya kita cek manual saja,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Kedatangan jemaah haji kloter 1 asal Probolinggo disambut langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Senin (1/6) malam di Gedung Muzdalifah, Asrama Haji Debarkasi Surabaya.

IMG_20260602_070807
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat meninjau langsung Seamless Corridor saat kedatangan jemaah kloter 1 di Gedung Muzdalifah Asrama Haji Surabaya. (FOTO: Ahmad/METROTODAY)

Sebanyak 378 jemaah tersebut begitu tiba langsung melakukan pengecekan dokumen keimigrasian dengan menggunakan seamless corridor yang diterapkan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi.

Lewat sistem ini, jemaah haji tidak perlu lagi antre untuk mendapatkan stempel cap pada paspor mereka.

Begitu jemaah melewati pintu kedatangan, identitas mereka akan langsung dikenali dan tercatat otomatis dalam sistem data negara.

Gubernur Khofifah yang mengamati langsung proses tersebut tampak sangat mengapresiasi dan memuji efisiensi serta akurasi layanan ini.

Menurutnya, inovasi ini menjadi bukti nyata peningkatan kualitas layanan publik, terutama bagi jemaah haji yang usai menempuh perjalanan jauh dan melelahkan.

“Selamat datang jemaah haji. Kita doakan mereka menjadi mabrur. Dan mudah-mudahan menjadi bagian dari upaya meningkatkan layanan publik ya dari Imigrasi. Mereka lihat layar kecil itu dan ternyata itu cukup untuk melihat iris (mata) dari mereka, sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan paspor. Prosesnya menjadi sangat cepat,” ujarnya.

Jadi, digital ecosystem yang sudah dilakukan oleh pihak Imigrasi ini sudah dimulai di Jakarta tahun lalu, dan hari ini ditambah di lakukan du Surabaya.

Khofifah mengaku bahwa hari demi hari layanan publik kepada masyarakat, terutama kepada jemaah haji memberikan kemudahan dan percepatan layanan.

“Tentu suasana menjadi lebih nyaman bagi mereka. Mereka habis perjalanan jauh pasti relatif lelah, tapi dari proses keimigrasian cukup mereka melihat layar kecil dan itu sudah cukup untuk memberikan identifikasi dan tanpa dicap lagi paspor mereka,” tuturnya.

IMG-20260602-WA0007

Menurut Khofifah semua ikhtiar ini tentu dilakukan dengan memaksimalkan layanan publik dan tetap dengan asas kehati-hatian.

“Inovasi ini diharapkan terus berlanjut agar proses kepulangan jemaah haji ke depannya semakin cepat, nyaman, dan bebas antrean,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Timur, Novianto Sulastono, mengatakan jika sebelumnya menggunakan cara konvensional atau manual, pemeriksaan dokumen untuk 378 jemaah bisa memakan waktu hingga 2 hingga 3 jam.

Namun dengan sistem Seamless Corridor, seluruh proses selesai dalam waktu sangat singkat.

“Pemeriksaan jemaah tadi kurang lebih 378 penumpang, tidak sampai 40 menit tadi. Karena teman-teman bisa tahu kondisi bagaimana kalau manual, terus kemudian ada layanan lewat autogate. Nah, ini kita tingkatkan lagi melalui seamless corridor tadi itu,” ungkap Novianto.

Lebih lanjut, Novianto menjelaskan bahwa sistem canggih ini baru diterapkan di dua lokasi di Indonesia, yakni Bandara Soekarno-Hatta dan kini Bandara Juanda Surabaya. Tingkat keakuratan sistem ini pun sangat tinggi, mencapai 99,9 persen.

“Ini di Surabaya yang pertama. Yang pertama di Soekarno-Hatta sudah tahun lalu. Kemudian Surabaya yang pertama ini. Jadi hanya ada di Cengkareng dan di Juanda,” jelasnya.

Meski sangat akurat, Novianto mengakui tetap ada sedikit kendala teknis namun jumlahnya sangat minim.

Dari ratusan jemaah, hanya sekitar 2 hingga 3 orang yang tidak terbaca oleh sistem. Penyebabnya bukan karena sistem error, melainkan karena faktor manusia.

“Itu keakuratannya 99,9 persen ya. Jadi sangat akurat. Nah, ketika ada kendala yang memang tidak terbaca, dari 378 tadi mungkin yang enggak terbaca hanya 2 sampai 3 lah. Karena bisa saja karena mungkin dia tidak lihat kamera. Kan ini searah, harus lihat kamera. Baru terdeteksi. Nah, kalau tidak lihat, ya kita cek manual saja,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait