Dari Anak Penjual Pecel hingga Sutradara Nasional, Bayu Skak Buktikan Bahasa Daerah Bisa Mendunia

METROTODAY, SURABAYA – Kesuksesan tidak selalu lahir dari ibu kota. Kalimat itu seolah menjadi gambaran perjalanan hidup Bayu Eko Moektito atau yang lebih dikenal sebagai Bayu Skak.

Lahir di Malang, 13 November 1993, Bayu memulai kariernya bukan dari rumah produksi besar atau agensi ternama, melainkan dari kamera sederhana, kamar minimalis, semangat berkarya, dan kecintaannya terhadap bahasa Jawa.

Kini, namanya dikenal sebagai aktor, komedian, penulis skenario, sutradara, sekaligus pendiri Skak Studios yang konsisten mengangkat budaya lokal ke layar lebar.

Di balik pencapaiannya saat ini, Bayu tumbuh dalam keluarga sederhana. Sejak kecil, ia kerap membantu ibunya berjualan nasi pecel. Dalam berbagai kesempatan wawancara, Bayu mengaku sering mendapat julukan “Pecel Boy” dari lingkungan sekitarnya.

Alih-alih berkecil hati, pengalaman itu justru membantu karakter pekerja keras yang kelak menjadi modal penting dalam perjalanan kariernya di industri kreatif.

Ditulis oleh Detik, titik balik kehidupan Bayu dimulai ketika masih duduk di bangku SMK Negeri 4 Malang jurusan animasi. Bersama teman-teman sekolahnya yakni Rengga, Deka, Hisyam, dan Tofa, ia membentuk grup komedi SKAK (Sekumpulan Arek Kesel) pada 2009.

Berbekal kemampuan videografi dan penyuntingan yang dipelajari di sekolah, mereka mulai mengunggah video-video sederhana ke Youtube. Konten berbahasa Jawa Timuran dengan humor khas Jawa Timur itu awalnya hanya beredar di kalangan teman sekolah, sebelum akhirnya menyebar luas melalui media sosial dan menjadi nama baru di dunia kreator digital.

Keberanian Bayu mempertahankan bahasa Jawa ternyata menjadi identitas yang membedakannya dari kreator lain. Di saat banyak pembuat konten memilih menggunakan bahasa Indonesia agar menjangkau pasar nasional, Bayu justru konsisten menggunakan bahasa daerah.

Konsistensi tersebut membuahkan hasil ketika kanal YouTube miliknya menembus jutaan subscriber dan mengantarkannya menerima Youtube Gold Play Button, yang menjadikannya sebagai kreator pertama luar daerah Jakarta yang berhasil membuktikan bahwa karya berkualitas tidak harus lahir dari ibu kota.

Bayu juga pernah mengatakan bahwa tujuannya menggunakan bahasa Jawa adalah agar para kreator dari berbagai daerah tidak merasa minder menunjukkan identitas mereka.

Kesuksesan di dunia digital tidak membuat jalan Bayu menuju perfilman berjalan mulus. Dalam podcast-nya bersama Denny Sumargo, ia mengungkapkan bahwa ide membuat film dengan bahasa Jawa sebagai bahasa utama sempat diragukan. Banyak rumah produksi menilai film semacam itu tidak akan memiliki pasar nasional karena dianggap terlalu melokal.

METROTODAY, SURABAYA – Kesuksesan tidak selalu lahir dari ibu kota. Kalimat itu seolah menjadi gambaran perjalanan hidup Bayu Eko Moektito atau yang lebih dikenal sebagai Bayu Skak.

Lahir di Malang, 13 November 1993, Bayu memulai kariernya bukan dari rumah produksi besar atau agensi ternama, melainkan dari kamera sederhana, kamar minimalis, semangat berkarya, dan kecintaannya terhadap bahasa Jawa.

Kini, namanya dikenal sebagai aktor, komedian, penulis skenario, sutradara, sekaligus pendiri Skak Studios yang konsisten mengangkat budaya lokal ke layar lebar.

Di balik pencapaiannya saat ini, Bayu tumbuh dalam keluarga sederhana. Sejak kecil, ia kerap membantu ibunya berjualan nasi pecel. Dalam berbagai kesempatan wawancara, Bayu mengaku sering mendapat julukan “Pecel Boy” dari lingkungan sekitarnya.

Alih-alih berkecil hati, pengalaman itu justru membantu karakter pekerja keras yang kelak menjadi modal penting dalam perjalanan kariernya di industri kreatif.

Ditulis oleh Detik, titik balik kehidupan Bayu dimulai ketika masih duduk di bangku SMK Negeri 4 Malang jurusan animasi. Bersama teman-teman sekolahnya yakni Rengga, Deka, Hisyam, dan Tofa, ia membentuk grup komedi SKAK (Sekumpulan Arek Kesel) pada 2009.

Berbekal kemampuan videografi dan penyuntingan yang dipelajari di sekolah, mereka mulai mengunggah video-video sederhana ke Youtube. Konten berbahasa Jawa Timuran dengan humor khas Jawa Timur itu awalnya hanya beredar di kalangan teman sekolah, sebelum akhirnya menyebar luas melalui media sosial dan menjadi nama baru di dunia kreator digital.

Keberanian Bayu mempertahankan bahasa Jawa ternyata menjadi identitas yang membedakannya dari kreator lain. Di saat banyak pembuat konten memilih menggunakan bahasa Indonesia agar menjangkau pasar nasional, Bayu justru konsisten menggunakan bahasa daerah.

Konsistensi tersebut membuahkan hasil ketika kanal YouTube miliknya menembus jutaan subscriber dan mengantarkannya menerima Youtube Gold Play Button, yang menjadikannya sebagai kreator pertama luar daerah Jakarta yang berhasil membuktikan bahwa karya berkualitas tidak harus lahir dari ibu kota.

Bayu juga pernah mengatakan bahwa tujuannya menggunakan bahasa Jawa adalah agar para kreator dari berbagai daerah tidak merasa minder menunjukkan identitas mereka.

Kesuksesan di dunia digital tidak membuat jalan Bayu menuju perfilman berjalan mulus. Dalam podcast-nya bersama Denny Sumargo, ia mengungkapkan bahwa ide membuat film dengan bahasa Jawa sebagai bahasa utama sempat diragukan. Banyak rumah produksi menilai film semacam itu tidak akan memiliki pasar nasional karena dianggap terlalu melokal.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait