Komitmen Dr Syamsudduha Syahrorini terhadap Lingkungan: Dari Eco Enzyme hingga Aksi Hemat Energi

Bukan pilihan awal untuk belajar ilmu lingkungan, Syamsudduha Syahrorini justru menemukan banyak jalan pengabdian masyarakat. Beriringan dengan ikhtiar mewariskan lingkungan yang lestari untuk generasi mendatang.

=========

”KALAU bumi tidak dijaga, maka azab Allah akan turun.” Peringatan yang ada di dalam Al-Qur’an itu terpatri erat dalam pikiran Dr Syamsudduha Syahrorini MT. Bencana yang kerap terjadi seperti banjir dan tanah longsor, diyakin dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) itu, tidak lepas dari andil manusia.

Rini, sapaan karib Syamsudduha Syahrorini, berpendapat, ada hubungan timbal balik atas apa yang dikerjakan manusia terhadap bumi. Ketika manusia benar-benar mencintai bumi, menjaga lingkungan, alam pun akan bersahabat. Pun sebaliknya.

”Bumi yang kita pijak ini untuk warisan anak cucu. Tidak ada alasan untuk tidak menjaganya demi keberlanjutan kehidupan,” tutur Rini di sela Sharing Session Penerapan 3R (Reduce, Reuse, Recycle): Strategi dan Tantangan di Mini Theater GKB 2 Kampus 1 Umsida, Senin (27/4/2026).

Ikhtiar menjaga bumi itu, kata Rini, bisa dilakukan dari langkah sederhana. Yakni, mengelolaan pengelolaan sampah di rumah. Sampah rumah tangga tidak serta-merta dibuang.

Sampah-sampah organik seperti buah dan sayuran ia manfaatkan menjadi eco enzyme. Cairan fermentasi itu bisa digunakan sebagai pembersih, pupuk, hingga pengendali hama ramah lingkungan.

Membuat eco enzyme itu bisa dilakukan siapa saja. ”Dari dapur rumah kita, ada bahan-bahan yang dianggap tidak terpakai, namun sebenarnya masih bisa diolah,” terang perempuan asli Sidoarjo itu.

Berawal dari Pandemi

”Pertemuan” Rini dengan eco-enzym bermula saat pandemi Covid-19. Pada 2020, nyaris tidak ada kegiatan di kampus. Pembelajaran dilakukan secara daring.

Sebagai seorang akademisi, Rini tidak ingin diam saja. Harus tetap produktif. Dengan latar belakang doktor ilmu lingkungan, dia berpikir, apa yang bisa dilakukan.

Suatu ketika ada webinar yang membahas tentang eco-enzym. Rini tertarik. Pelatihan demi pelatihan diikuti. Dia juga berjejaring. Termasuk dengan Eco Enzyme Nusantara, komunitas yang berdiri pada 2019 untuk mengedukasi dan mempromosikan penggunaan eco enzyme dalam pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan.

Peraih gelar doktor dari Universitas Brawijaya itu kemudian masuk grup komunitas Eco Enzyme Harmoni Surabaya. Gerakannya semakin giat untuk mengajak warga sekitar mengolah sampah organik secara mandiri.

Komunitas itu menggandeng Dinas Lingkung Hidup Provinsi Jatim. ”Waktu itu kami juga beri pelatihan dan webinar dengan desa/kelurahan se-Jatim,” ungkapnya.

Rini terus aktif sebagai pegiat lingkungan. Meski intensitas di komunitas eco enzyme berkurang, kampanye lingkungan itu dia bawa ke dunia akademis. Juga, ke ranah organisasi.

Kebetulan, Rini mengemban dua tugas yang beririsan. Di kampus, dia didapuk sebagai ketua Pusat Studi Lingkungan dan Smart City (PSLSC). Di ‘Aisyiyah, Rini mendapat amanah sebagai ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PDA Sidoarjo.

Dua tugas itu memungkinkan dirinya untuk mengolaborasikan materi-materi tentang lingkungan. Sebagai dosen, berbagai penelitian dan pengabdian masyarakat (abdimas) dilakukan. Misalnya, pencacah sampah dan pengolahan sampah anorganik.

”Bahkan, pusat studi kami juga menggandeng PD NA (Nasyiatul Aisyiyah) memberikan workshop tentang eco enzym dan eco brick,” jelasnya. Sosialisasi di ’Aisyiyah pun sudah banyak.

Gagal Masuk Kedokteran

Ilmu lingkungan sejatinya bukan pilihan utama Rini dalam menempuh studi doktor. Keinginan awalnya adalah masuk Fakultas Kedokteran. Dengan latar belakang S1 Teknik Elektro di Universitas Muhammadiyah Malang, kemudian berlanjut dengan S2 Sistem Kontrol di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dia bisa memanfaatkannya untuk berkontribusi di dunia medik.

Namun, garis tangan berkata lain. Rini tidak lolos ke Fakultas Kedokteran meski pengajuan beasiswanya diterima. ”Dan yang bisa menerima adalah ilmu lingkungan Universitas Brawijaya,” ucap Rini sembari tersenyum.

Perempuan kelahiran 1970 itu sempat berpikir berada di zona tidak aman. Mengapa? Ya, tidak lain korelasi antara latar belakang studi S1-S2 dengan jurusan yang akan ditempuh pada jenjang doktoral. ”Saya cari apa yang kiranya bisa berkaitan dengan lingkungan,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, Rini justru menemukan banyak jalan pengabdian masyarakat. Banyak hal yang terbuka. Banyak yang berkorelasi. Lingkungan juga berkaitan dengan sistem kontrol dan kesehatan. Pada titik itu, Rini berkesimpulan: semua ilmu itu nge-link.

Saat ini misalnya, Rini tengah riset desertasi yang berhubungan dengan pabrik gula Candi. Dia meneliti cerobong berbahan bakar bagase. ”Apa benar ramah lingkungan? Saya buat alat ukur kualitas udara. Itu bisa juga diterapkan di kandang dan sebagainya,” paparnya.

Sebagai dosen Prodi Teknik Elektro, Rini turut mengampanyekan hemat energi. Mengembangkan aplikasi prediksi konsumsi listrik berbasis Python, memperkenalkan penggunaan lampu LED, pengaturan suhu pendingin ruangan, hingga simulasi perhitungan kilowatt-hour. Tidak hanya kepada mahasiswa, tetapi juga melalui wadah organisasi ’Aisyiyah.

Sebagai pegiat lingkungan, langkah Rini pun tidak berhenti. Ia menginisiasi konsep Green Masjid. Ada pengolahan sampah menjadi eco enzyme dan eco brick, budidaya ikan dalam ember terintegrasi tanaman hidroponik, hingga kampanye pengumpulan minyak jelantah.

”Banyak hal yang bisa kita awali dari rumah untuk kelestarian lingkungan kita. Untuk anak cucu,” tandasnya. (*)

Bukan pilihan awal untuk belajar ilmu lingkungan, Syamsudduha Syahrorini justru menemukan banyak jalan pengabdian masyarakat. Beriringan dengan ikhtiar mewariskan lingkungan yang lestari untuk generasi mendatang.

=========

”KALAU bumi tidak dijaga, maka azab Allah akan turun.” Peringatan yang ada di dalam Al-Qur’an itu terpatri erat dalam pikiran Dr Syamsudduha Syahrorini MT. Bencana yang kerap terjadi seperti banjir dan tanah longsor, diyakin dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) itu, tidak lepas dari andil manusia.

Rini, sapaan karib Syamsudduha Syahrorini, berpendapat, ada hubungan timbal balik atas apa yang dikerjakan manusia terhadap bumi. Ketika manusia benar-benar mencintai bumi, menjaga lingkungan, alam pun akan bersahabat. Pun sebaliknya.

”Bumi yang kita pijak ini untuk warisan anak cucu. Tidak ada alasan untuk tidak menjaganya demi keberlanjutan kehidupan,” tutur Rini di sela Sharing Session Penerapan 3R (Reduce, Reuse, Recycle): Strategi dan Tantangan di Mini Theater GKB 2 Kampus 1 Umsida, Senin (27/4/2026).

Ikhtiar menjaga bumi itu, kata Rini, bisa dilakukan dari langkah sederhana. Yakni, mengelolaan pengelolaan sampah di rumah. Sampah rumah tangga tidak serta-merta dibuang.

Sampah-sampah organik seperti buah dan sayuran ia manfaatkan menjadi eco enzyme. Cairan fermentasi itu bisa digunakan sebagai pembersih, pupuk, hingga pengendali hama ramah lingkungan.

Membuat eco enzyme itu bisa dilakukan siapa saja. ”Dari dapur rumah kita, ada bahan-bahan yang dianggap tidak terpakai, namun sebenarnya masih bisa diolah,” terang perempuan asli Sidoarjo itu.

Berawal dari Pandemi

”Pertemuan” Rini dengan eco-enzym bermula saat pandemi Covid-19. Pada 2020, nyaris tidak ada kegiatan di kampus. Pembelajaran dilakukan secara daring.

Sebagai seorang akademisi, Rini tidak ingin diam saja. Harus tetap produktif. Dengan latar belakang doktor ilmu lingkungan, dia berpikir, apa yang bisa dilakukan.

Suatu ketika ada webinar yang membahas tentang eco-enzym. Rini tertarik. Pelatihan demi pelatihan diikuti. Dia juga berjejaring. Termasuk dengan Eco Enzyme Nusantara, komunitas yang berdiri pada 2019 untuk mengedukasi dan mempromosikan penggunaan eco enzyme dalam pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan.

Peraih gelar doktor dari Universitas Brawijaya itu kemudian masuk grup komunitas Eco Enzyme Harmoni Surabaya. Gerakannya semakin giat untuk mengajak warga sekitar mengolah sampah organik secara mandiri.

Komunitas itu menggandeng Dinas Lingkung Hidup Provinsi Jatim. ”Waktu itu kami juga beri pelatihan dan webinar dengan desa/kelurahan se-Jatim,” ungkapnya.

Rini terus aktif sebagai pegiat lingkungan. Meski intensitas di komunitas eco enzyme berkurang, kampanye lingkungan itu dia bawa ke dunia akademis. Juga, ke ranah organisasi.

Kebetulan, Rini mengemban dua tugas yang beririsan. Di kampus, dia didapuk sebagai ketua Pusat Studi Lingkungan dan Smart City (PSLSC). Di ‘Aisyiyah, Rini mendapat amanah sebagai ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PDA Sidoarjo.

Dua tugas itu memungkinkan dirinya untuk mengolaborasikan materi-materi tentang lingkungan. Sebagai dosen, berbagai penelitian dan pengabdian masyarakat (abdimas) dilakukan. Misalnya, pencacah sampah dan pengolahan sampah anorganik.

”Bahkan, pusat studi kami juga menggandeng PD NA (Nasyiatul Aisyiyah) memberikan workshop tentang eco enzym dan eco brick,” jelasnya. Sosialisasi di ’Aisyiyah pun sudah banyak.

Gagal Masuk Kedokteran

Ilmu lingkungan sejatinya bukan pilihan utama Rini dalam menempuh studi doktor. Keinginan awalnya adalah masuk Fakultas Kedokteran. Dengan latar belakang S1 Teknik Elektro di Universitas Muhammadiyah Malang, kemudian berlanjut dengan S2 Sistem Kontrol di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dia bisa memanfaatkannya untuk berkontribusi di dunia medik.

Namun, garis tangan berkata lain. Rini tidak lolos ke Fakultas Kedokteran meski pengajuan beasiswanya diterima. ”Dan yang bisa menerima adalah ilmu lingkungan Universitas Brawijaya,” ucap Rini sembari tersenyum.

Perempuan kelahiran 1970 itu sempat berpikir berada di zona tidak aman. Mengapa? Ya, tidak lain korelasi antara latar belakang studi S1-S2 dengan jurusan yang akan ditempuh pada jenjang doktoral. ”Saya cari apa yang kiranya bisa berkaitan dengan lingkungan,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, Rini justru menemukan banyak jalan pengabdian masyarakat. Banyak hal yang terbuka. Banyak yang berkorelasi. Lingkungan juga berkaitan dengan sistem kontrol dan kesehatan. Pada titik itu, Rini berkesimpulan: semua ilmu itu nge-link.

Saat ini misalnya, Rini tengah riset desertasi yang berhubungan dengan pabrik gula Candi. Dia meneliti cerobong berbahan bakar bagase. ”Apa benar ramah lingkungan? Saya buat alat ukur kualitas udara. Itu bisa juga diterapkan di kandang dan sebagainya,” paparnya.

Sebagai dosen Prodi Teknik Elektro, Rini turut mengampanyekan hemat energi. Mengembangkan aplikasi prediksi konsumsi listrik berbasis Python, memperkenalkan penggunaan lampu LED, pengaturan suhu pendingin ruangan, hingga simulasi perhitungan kilowatt-hour. Tidak hanya kepada mahasiswa, tetapi juga melalui wadah organisasi ’Aisyiyah.

Sebagai pegiat lingkungan, langkah Rini pun tidak berhenti. Ia menginisiasi konsep Green Masjid. Ada pengolahan sampah menjadi eco enzyme dan eco brick, budidaya ikan dalam ember terintegrasi tanaman hidroponik, hingga kampanye pengumpulan minyak jelantah.

”Banyak hal yang bisa kita awali dari rumah untuk kelestarian lingkungan kita. Untuk anak cucu,” tandasnya. (*)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait