METROTODAY, SURABAYA – Mengenakan sepatu bagi penyandang keterbatasan anggota gerak atas atau Upper Limb Deficiency (ULD) sering kali menjadi tantangan tersendiri.
Menjawab kebutuhan yang selama ini kurang terakomodasi, mahasiswi Departemen Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Abigail Kafrell Wijaya, meluncurkan inovasi sepatu modular bernama Authea yang dirancang agar bisa dipakai dan dilepas secara mandiri serta lebih inklusif.
Sepatu ini mengusung sistem lepas-pasang berbasis perekat Velcro yang dioperasikan cukup dengan injakan kaki pada bagian belakang sepatu.
Desainnya terdiri dari dua komponen utama: lapisan luar berfungsi sebagai pelindung dan penyangga bentuk, sedangkan lapisan dalam berbentuk kaus kaki model tabi dengan jempol terpisah yang menjamin kenyamanan sekaligus fleksibilitas.
Bagian dalam ini juga dapat dilepas dan dicuci menggunakan mesin untuk memudahkan perawatan.

Abigail menegaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar menawarkan kebaruan, melainkan upaya mengubah cara pandang dunia desain produk. Menurutnya, rancangan seharusnya tidak hanya berpusat pada kebutuhan mayoritas, tetapi juga menjangkau kelompok yang selama ini terabaikan.
“Produk-produk inovatif seharusnya tidak hanya baru, tetapi menjawab kebutuhan nyata masyarakat dari berbagai latar belakang kemampuan,” ujar Abigail, Selasa (7/7).
Dalam proses pengembangannya, Abigail mengaku menghadapi tantangan saat merealisasikan konsep menjadi prototipe siap pakai. Salah satu kendala terbesar adalah penyesuaian karakter bahan rajut elastis yang berbeda dengan material sepatu konvensional.
“Saya menilai Authea masih memiliki ruang untuk disempurnakan, terutama agar proses produksinya nanti dapat berjalan lebih efisien,” imbuhnya.
Ia berharap karya ini dapat memotivasi mahasiswa ITS lainnya untuk semakin berani berinovasi dengan perspektif yang lebih luas, demi mewujudkan masyarakat yang inklusif.
Semangat ini selaras dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke-10 tentang Berkurangnya Kesenjangan. (ahm)

