Pakar Hidrodinamika ITS: Desain KM Virgo Transport 8 Diduga Tidak Sesuai Perairan Indonesia

METROTODAY, SURABAYA – Insiden terbaliknya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, tepatnya di kawasan Kepulauan Masalembo pada Minggu (13/9), kini mengarahkan sorotan publik pada aspek teknis dan kesesuaian desain kapal yang beroperasi di wilayah Indonesia.

Pakar Hidrodinamika sekaligus Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa kesesuaian rancangan kapal dengan karakteristik perairan setempat menjadi kunci utama keselamatan pelayaran.

Menurutnya, dalam dunia perkapalan, aspek perancangan kemampuan kapal menghadapi gelombang laut atau seakeeping sering kali terabaikan. Padahal, hal ini sangat krusial.

Pengabaian tersebut kerap menyebabkan masalah stabilitas dan kenyamanan gerak kapal saat beroperasi, terutama bagi kapal‑kapal yang berlayar di perairan nusantara.

KM Virgo Transport 8 yang terlibat dalam insiden ini diketahui merupakan kapal bekas impor asal Jepang dengan usia pemakaian sekitar 30 tahun.

Namun, pakar yang akrab disapa IKAP ini menegaskan bahwa usia kapal bukanlah faktor utama penyebab kecelakaan selama perawatan rutin dilakukan dengan baik dan benar.

“Yang perlu dikritisi adalah apakah desain kapal buatan Jepang itu sesuai dan direkomendasikan untuk berlayar di lautan Indonesia dengan gelombang tinggi,” tuturnya, Selasa (15/9).

Ia menjelaskan, kondisi geografis dan karakteristik laut Jepang sangat berbeda dengan Indonesia. Jepang dikelilingi laut yang relatif tertutup dan jarak antarpulau berdekatan, sehingga gelombang yang muncul cenderung lebih kecil.

Sebaliknya, perairan Indonesia luas dan terbuka, dengan gelombang besar yang sering terjadi, termasuk di wilayah Laut Jawa. Perbedaan ini menuntut standar desain lambung kapal yang berbeda dan lebih tangguh.

“Karakteristik rute pelayaran yang ekstrem ini menuntut standar desain lambung kapal yang berbeda,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kapal jenis feri Ro‑Ro (Roll‑on/Roll‑off) buatan negara beriklim empat musim umumnya dirancang dengan lambung tertutup rapat.

Desain ini dibuat untuk menahan cuaca dingin dan ekstrem di wilayah asalnya, namun belum tentu cocok diterapkan di wilayah tropis seperti Indonesia.

Untuk kondisi perairan Indonesia, kapal seharusnya memiliki bukaan pada sisi lambungnya.

Selain untuk kebutuhan ventilasi dan efisiensi energi, desain ini juga berfungsi mengurangi volume ruang tertutup yang berisiko mengganggu keseimbangan kapal.

“Desain seperti itu juga berfungsi mengurangi beban pajak ruang tertutup (enclosed space) yang berisiko bagi stabilitas kapal saat berlayar,” paparnya.

Dari sisi penyebab teknis terjadinya insiden, IKAP mengemukakan dugaan kuat adanya masuknya air laut dalam jumlah besar ke bagian dalam kapal.

Hal ini bisa dipicu oleh cuaca buruk, tinggi gelombang, atau ketidaksempurnaan penutupan pintu muat yang tidak kedap air.

Air yang masuk menumpuk di geladak dan tidak dapat dibuang dengan cepat karena sistem pemompaan yang kurang memadai akan menimbulkan efek permukaan bebas atau sloshing effect.

Kondisi ini membuat kapal bergoyang tidak beraturan dan kehilangan keseimbangan.

Risiko ini menjadi jauh lebih besar jika kendaraan yang dimuat tidak diikat dengan kuat, sehingga bergeser saat kapal bergoyang dan mengubah titik berat secara tiba‑tiba.

“Risiko ini semakin diperparah jika kendaraan yang dimuat tidak diikat dengan benar, sehingga bergeser dan mengubah titik pusat massa kapal secara drastis,” ungkapnya.

Selain masalah teknis kapal, tingginya angka korban jiwa dalam insiden ini juga dikaitkan dengan lemahnya pemahaman keselamatan di kalangan penumpang.

Standar keselamatan yang ideal mewajibkan awak kapal memberikan pengenalan prosedur darurat dan arahan keselamatan sebelum keberangkatan, agar setiap penumpang tahu apa yang harus dilakukan saat bahaya datang.

“Hal ini krusial untuk memastikan penumpang memahami langkah evakuasi mandiri guna mengantisipasi situasi darurat di tengah laut yang tidak terduga,” ujarnya mengingatkan.

Penjelasan mendalam dari Kepala Pusat Studi Sains dan Teknologi Kelautan‑Kebumian ITS ini diharapkan menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan pelayaran nasional. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Insiden terbaliknya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, tepatnya di kawasan Kepulauan Masalembo pada Minggu (13/9), kini mengarahkan sorotan publik pada aspek teknis dan kesesuaian desain kapal yang beroperasi di wilayah Indonesia.

Pakar Hidrodinamika sekaligus Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa kesesuaian rancangan kapal dengan karakteristik perairan setempat menjadi kunci utama keselamatan pelayaran.

Menurutnya, dalam dunia perkapalan, aspek perancangan kemampuan kapal menghadapi gelombang laut atau seakeeping sering kali terabaikan. Padahal, hal ini sangat krusial.

Pengabaian tersebut kerap menyebabkan masalah stabilitas dan kenyamanan gerak kapal saat beroperasi, terutama bagi kapal‑kapal yang berlayar di perairan nusantara.

KM Virgo Transport 8 yang terlibat dalam insiden ini diketahui merupakan kapal bekas impor asal Jepang dengan usia pemakaian sekitar 30 tahun.

Namun, pakar yang akrab disapa IKAP ini menegaskan bahwa usia kapal bukanlah faktor utama penyebab kecelakaan selama perawatan rutin dilakukan dengan baik dan benar.

“Yang perlu dikritisi adalah apakah desain kapal buatan Jepang itu sesuai dan direkomendasikan untuk berlayar di lautan Indonesia dengan gelombang tinggi,” tuturnya, Selasa (15/9).

Ia menjelaskan, kondisi geografis dan karakteristik laut Jepang sangat berbeda dengan Indonesia. Jepang dikelilingi laut yang relatif tertutup dan jarak antarpulau berdekatan, sehingga gelombang yang muncul cenderung lebih kecil.

Sebaliknya, perairan Indonesia luas dan terbuka, dengan gelombang besar yang sering terjadi, termasuk di wilayah Laut Jawa. Perbedaan ini menuntut standar desain lambung kapal yang berbeda dan lebih tangguh.

“Karakteristik rute pelayaran yang ekstrem ini menuntut standar desain lambung kapal yang berbeda,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kapal jenis feri Ro‑Ro (Roll‑on/Roll‑off) buatan negara beriklim empat musim umumnya dirancang dengan lambung tertutup rapat.

Desain ini dibuat untuk menahan cuaca dingin dan ekstrem di wilayah asalnya, namun belum tentu cocok diterapkan di wilayah tropis seperti Indonesia.

Untuk kondisi perairan Indonesia, kapal seharusnya memiliki bukaan pada sisi lambungnya.

Selain untuk kebutuhan ventilasi dan efisiensi energi, desain ini juga berfungsi mengurangi volume ruang tertutup yang berisiko mengganggu keseimbangan kapal.

“Desain seperti itu juga berfungsi mengurangi beban pajak ruang tertutup (enclosed space) yang berisiko bagi stabilitas kapal saat berlayar,” paparnya.

Dari sisi penyebab teknis terjadinya insiden, IKAP mengemukakan dugaan kuat adanya masuknya air laut dalam jumlah besar ke bagian dalam kapal.

Hal ini bisa dipicu oleh cuaca buruk, tinggi gelombang, atau ketidaksempurnaan penutupan pintu muat yang tidak kedap air.

Air yang masuk menumpuk di geladak dan tidak dapat dibuang dengan cepat karena sistem pemompaan yang kurang memadai akan menimbulkan efek permukaan bebas atau sloshing effect.

Kondisi ini membuat kapal bergoyang tidak beraturan dan kehilangan keseimbangan.

Risiko ini menjadi jauh lebih besar jika kendaraan yang dimuat tidak diikat dengan kuat, sehingga bergeser saat kapal bergoyang dan mengubah titik berat secara tiba‑tiba.

“Risiko ini semakin diperparah jika kendaraan yang dimuat tidak diikat dengan benar, sehingga bergeser dan mengubah titik pusat massa kapal secara drastis,” ungkapnya.

Selain masalah teknis kapal, tingginya angka korban jiwa dalam insiden ini juga dikaitkan dengan lemahnya pemahaman keselamatan di kalangan penumpang.

Standar keselamatan yang ideal mewajibkan awak kapal memberikan pengenalan prosedur darurat dan arahan keselamatan sebelum keberangkatan, agar setiap penumpang tahu apa yang harus dilakukan saat bahaya datang.

“Hal ini krusial untuk memastikan penumpang memahami langkah evakuasi mandiri guna mengantisipasi situasi darurat di tengah laut yang tidak terduga,” ujarnya mengingatkan.

Penjelasan mendalam dari Kepala Pusat Studi Sains dan Teknologi Kelautan‑Kebumian ITS ini diharapkan menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan pelayaran nasional. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait