“Kemudian dari sekian ribu orang yang masuk untuk dirawat, dirujuk ke rumah sakit itu ada sekitar 127 jemaah gitu ya. Dan umumnya penyakit-penyakitnya yang biasa gitu ya, ada anemia, ada diabetes, ada hiperkolesterol, kemudian ada juga masalah diare juga. Jadi penyakit ini terpicu karena ada kelelahan itu,” jelasnya.
Lebih rinci, data menunjukkan bahwa meskipun secara umum kondisi jemaah dinilai cukup prima, sekitar 77 persen jemaah masuk dalam kategori risiko tinggi.
Kelompok ini mencakup lansia yang sehat, usia muda dengan penyakit bawaan, hingga lansia yang memiliki riwayat penyakit kronis. Kelompok terakhir inilah yang dinilai paling sulit penanganannya karena membutuhkan pemantauan ekstra.
“Kemudian ada sekitar beberapa orang yang memang ada risiko tingginya ya, ada sekitar 77 persen itu risiko tinggi,” tegasnya.
Meski demikian, upaya intervensi medis dinilai cukup efektif. Sebagian jemaah yang awalnya tertunda keberangkatannya akhirnya tetap bisa bergabung menuju Tanah Suci setelah mendapatkan penanganan kesehatan dan penundaan jadwal sementara.
Rosidi menekankan pentingnya peningkatan pembinaan kesehatan di tingkat daerah bagi calon jemaah yang masih menunggu giliran.
Ia mengingatkan kembali bahwa haji pada dasarnya adalah ibadah fisik, sehingga pemeliharaan kesehatan harus dimulai sejak dini dan dilakukan secara berkelanjutan.
Apalagi saat ini, jemaah yang telah tiba di Tanah Suci sedang bersiap menuju puncak ibadah di Arofah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). (ahm)
“Kemudian dari sekian ribu orang yang masuk untuk dirawat, dirujuk ke rumah sakit itu ada sekitar 127 jemaah gitu ya. Dan umumnya penyakit-penyakitnya yang biasa gitu ya, ada anemia, ada diabetes, ada hiperkolesterol, kemudian ada juga masalah diare juga. Jadi penyakit ini terpicu karena ada kelelahan itu,” jelasnya.
Lebih rinci, data menunjukkan bahwa meskipun secara umum kondisi jemaah dinilai cukup prima, sekitar 77 persen jemaah masuk dalam kategori risiko tinggi.
Kelompok ini mencakup lansia yang sehat, usia muda dengan penyakit bawaan, hingga lansia yang memiliki riwayat penyakit kronis. Kelompok terakhir inilah yang dinilai paling sulit penanganannya karena membutuhkan pemantauan ekstra.
“Kemudian ada sekitar beberapa orang yang memang ada risiko tingginya ya, ada sekitar 77 persen itu risiko tinggi,” tegasnya.
Meski demikian, upaya intervensi medis dinilai cukup efektif. Sebagian jemaah yang awalnya tertunda keberangkatannya akhirnya tetap bisa bergabung menuju Tanah Suci setelah mendapatkan penanganan kesehatan dan penundaan jadwal sementara.
Rosidi menekankan pentingnya peningkatan pembinaan kesehatan di tingkat daerah bagi calon jemaah yang masih menunggu giliran.
Ia mengingatkan kembali bahwa haji pada dasarnya adalah ibadah fisik, sehingga pemeliharaan kesehatan harus dimulai sejak dini dan dilakukan secara berkelanjutan.
Apalagi saat ini, jemaah yang telah tiba di Tanah Suci sedang bersiap menuju puncak ibadah di Arofah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). (ahm)