Menabung Rp 10-25 Ribu per Hari, Nenek Penjual Cilok di Pasuruan Akhirnya Berangkat Haji

METROTODAY, SURABAYA – Perjuangan dan ketekunan luar biasa ditunjukkan oleh Mislicha, 85, nenek penjual cilok keliling asal Pasuruan. Setelah puluhan tahun menyisihkan uang receh dari hasil dagangannya, impiannya menunaikan ibadah haji akhirnya terwujud. Ia kini telah tiba di Asrama Haji, Surabaya, siap berangkat menuju Tanah Suci.

Mislicha tercatat sebagai calon jemaah haji tertua dari Kota Pasuruan pada musim ini. Ia datang didampingi oleh putrinya, Mariatul Qibtiyah, dan tergabung dalam Kloter 10 Embarkasi Surabaya yang telah terbang menuju Madinah, Jumat (25/4).

Kisah inspiratif ini bermula dari kedisiplinan nenek yang telah memiliki 22 cucu ini. Selama puluhan tahun, setiap harinya ia keliling menjajakan cilok di Kelurahan Bugul Kidul.

WhatsApp Image 2026-04-24 at 18.18.18
Mislichah saat menjajajakan cilok keliling kampung. (Foto: Istimewa)

Meski penghasilan tidak menentu, ia selalu disiplin menyisihkan uang sebesar Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu untuk ditabung.

“Saya sangat bersyukur akhirnya bisa berangkat haji. Dari dulu menabung sedikit demi sedikit dari jualan cilok, semoga ibadah saya nanti lancar dan sehat sampai pulang,” ujar Mislicha

Selain menabung setiap hari, ia juga giat mengikuti arisan di lingkungan tempat tinggalnya guna mengumpulkan dana pemberangkatan. Pada tahun 2017, dengan total tabungan dan uang arisan mencapai Rp 125 juta, Mislicha dan putrinya resmi mendaftarkan diri.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 2020, seluruh biaya haji berhasil dilunasi. Sejak saat itu, mereka hanya tinggal menunggu giliran panggilan keberangkatan yang kini akhirnya tiba setelah penantian panjang.

Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mewujudkan niat suci, asalkan disertai dengan kesabaran, kedisiplinan, dan niat yang tulus. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Perjuangan dan ketekunan luar biasa ditunjukkan oleh Mislicha, 85, nenek penjual cilok keliling asal Pasuruan. Setelah puluhan tahun menyisihkan uang receh dari hasil dagangannya, impiannya menunaikan ibadah haji akhirnya terwujud. Ia kini telah tiba di Asrama Haji, Surabaya, siap berangkat menuju Tanah Suci.

Mislicha tercatat sebagai calon jemaah haji tertua dari Kota Pasuruan pada musim ini. Ia datang didampingi oleh putrinya, Mariatul Qibtiyah, dan tergabung dalam Kloter 10 Embarkasi Surabaya yang telah terbang menuju Madinah, Jumat (25/4).

Kisah inspiratif ini bermula dari kedisiplinan nenek yang telah memiliki 22 cucu ini. Selama puluhan tahun, setiap harinya ia keliling menjajakan cilok di Kelurahan Bugul Kidul.

WhatsApp Image 2026-04-24 at 18.18.18
Mislichah saat menjajajakan cilok keliling kampung. (Foto: Istimewa)

Meski penghasilan tidak menentu, ia selalu disiplin menyisihkan uang sebesar Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu untuk ditabung.

“Saya sangat bersyukur akhirnya bisa berangkat haji. Dari dulu menabung sedikit demi sedikit dari jualan cilok, semoga ibadah saya nanti lancar dan sehat sampai pulang,” ujar Mislicha

Selain menabung setiap hari, ia juga giat mengikuti arisan di lingkungan tempat tinggalnya guna mengumpulkan dana pemberangkatan. Pada tahun 2017, dengan total tabungan dan uang arisan mencapai Rp 125 juta, Mislicha dan putrinya resmi mendaftarkan diri.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 2020, seluruh biaya haji berhasil dilunasi. Sejak saat itu, mereka hanya tinggal menunggu giliran panggilan keberangkatan yang kini akhirnya tiba setelah penantian panjang.

Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mewujudkan niat suci, asalkan disertai dengan kesabaran, kedisiplinan, dan niat yang tulus. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait