METROTODAY, SURABAYA – Perjuangan luar biasa ditunjukkan oleh pasangan suami istri (pasutri) lanjut usia (lansia) asal Sedati, Sidoarjo, yakni Mochammad Nurhasan, 76, dan Dawama, 73.
Meski sehari-hari hanya berjualan bubur sumsum dan lontong balap di depan rumah, keduanya berhasil mewujudkan mimpi untuk berangkat ke tanah suci dari hasil tabungan yang unik, yakni disimpan di dalam tas kresek.
Ketekunan Dawama dalam menyisihkan hasil jualan sangatlah sederhana. Tanpa rasa takut akan kehilangan, ia melipat uang hasil keringatnya dan menyimpannya di dalam lemari hanya dengan dibungkus tas kresek.
“Ditaruh kresek, mboten ditaruh napa-napa (tidak ditaruh apa-apa). Taruh tas kresek, nggih dilempit (dilipat), dekek (taruh) lemari,” ungkap Dawama, Kamis (7/5).
Uang yang terkumpul dalam tas kresek tersebut akhirnya mencapai Rp 55 juta, yang kemudian digunakan untuk mendaftar haji pada tahun 2012.
Karena keterbatasan dalam menghitung uang yang begitu banyak, ia meminta bantuan anak-anaknya.
“Seket lima juta (Rp 55 Juta). Buka dewe kulo mboten saged ngitung duwit (buka sendiri saya tidak bisa menghitung uang). Yogane sing kulo kengken (Anak yang saya suruh hitung),” ungkapnya.
Pasangan ini telah berjualan selama kurang lebih 30 tahun. Setiap hari, mereka bahu-membahu melayani pembeli mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Nurhasan bertugas menyiapkan bubur dan melayani pelanggan, sementara Dawama bagian memasak.
Meski usia sudah melampaui kepala tujuh, mereka mengaku tidak merasa lelah karena prinsip mereka adalah terus bergerak.
Pendapatan kotor harian mereka berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 800 ribu, dengan keuntungan bersih rata-rata Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per hari, yang kemudian disisihkan untuk tabungan haji dan arisan.
Keberhasilan pasangan penjual lontong ini mendaftar haji sempat membuat para tetangga kaget. Banyak yang tidak percaya bahwa profesi penjual bubur bisa mengumpulkan biaya haji hingga ada yang mengira mereka mendapatkan harta warisan.
“Iya kaget sedanten (semua). Saya itu sering ditanya dapat warisan dari mana? Enggak dapat warisan dari mana-mana, asal kerja. Wong orang tua saya itu enggak punya apa-apa,” jelas Nurhasan.
Selain bekerja keras, pasangan ini juga dikenal religius dengan rutin bersalawat dan sering melakukan ziarah ke Wali Songo.
Kini, setelah menunggu sekitar 14 tahun sejak pendaftaran, mereka tengah mempersiapkan diri untuk pelunasan dan keberangkatan dengan menjaga pola makan seadanya namun tetap sehat.
Keduanya tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 53 dan terbang ke tanah suci, Rabu (6/5). (ahm)

