Fardhan Jemaah Haji Termuda Bali, Bawa Buku Doa dari Teman Sekelas untuk Dibacakan di Tanah Suci

Saat itu ia bahkan sudah merasa rela dan ikhlas jika nanti harus melepaskan anaknya berangkat seorang diri tanpa didampingi. Namun takdir berkata lain, Fardhan akhirnya mendapatkan kemudahan dan bisa berangkat bersamanya pada tahun ini.

“Saya bilang ke dia, ‘Kak, ini Mama berangkat tahun ini. Terus Ayah ini porsinya bisa dialihkan ke kamu, bagaimana menurutmu?’. Dia pun terharu mendengarnya. Karena prosesnya agak lama, saya sempat bilang, ‘Kak, kalau memang rezekimu dan Allah mengundangmu tahun ini, pasti ada jalannya. Kalau belum, insyaallah bisa ditunda lima tahun lagi. Nanti kalau kamu berangkat sendiri, Mama sudah tega kok melepasnya’. Dan ternyata, takdirnya memang berangkat sekarang juga,” tutur Siska.

Terkait urusan sekolah, Fardhan yang kini bersekolah Madrasah Tsnawiyah (MTs) di Malang sempat mengalami keraguan dan kekhawatiran tersendiri.

Pasalnya, jadwal keberangkatan ibadah haji bertepatan dengan jadwal pelaksanaan ujian akhir semester (UAS) di sekolah. Namun kembali lagi, takdir tampaknya berpihak pada mereka.

Saat Siska menemui wali kelas Fardhan untuk meminta izin dan menjelaskan kondisi tersebut, ia justru mendapat dukungan yang luar biasa besar.

Bahkan, wali kelasnya bercerita bahwa putranya sendiri juga diterima bertugas sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di sektor Mekkah tahun ini.

Wali kelas itu pun dengan sukarela menawarkan bantuan dan nomor telepon anaknya agar sewaktu-waktu bisa saling membantu saat berada di Tanah Suci.

“Wali kelasnya malah terharu mendengar cerita kami dan bilang, ‘Lho Bun, anak saya itu juga keterima jadi petugas PPIH tahun ini, kebetulan bertugas di Mekkah. Ini saya kasih nomornya ya, nanti siapa tahu di sana bisa saling bertemu dan saling bantu’. Rasanya seperti Allah benar-benar membukakan jalan serta memudahkan segala urusan kami satu per satu,” ungkapnya.

Untuk menyiasati jadwal ujian sekolah yang berbarengan dengan keberangkatan, Fardhan menyelesaikan dan mengerjakan sebagian soal ujian lebih awal selama dua minggu sebelum ia berangkat ke Tanah Suci.

Sedangkan sisa materi dan soal ujian lainnya akan diselesaikan saat ia pulang nanti setelah masa sekolah usai dan hari penerimaan rapor tiba. Cara ini dilakukan agar tugas sekolah tidak menumpuk dan tidak membebani pikiran maupun fisik anak tersebut selama menjalani ibadah.

Saat itu ia bahkan sudah merasa rela dan ikhlas jika nanti harus melepaskan anaknya berangkat seorang diri tanpa didampingi. Namun takdir berkata lain, Fardhan akhirnya mendapatkan kemudahan dan bisa berangkat bersamanya pada tahun ini.

“Saya bilang ke dia, ‘Kak, ini Mama berangkat tahun ini. Terus Ayah ini porsinya bisa dialihkan ke kamu, bagaimana menurutmu?’. Dia pun terharu mendengarnya. Karena prosesnya agak lama, saya sempat bilang, ‘Kak, kalau memang rezekimu dan Allah mengundangmu tahun ini, pasti ada jalannya. Kalau belum, insyaallah bisa ditunda lima tahun lagi. Nanti kalau kamu berangkat sendiri, Mama sudah tega kok melepasnya’. Dan ternyata, takdirnya memang berangkat sekarang juga,” tutur Siska.

Terkait urusan sekolah, Fardhan yang kini bersekolah Madrasah Tsnawiyah (MTs) di Malang sempat mengalami keraguan dan kekhawatiran tersendiri.

Pasalnya, jadwal keberangkatan ibadah haji bertepatan dengan jadwal pelaksanaan ujian akhir semester (UAS) di sekolah. Namun kembali lagi, takdir tampaknya berpihak pada mereka.

Saat Siska menemui wali kelas Fardhan untuk meminta izin dan menjelaskan kondisi tersebut, ia justru mendapat dukungan yang luar biasa besar.

Bahkan, wali kelasnya bercerita bahwa putranya sendiri juga diterima bertugas sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di sektor Mekkah tahun ini.

Wali kelas itu pun dengan sukarela menawarkan bantuan dan nomor telepon anaknya agar sewaktu-waktu bisa saling membantu saat berada di Tanah Suci.

“Wali kelasnya malah terharu mendengar cerita kami dan bilang, ‘Lho Bun, anak saya itu juga keterima jadi petugas PPIH tahun ini, kebetulan bertugas di Mekkah. Ini saya kasih nomornya ya, nanti siapa tahu di sana bisa saling bertemu dan saling bantu’. Rasanya seperti Allah benar-benar membukakan jalan serta memudahkan segala urusan kami satu per satu,” ungkapnya.

Untuk menyiasati jadwal ujian sekolah yang berbarengan dengan keberangkatan, Fardhan menyelesaikan dan mengerjakan sebagian soal ujian lebih awal selama dua minggu sebelum ia berangkat ke Tanah Suci.

Sedangkan sisa materi dan soal ujian lainnya akan diselesaikan saat ia pulang nanti setelah masa sekolah usai dan hari penerimaan rapor tiba. Cara ini dilakukan agar tugas sekolah tidak menumpuk dan tidak membebani pikiran maupun fisik anak tersebut selama menjalani ibadah.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait