METROTODAY, SURABAYA – Puluhan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur di Jalan Pahlawan, Surabaya.
Mereka menyampaikan sejumlah tuntutan terkait pelemahan nilai tukar rupiah dan kebijakan moneter nasional.
Situasi sempat memanas ketika massa meminta Gubernur BI turun langsung menemui mereka, dan karena permintaan tersebut tidak segera dipenuhi, sejumlah peserta aksi membakar ban di depan gerbang kantor.
Petugas kepolisian yang berjaga segera bergerak cepat memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) agar situasi tidak memburuk.
Sebanyak 102 personel kepolisian dikerahkan untuk mengamankan lokasi dan memastikan ketertiban selama aksi berlangsung.

Koordinator aksi, Muhammad Ivan Akiedozawa, menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam situasi yang harus diwaspadai.
Ia mengingatkan bahwa berbagai program pemerintah yang memerlukan anggaran besar berisiko memicu ketidakstabilan ekonomi jika tidak didukung oleh kebijakan yang tepat dan terukur.
Ivan mengaku kekhawatiran akan potensi terjadinya krisis ekonomi, dan menilai pelemahan nilai tukar rupiah menjadi peringatan serius bagi pemerintah maupun otoritas moneter.
“Krisis moneter ada di depan mata. Jangan sampai bangsa ini kembali mengalami krisis seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Karena itu kami turun untuk mengingatkan dan mengawal kondisi ekonomi nasional,” tegas Ivan, Kamis (11/6).
Ia juga menegaskan bahwa rupiah bukan sekadar alat transaksi, melainkan simbol kedaulatan dan harga diri bangsa.
Oleh karena itu, BI dipandang harus menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas ekonomi negara.
“Rupiah bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kedaulatan bangsa dan harga diri negara. Kami menilai Bank Indonesia harus menjadi benteng utama pertahanan ekonomi nasional,” tuturnya.

