Lewat Zine Spatial Spiritual, Rusydan Hadid Baca Realitas Pesisir Kenjeran Surabaya Melalui Sastra

METROTODAY, SURABAYA – Memahami realitas sosial tidak selalu harus dimulai dari penelitian lapangan. Bagi Rusydan Hadid, karya sastra justru menjadi pintu masuk untuk membaca berbagai persoalan yang kemudian dituangkannya ke dalam zine berjudul Spatial Spiritual. Melalui perpaduan tulisan dan dokumentasi visual, karya tersebut mengangkat dinamika kehidupan masyarakat pesisir Kenjeran, Surabaya.

Kini tengah menempuh pendidikan pascasarjana di University of Edinburgh, Rusydan mengungkapkan bahwa zine ini lahir dari kebiasaan membaca dan mengkaji karya sastra yang kemudian membawanya mempertanyakan realitas sosial di sekitarnya.

“Kalau berbicara tentang realitas, saya justru dihadapkan dulu dengan karya sastra. Ketika karya itu dikupas, di situlah jembatan utamanya sehingga karya seperti Spatial Spiritual bisa hadir. Karya sastra memantik rasa ingin tahu terhadap persoalan di lapangan dan membuka peluang untuk memahami realitas yang ada di sekitar kita,” tuturnya, Minggu (2/8).

Zine Spatial Spiritual menghadirkan suara anak-anak pesisir sebagai refleksi atas arah pembangunan yang berlangsung di kawasan tempat mereka tumbuh. Cara pandang ini tak lepas dari pengalaman yang membekas saat menempuh perkuliahan, khususnya mata kuliah Ekokritik yang memperkenalkannya pada hubungan antara manusia, lingkungan, dan karya sastra.

Bagi Rusydan, berkarya adalah cara menghidupkan kembali ilmu yang dipelajari di bangku kuliah sekaligus memperdalam pemahaman atas persoalan nyata di lapangan. Ia pun mengajak rekan-rekan lulusan Sastra Indonesia untuk tidak membatasi diri pada karya sastra konvensional semata.

“Apa pun yang dibuat, itu adalah karya. Dengan berkarya saya jadi lebih memahami apa yang saya pelajari. Ketika berkarya, kita juga perlu memiliki sesuatu yang benar-benar kita pedulikan. Dalam zine, saya memilih mengangkat isu masyarakat pesisir Kenjeran karena itu adalah persoalan yang ingin saya pahami lebih dalam,” tuturnya.

Melalui karyanya, Rusydan berharap Spatial Spiritual tak sekadar menjadi media bercerita, tetapi juga mengajak pembaca menyadari berbagai realitas sosial yang kerap luput dari perhatian. Bekal akademik yang diperoleh selama kuliah, menurutnya, dapat menjadi cara untuk membaca realitas sekaligus melahirkan karya yang relevan dengan persoalan masyarakat. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Memahami realitas sosial tidak selalu harus dimulai dari penelitian lapangan. Bagi Rusydan Hadid, karya sastra justru menjadi pintu masuk untuk membaca berbagai persoalan yang kemudian dituangkannya ke dalam zine berjudul Spatial Spiritual. Melalui perpaduan tulisan dan dokumentasi visual, karya tersebut mengangkat dinamika kehidupan masyarakat pesisir Kenjeran, Surabaya.

Kini tengah menempuh pendidikan pascasarjana di University of Edinburgh, Rusydan mengungkapkan bahwa zine ini lahir dari kebiasaan membaca dan mengkaji karya sastra yang kemudian membawanya mempertanyakan realitas sosial di sekitarnya.

“Kalau berbicara tentang realitas, saya justru dihadapkan dulu dengan karya sastra. Ketika karya itu dikupas, di situlah jembatan utamanya sehingga karya seperti Spatial Spiritual bisa hadir. Karya sastra memantik rasa ingin tahu terhadap persoalan di lapangan dan membuka peluang untuk memahami realitas yang ada di sekitar kita,” tuturnya, Minggu (2/8).

Zine Spatial Spiritual menghadirkan suara anak-anak pesisir sebagai refleksi atas arah pembangunan yang berlangsung di kawasan tempat mereka tumbuh. Cara pandang ini tak lepas dari pengalaman yang membekas saat menempuh perkuliahan, khususnya mata kuliah Ekokritik yang memperkenalkannya pada hubungan antara manusia, lingkungan, dan karya sastra.

Bagi Rusydan, berkarya adalah cara menghidupkan kembali ilmu yang dipelajari di bangku kuliah sekaligus memperdalam pemahaman atas persoalan nyata di lapangan. Ia pun mengajak rekan-rekan lulusan Sastra Indonesia untuk tidak membatasi diri pada karya sastra konvensional semata.

“Apa pun yang dibuat, itu adalah karya. Dengan berkarya saya jadi lebih memahami apa yang saya pelajari. Ketika berkarya, kita juga perlu memiliki sesuatu yang benar-benar kita pedulikan. Dalam zine, saya memilih mengangkat isu masyarakat pesisir Kenjeran karena itu adalah persoalan yang ingin saya pahami lebih dalam,” tuturnya.

Melalui karyanya, Rusydan berharap Spatial Spiritual tak sekadar menjadi media bercerita, tetapi juga mengajak pembaca menyadari berbagai realitas sosial yang kerap luput dari perhatian. Bekal akademik yang diperoleh selama kuliah, menurutnya, dapat menjadi cara untuk membaca realitas sekaligus melahirkan karya yang relevan dengan persoalan masyarakat. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait