Pihak perempuan begitu cerdas, ia tak menanggapi agar tak memunculkan bahan yang bisa diperdebatkan. Sedangkan pihak laki-laki terus mengumbar narasi menyudutkan. Yang bila salah kelola bisa menimbulkan kesalahan atau bias persepsi.
Dunia digital saat ini juga mengalami perkembangan berbeda. Simpati publik muncul di saat salah satu pihak tertekan. Maklum saja, ketika narasi menyudutkan terus diembuskan, maka algoritma media digital terus berupaya menyuplai informasi serupa dan mendukung. Jadilah, yang terjadi seperti perundungan digital.
Hal lain, pihak perempuan diuntungkan momen. Itu terlihat bagaimana publik menangkap suasana batin seorang ibu yang lama terpisah dari anaknya. Air matanya dihasilkan dari tangis otentik yang muncul dari naluri seorang perempuan yang sedang disungkemi anak laki lakinya saat menikah. Disitulah emosi publik terbentuk. Serangan verbal justru jadi bentuk perlawanan terhadap emosi publik yang tengah galau.
Kendati ramai di mana-mana, perempuan tadi tetap diam. Ia tampaknya sedang memainkan “strategi” bahwa tanpa berkata kata, sebuah isu akan sampai pada titik jenuh alami. (*)
Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya menerapkan skema baru dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun…
Insiden kecelakaan yang menimpa jemaah haji kloter 2 Embarkasi Surabaya asal Kabupaten Probolinggo saat mengikuti…
Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak berhasil menangkap pelaku pembunuhan berinisial Hk, 44 di Jalan Kalimas,…
Suasana tenang Desa Buncitan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, mendadak berubah duka setelah Kepala Desa setempat,…
Suasana duka menyelimuti Desa Buncitan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Minggu (3/4/2026). Kepala Desa setempat, Mujiono,…
Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa…
This website uses cookies.