METROTODAY, SURABAYA – Program Satu Keluarga Satu Sarjana sebagai solusi memperluas akses pendidikan tinggi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Kota Surabaya dan Jatim. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran akan kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang berpotensi menghalangi pelajar melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Program ini dirancang agar keterbatasan ekonomi tidak lagi menjadi penghalang, sekaligus menjadi strategi jangka panjang meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Wakil Ketua ICMI Jawa Timur, M. Isa Ansori, menilai mahalnya biaya UKT kini bukan sekadar masalah tarif, melainkan tantangan nyata bagi keadilan sosial.
“Ketika seorang anak batal kuliah karena faktor ekonomi, yang hilang bukan hanya kesempatan belajar, tetapi juga harapan keluarga, potensi daerah, dan aset bangsa. Pendidikan tinggi seharusnya menjadi jalan mobilitas sosial, bukan menghadirkan hambatan baru,” ujar Isa Ansori, Jumat (10/7).
Menurutnya, kehadiran program Pemkot Surabaya adalah bentuk keberpihakan nyata dalam membangun manusia. Ia memuji pendekatan ini sebagai pembangunan infrastruktur harapan yang setara pentingnya dengan pembangunan fisik.
“Surabaya menunjukkan bahwa investasi terbaik bukan hanya membangun jalan atau gedung, melainkan membangun infrastruktur harapan. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang melahirkan generasi produktif, inovatif, dan berdaya saing,” jelasnya.
Langkah Surabaya dinilai layak menjadi inspirasi daerah lain. Namun keberhasilan program ini tak bisa dibebankan hanya pada pemerintah kota, melainkan butuh sinergi lintas sektor.
Isa mendorong pemerintah pusat mengevaluasi sistem UKT, perguruan tinggi memperbanyak beasiswa dan opsi pembayaran fleksibel, serta dunia usaha, filantropi, dan alumni turut berperan aktif.
ICMI Jawa Timur pun menyatakan kesiapannya berkolaborasi. Isa mengusulkan agar program ini berkembang menjadi gerakan bersama, bahkan melahirkan gagasan Gerakan Seribu Sarjana Jawa Timur. Gerakan ini tidak hanya soal beasiswa, tetapi mencakup pendampingan akademik, pelatihan keterampilan, magang, kewirausahaan, hingga penyaluran kerja.
Pembentukan dana abadi pendidikan melalui pengumpulan wakaf produktif, zakat, infak, sedekah, tanggung jawab sosial perusahaan, dan sumbangan alumni juga dinilai penting demi keberlanjutan dukungan pembiayaan.
“Surabaya telah memulai langkah yang tepat. Kini saatnya seluruh elemen bangsa memperkuatnya, agar tak ada lagi anak yang putus asa melanjutkan pendidikan hanya karena soal biaya. Setiap sarjana yang lahir adalah investasi bagi kemajuan daerah dan masa depan bangsa,” pungkasnya. (ahm)

