Pihak perempuan begitu cerdas, ia tak menanggapi agar tak memunculkan bahan yang bisa diperdebatkan. Sedangkan pihak laki-laki terus mengumbar narasi menyudutkan. Yang bila salah kelola bisa menimbulkan kesalahan atau bias persepsi.
Dunia digital saat ini juga mengalami perkembangan berbeda. Simpati publik muncul di saat salah satu pihak tertekan. Maklum saja, ketika narasi menyudutkan terus diembuskan, maka algoritma media digital terus berupaya menyuplai informasi serupa dan mendukung. Jadilah, yang terjadi seperti perundungan digital.
Hal lain, pihak perempuan diuntungkan momen. Itu terlihat bagaimana publik menangkap suasana batin seorang ibu yang lama terpisah dari anaknya. Air matanya dihasilkan dari tangis otentik yang muncul dari naluri seorang perempuan yang sedang disungkemi anak laki lakinya saat menikah. Disitulah emosi publik terbentuk. Serangan verbal justru jadi bentuk perlawanan terhadap emosi publik yang tengah galau.
Kendati ramai di mana-mana, perempuan tadi tetap diam. Ia tampaknya sedang memainkan “strategi” bahwa tanpa berkata kata, sebuah isu akan sampai pada titik jenuh alami. (*)
Timnas Meksiko memastikan diri menjadi negara pertama yang melaju ke babak 32 besar Piala Dunia…
Timnas Kanada akhirnya meraih kemenangan pertama dalam sejarah Piala Dunia setelah menggilas Qatar dengan skor…
Piala Dunia 2026 menghadirkan banyak inovasi baru, bukan hanya dari format 48 peserta, tetapi juga…
Timnas Swiss menunjukkan kelasnya sebagai unggulan Grup B Piala Dunia 2026 setelah membungkam Bosnia-Herzegovina dengan…
Timnas Ceko harus puas berbagi angka dengan Afrika Selatan setelah bermain imbang-1-1 pada laga kedua…
Piala Dunia 2026 akan membawa jutaan penggemar sepak bola ke berbagai kota di Amerika Serikat.…
This website uses cookies.