Abad 16 Okol Ritual Panggil Hujan, Kini Masih Dilestarikan di Surabaya Barat untuk Cegah Perselisihan

METROTODAY, SURABAYA – Olahraga okol atau yang lebih dikenal sebagai gulat tradisional, merupakan salah satu warisan budaya yang telah lama menjadi hiburan sekaligus tradisi masyarakat di kawasan Surabaya Barat, khususnya di daerah Beringin. Uniknya, olahraga ini telah ada dan dijalankan sejak tahun 1500-an atau abad ke-16, dan menjadikannya sebagai salah satu olahraga tertua di Surabaya.

Kini, okol tidak lagi hanya didominasi oleh kaum laki-laki saja. Kaum perempuan hingga anak-anak dan generasi muda juga turut berpartisipasi dalam adu kekuatan untuk saling menjatuhkan lawan di atas arena yang telah disiapkan.

Salah satu warga Beringin, Iswanto, menjelaskan bahwa arena pertandingan dibuat khusus menggunakan alas jerami yang kemudian ditutup dengan terpal. Hal ini bertujuan agar para pegulat yang terbanting ke lantai tidak merasakan sakit atau terhindar dari risiko cedera.

WhatsApp Image 2026-07-05 at 16.21.37
Okol masih lestari di Surabaya Barat, biasanya digelar saat momen sedekah bumi, bahkan juga diikuti kaum perempuan. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

“Dalam setiap pertandingan, para pegulat wajib mengenakan selendang yang diikatkan di bagian perut. Selendang ini berfungsi sebagai pegangan untuk menarik lawan, sedangkan ikat kepala yang dipakai menjadi simbol kejantanan dan semangat seorang pegulat,” terang Iswanto, Minggu (5/7).

Aturan mainnya cukup sederhana: setiap pertandingan diikuti oleh dua orang peserta yang bertarung satu lawan satu. Jika hasilnya seri, pertandingan akan dilanjutkan hingga babak ketiga untuk menentukan pemenang.

Pegulat yang menang berhak mendapatkan hadiah berupa kaus dan uang tunai. Lebih dari sekadar hiburan dan ajang mengadu kekuatan, tradisi ini memiliki makna sosial yang mendalam.

“Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat persatuan dan kesatuan antarwarga. Dengan adanya kegiatan positif seperti ini, diharapkan tidak ada lagi perselisihan atau tawuran yang bisa merugikan banyak pihak,” imbuhnya.

Biasanya, pertandingan okol diselenggarakan secara terbuka dan rutin setahun sekali, tepatnya saat momen perayaan sedekah bumi atau bersih desa. Pesertanya pun terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang asal daerah.

METROTODAY, SURABAYA – Olahraga okol atau yang lebih dikenal sebagai gulat tradisional, merupakan salah satu warisan budaya yang telah lama menjadi hiburan sekaligus tradisi masyarakat di kawasan Surabaya Barat, khususnya di daerah Beringin. Uniknya, olahraga ini telah ada dan dijalankan sejak tahun 1500-an atau abad ke-16, dan menjadikannya sebagai salah satu olahraga tertua di Surabaya.

Kini, okol tidak lagi hanya didominasi oleh kaum laki-laki saja. Kaum perempuan hingga anak-anak dan generasi muda juga turut berpartisipasi dalam adu kekuatan untuk saling menjatuhkan lawan di atas arena yang telah disiapkan.

Salah satu warga Beringin, Iswanto, menjelaskan bahwa arena pertandingan dibuat khusus menggunakan alas jerami yang kemudian ditutup dengan terpal. Hal ini bertujuan agar para pegulat yang terbanting ke lantai tidak merasakan sakit atau terhindar dari risiko cedera.

WhatsApp Image 2026-07-05 at 16.21.37
Okol masih lestari di Surabaya Barat, biasanya digelar saat momen sedekah bumi, bahkan juga diikuti kaum perempuan. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

“Dalam setiap pertandingan, para pegulat wajib mengenakan selendang yang diikatkan di bagian perut. Selendang ini berfungsi sebagai pegangan untuk menarik lawan, sedangkan ikat kepala yang dipakai menjadi simbol kejantanan dan semangat seorang pegulat,” terang Iswanto, Minggu (5/7).

Aturan mainnya cukup sederhana: setiap pertandingan diikuti oleh dua orang peserta yang bertarung satu lawan satu. Jika hasilnya seri, pertandingan akan dilanjutkan hingga babak ketiga untuk menentukan pemenang.

Pegulat yang menang berhak mendapatkan hadiah berupa kaus dan uang tunai. Lebih dari sekadar hiburan dan ajang mengadu kekuatan, tradisi ini memiliki makna sosial yang mendalam.

“Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat persatuan dan kesatuan antarwarga. Dengan adanya kegiatan positif seperti ini, diharapkan tidak ada lagi perselisihan atau tawuran yang bisa merugikan banyak pihak,” imbuhnya.

Biasanya, pertandingan okol diselenggarakan secara terbuka dan rutin setahun sekali, tepatnya saat momen perayaan sedekah bumi atau bersih desa. Pesertanya pun terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang asal daerah.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait