Dilarang Wali Kota, SDN Manukan Wetan IV Surabaya Nekat Pungli Siswa Rp300 Ribu untuk Perpisahan

METROTODAY, SURABAYA - Praktik dugaan pungutan liar (pungli) masih terjadi di lingkungan sekolah negeri Surabaya.

Kali ini muncul laporan terkait permintaan iuran sebesar Rp 300 ribu kepada para wali murid SDN Manukan Wetan IV yang diklaim untuk keperluan tasyakuran perpisahan siswa serta pembelian seragam batik bagi para guru. Laporan tersebut masuk melalui saluran Hotline Lapor Cak Eri.

Mendapatkan laporan itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi segera memberikan instruksi kepada Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Febrina Kusumawati untuk datang langsung ke sekolah terkait.

“Saya sudah menginstruksikan Kepala Dispendik Surabaya, Bu Febri, untuk mendatangi SDN Manukan Wetan IV. Ada laporan bahwa orang tua atau wali murid diminta iuran untuk membeli batik bagi guru‑guru saat acara perpisahan,” terang Eri, Sabtu (30/10).

Eri menegaskan seluruh kepala sekolah SD maupun SMP negeri di Surabaya tidak boleh menyelenggarakan acara perpisahan yang berlebihan apalagi sampai membebani orang tua murid.

Menurutnya, kegiatan kelulusan cukup diadakan secara sederhana di lingkungan sekolah. “Jika ingin mengadakan kegiatan, cukup dengan tasyakuran sederhana, seperti makan tumpeng bersama di sekolah, tanpa memberatkan orang tua murid,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari kemeriahan acara seremonial, melainkan dari manfaat ilmu yang diterima siswa.

“Hal yang paling penting ketika anak‑anak lulus adalah ilmu yang mereka peroleh bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya, bukan perayaannya,” katanya.

Eri turut mengingatkan para orang tua murid untuk menjaga kerukunan di lingkungan sekolah. Ia meminta agar perbedaan pendapat tidak menjadi pemicu perundungan atau perselisihan di grup percakapan daring.

“Saya juga memohon kepada para orang tua. Jika ada sesama orang tua yang tidak sependapat dengan ide atau usulan anda, jangan sampai melakukan perundungan atau saling menyindir di grup WhatsApp, apalagi sampai menjadikan siswa sebagai korban,” tegasnya.

Ia berharap para orang tua lebih fokus mendampingi proses belajar anak‑anak daripada terlalu mempermasalahkan kegiatan seremonial kelulusan.

“Cukup doakan anak‑anak, dampingi mereka agar terus semangat belajar. Insyaallah, anak‑anak tersebut akan selalu membahagiakan anda,” imbuhnya.

Kadispendik Surabaya Febrina Kusumawati menyatakan telah datang langsung ke SDN Manukan Wetan IV untuk menegur kepala sekolah sekaligus meluruskan persoalan pungutan tersebut. Ia menegaskan sekolah harus mengutamakan pelayanan kepada peserta didik tanpa membebani orang tua melalui pungutan yang tidak jelas tujuan.

“Sudah saya luruskan, sudah saya sampaikan dan saya tegur kepala sekolahnya. Sudah tidak pakai seperti itu, bagaimana caranya kita benar‑benar bisa menjadi pelayan sekolahannya arek‑arek Suroboyo,” ujar Febri.

Febrina juga mengajak para kepala sekolah untuk lebih terbuka terhadap masukan masyarakat serta memantau dinamika komunikasi antar‑wali murid.

“Kalau ada orang tua murid mengadukan, menyarankan, mengkritik, jangan ditolak. Orang‑orang itu mungkin karena ditolak akhirnya lari (laporan) ke atas, termasuk ke hotline‑nya Pak Wali Kota,” tegas dia.

Secara umum ia menjamin tidak boleh ada lagi pungutan atau urunan yang tidak transparan di seluruh satuan pendidikan negeri Surabaya.

“Saya mau pastikan benar bahwa tidak ada yang namanya urunan‑urunan atau pungutan yang sifatnya tidak clear,” jelas dia.

Selain persoalan pungutan, Febrina meminta semua kepala sekolah baik negeri maupun swasta untuk mengecek kondisi fasilitas sekolah dan memperbaiki kerusakan menggunakan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) sesuai aturan berlaku.

“Saya minta tolong semua kepala sekolah negeri, SD dan swasta, ayo cek kembali semuanya. Semua fasilitas harus baik,” ujar Febri.

Ia berharap kasus di SDN Manukan Wetan IV bisa menjadi pelajaran bagi seluruh sekolah di Surabaya guna meningkatkan kualitas pelayanan serta keterbukaan informasi kepada masyarakat.

“Sekali lagi (saya) minta maaf, mari semuanya berubah. Bapak‑Ibu kepala sekolah, lakukan yang terbaik untuk menjadi pelayan, menjadi pendidik anak‑anak di Kota Surabaya agar semakin luar biasa,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA - Praktik dugaan pungutan liar (pungli) masih terjadi di lingkungan sekolah negeri Surabaya.

Kali ini muncul laporan terkait permintaan iuran sebesar Rp 300 ribu kepada para wali murid SDN Manukan Wetan IV yang diklaim untuk keperluan tasyakuran perpisahan siswa serta pembelian seragam batik bagi para guru. Laporan tersebut masuk melalui saluran Hotline Lapor Cak Eri.

Mendapatkan laporan itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi segera memberikan instruksi kepada Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Febrina Kusumawati untuk datang langsung ke sekolah terkait.

“Saya sudah menginstruksikan Kepala Dispendik Surabaya, Bu Febri, untuk mendatangi SDN Manukan Wetan IV. Ada laporan bahwa orang tua atau wali murid diminta iuran untuk membeli batik bagi guru‑guru saat acara perpisahan,” terang Eri, Sabtu (30/10).

Eri menegaskan seluruh kepala sekolah SD maupun SMP negeri di Surabaya tidak boleh menyelenggarakan acara perpisahan yang berlebihan apalagi sampai membebani orang tua murid.

Menurutnya, kegiatan kelulusan cukup diadakan secara sederhana di lingkungan sekolah. “Jika ingin mengadakan kegiatan, cukup dengan tasyakuran sederhana, seperti makan tumpeng bersama di sekolah, tanpa memberatkan orang tua murid,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari kemeriahan acara seremonial, melainkan dari manfaat ilmu yang diterima siswa.

“Hal yang paling penting ketika anak‑anak lulus adalah ilmu yang mereka peroleh bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya, bukan perayaannya,” katanya.

Eri turut mengingatkan para orang tua murid untuk menjaga kerukunan di lingkungan sekolah. Ia meminta agar perbedaan pendapat tidak menjadi pemicu perundungan atau perselisihan di grup percakapan daring.

“Saya juga memohon kepada para orang tua. Jika ada sesama orang tua yang tidak sependapat dengan ide atau usulan anda, jangan sampai melakukan perundungan atau saling menyindir di grup WhatsApp, apalagi sampai menjadikan siswa sebagai korban,” tegasnya.

Ia berharap para orang tua lebih fokus mendampingi proses belajar anak‑anak daripada terlalu mempermasalahkan kegiatan seremonial kelulusan.

“Cukup doakan anak‑anak, dampingi mereka agar terus semangat belajar. Insyaallah, anak‑anak tersebut akan selalu membahagiakan anda,” imbuhnya.

Kadispendik Surabaya Febrina Kusumawati menyatakan telah datang langsung ke SDN Manukan Wetan IV untuk menegur kepala sekolah sekaligus meluruskan persoalan pungutan tersebut. Ia menegaskan sekolah harus mengutamakan pelayanan kepada peserta didik tanpa membebani orang tua melalui pungutan yang tidak jelas tujuan.

“Sudah saya luruskan, sudah saya sampaikan dan saya tegur kepala sekolahnya. Sudah tidak pakai seperti itu, bagaimana caranya kita benar‑benar bisa menjadi pelayan sekolahannya arek‑arek Suroboyo,” ujar Febri.

Febrina juga mengajak para kepala sekolah untuk lebih terbuka terhadap masukan masyarakat serta memantau dinamika komunikasi antar‑wali murid.

“Kalau ada orang tua murid mengadukan, menyarankan, mengkritik, jangan ditolak. Orang‑orang itu mungkin karena ditolak akhirnya lari (laporan) ke atas, termasuk ke hotline‑nya Pak Wali Kota,” tegas dia.

Secara umum ia menjamin tidak boleh ada lagi pungutan atau urunan yang tidak transparan di seluruh satuan pendidikan negeri Surabaya.

“Saya mau pastikan benar bahwa tidak ada yang namanya urunan‑urunan atau pungutan yang sifatnya tidak clear,” jelas dia.

Selain persoalan pungutan, Febrina meminta semua kepala sekolah baik negeri maupun swasta untuk mengecek kondisi fasilitas sekolah dan memperbaiki kerusakan menggunakan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) sesuai aturan berlaku.

“Saya minta tolong semua kepala sekolah negeri, SD dan swasta, ayo cek kembali semuanya. Semua fasilitas harus baik,” ujar Febri.

Ia berharap kasus di SDN Manukan Wetan IV bisa menjadi pelajaran bagi seluruh sekolah di Surabaya guna meningkatkan kualitas pelayanan serta keterbukaan informasi kepada masyarakat.

“Sekali lagi (saya) minta maaf, mari semuanya berubah. Bapak‑Ibu kepala sekolah, lakukan yang terbaik untuk menjadi pelayan, menjadi pendidik anak‑anak di Kota Surabaya agar semakin luar biasa,” pungkasnya. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait