METROTODAY, DALLAS – Perjalanan Cristiano Ronaldo di panggung Piala Dunia resmi berakhir. Setelah Portugal disingkirkan Spanyol dengan skor tipis 0-1 pada babak 16 besar Piala Dunia 2026, sang megabintang mengonfirmasi bahwa turnamen di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi Piala Dunia terakhir dalam kariernya.
Meski demikian, Ronaldo belum bersedia memastikan apakah dirinya juga akan pensiun dari Timnas Portugal dalam waktu dekat. Ia memilih menunda keputusan hingga emosinya lebih tenang.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Ronaldo akhirnya mengucapkan kalimat yang telah lama ditunggu publik sepak bola.
“Soal Piala Dunia terakhir? Ya, ini akan menjadi yang terakhir,” ujar kapten Portugal tersebut kepada awak media, dilansir dari Reuters.
Namun ia buru-buru menambahkan bahwa dirinya belum mengambil keputusan mengenai masa depan bersama tim nasional. “Aku tidak ingin memutuskan terlebih dahulu dengan kondisi emosi seperti ini,” katanya, menegaskan bahwa ia ingin pulang, berbicara dengan keluarga, dan merenungkan langkah berikutnya sebelum menentukan apakah perjalanan bersama Portugal benar-benar telah berakhir.
Sebenarnya, sinyal perpisahan itu sudah sempat diungkapkan Ronaldo jauh sebelum Piala Dunia dimulai. Dalam wawancara bersama Reuters pada November 2025, penyerang Al Nassr tersebut mengaku berencana mengakhiri karier profesionalnya dalam satu atau dua tahun ke depan dan secara terbuka menyebut Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen empat tahunan terakhirnya. Pernyataan itu kini benar-benar menjadi kenyataan setelah Portugal gagal melewati hadangan Spanyol di fase gugur.
Sebagian besar analis terkemuka justru bernapas lega dengan keputusan Ronaldo yang menyatakan 2026 sebagai Piala Dunia terakhirnya. Pandit dari media Inggris seperti FourFourTwo dan Talksport secara blak-blakan menilai bahwa mempertahankan Ronaldo hingga tahun 2030, saat usianya menyentuh 45 tahun, adalah sebuah kegilaan taktis. Mereka berargumen bahwa dengan mundurnya pelatih Roberto Martínez, suksesor baru Portugal harus diberikan kebebasan penuh untuk membangun era baru tanpa bayang-bayang ego CR7 yang selama ini dinilai kerap memperlambat regenerasi pemain muda berbakat berkebangsaan Portugal.
Meski demikian, fakta bahwa Piala Dunia 2030 akan digelar di Portugal (bersama Spanyol dan Maroko) membuat desakan agar ia bertahan satu kali lagi tetap bergema di sana-sini. Mantan pelatihnya, Roberto Martínez, sempat berseloroh kepada Cadena Ser bahwa tidak ada yang boleh meragukan kapasitas Ronaldo untuk terlibat di 2030 karena ia telah memenangkan segalanya. Beberapa pandit bernada kelakar di acara televisi bahkan melempar ide gila. Jika tidak sebagai pemain, Ronaldo harus ditunjuk sebagai pelatih timnas Portugal berikutnya agar ia bisa tetap masuk ke lapangan dan memimpin negaranya di rumah sendiri pada tahun 2030 nanti.
Jika benar Ronaldo tidak lagi mengenakan seragam Portugal setelah ini, ia akan menutup karier internasional yang mustahil disamai. Sejak melakoni debut pada Agustus 2003, CR7 telah mencatat lebih dari 230 penampilan bersama Selecao das Quinas -julukan Portugal- dengan torehan 146 gol, menjadikannya pemegang rekor penampilan dan pencetak gol terbanyak dalam sejarah sepak bola internasional putra. Ia juga mengantar Portugal meraih gelar Euro 2016, UEFA Nations League 2019, dan UEFA Nations League 2025, selain menjadi pemain pertama yang mampu mencetak gol pada enam edisi Piala Dunia berbeda.
Ada pula sisi emosional yang menyelimuti akhir perjalanan Ronaldo di Piala Dunia. Diwartakan oleh Fansided, seusai peluit panjang berbunyi, kamera berkali-kali menyorot ekspresi sang kapten yang berjalan perlahan meninggalkan lapangan sambil menerima tepuk tangan dari para penonton. Momen tersebut menjadi simbol berakhirnya satu era terbaik dalam sejarah sepak bola dunia.
Meski trofi Piala Dunia tak pernah berhasil ia genggam, warisan Ronaldo sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa dipastikan akan terus dikenang oleh generasi berikutnya. Dengan melepaskan beban berat di tim nasional, Ronaldo diprediksi akan mengerahkan sisa-sisa tenaga dan fokusnya di level klub bersama Al Nassr demi satu ambisi pribadi yang belum tuntas, menggenapi catatan statistiknya menjadi 1.000 gol resmi sebelum benar-benar pensiun total dari dunia si kulit bundar. (ezaar)

