14 Tahun Menabung Hasil Jualan Daging, CJH Surabaya Berangkat ke Tanah Suci Pas Hari Wafat Suami

METROTODAY, SURABAYA – Menjadi tamu Allah adalah impian setiap muslim. Begitu pula bagi Siti Romlah, 54 penjual daging di Pasar Setro Makmur, Surabaya. Setelah menanti antrian selama 14 tahun sejak mendaftar pada 2012, wanita kelahiran Bangkalan ini akhirnya mewujudkan cita-citanya berkat ketekunan menabung dari hasil dagangannya.

Romlah mengaku, impian berhaji ini bermula dari ucapan polos anaknya saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang melihat gambar Ka’bah di sajadah. Sejak saat itu, suaminya memutuskan mendaftar, dan mereka mulai menyisihkan rezeki sedikit demi sedikit.

“Dulu waktu anak saya SD kan melihat Ka’bah di sajadah, terus bilang ke bapaknya ‘gak pingin ke sini’. Suami saya akhirnya mulai mendaftar. Uangnya dikumpulkan sedikit-sedikit dari jualan, ada Rp 25 ribu ditabung, ada Rp 50 ribu ditabung,” kenang Romlah, Kamis (23/4).

Selama 18 tahun, ia rutin berangkat berjualan sejak subuh hingga zuhur, menghabiskan 15 hingga 20 kilogram daging setiap harinya. Tabungan demi tabungan terkumpul, namun takdir berkata lain. Suami tercinta meninggal dunia pada 25 April 2022, tepat sebelum giliran mereka tiba.

Meskipun bahagia, Romlah mengakui ada rasa sedih mendalam karena tidak bisa berangkat bersama suami. Namun, ia bersyukur karena porsi haji almarhum dapat dialihkan atau dilimpahkan kepada anak bungsunya, Mohamad Arif Rachman, 23.

Uniknya, jadwal masuk Asrama Haji Embarkasi Surabaya yang jatuh pada tanggal 25 April ini persis sama dengan tanggal meninggalnya sang suami tiga tahun lalu.

“Ya sedih gak bisa ibadah haji sama suami. Tapi takdir, bismillah lancar dan didampingi anak saya. Suami saya meninggal akhirnya digantikan oleh anak saya yang terakhir,” jelasnya.

Arif, sang anak, mengaku sangat terharu mendapat kepercayaan mendampingi ibunya di usia yang masih muda. Ia sadar, posisi di samping ibunya seharusnya ditempati oleh ayahnya.

“Terharu. Harusnya kan bukan saya, tapi bapak. Ya gimana lagi, sudah takdir. Saya cuma dampingi Ibu supaya baik-baik saja di sana,” ujarnya.

Ia mengaku membawa doa di depan ka’bah agar segera mendapatkan jodoh dan kelancaran rezeki ini.

Menjelang keberangkatan yang tergabung dalam Kloter 18, Romlah mempersiapkan diri dengan sangat matang. Ia memilih berhenti berjualan selama kurang lebih dua minggu terakhir untuk fokus menjaga kesehatan fisik dan mental.

“Pokoknya makanan yang berpengaruh ke kesehatan tidak saya makan. Jaga kesehatan, pagi-pagi olahraga jalan-jalan, biar nanti di sana nggak kaget. Kan jalannya jauh katanya,” ungkapnya.

Romlah dan Arif dijadwalkan masuk asrama pada 25 April dan akan terbang ke Tanah Suci keesokan harinya. Doa besar pun dipanjatkan, semoga ibadah mereka diterima sebagai Haji Mabrur, membawa berkah bagi keluarga, dan keselamatan sepanjang perjalanan. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Menjadi tamu Allah adalah impian setiap muslim. Begitu pula bagi Siti Romlah, 54 penjual daging di Pasar Setro Makmur, Surabaya. Setelah menanti antrian selama 14 tahun sejak mendaftar pada 2012, wanita kelahiran Bangkalan ini akhirnya mewujudkan cita-citanya berkat ketekunan menabung dari hasil dagangannya.

Romlah mengaku, impian berhaji ini bermula dari ucapan polos anaknya saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang melihat gambar Ka’bah di sajadah. Sejak saat itu, suaminya memutuskan mendaftar, dan mereka mulai menyisihkan rezeki sedikit demi sedikit.

“Dulu waktu anak saya SD kan melihat Ka’bah di sajadah, terus bilang ke bapaknya ‘gak pingin ke sini’. Suami saya akhirnya mulai mendaftar. Uangnya dikumpulkan sedikit-sedikit dari jualan, ada Rp 25 ribu ditabung, ada Rp 50 ribu ditabung,” kenang Romlah, Kamis (23/4).

Selama 18 tahun, ia rutin berangkat berjualan sejak subuh hingga zuhur, menghabiskan 15 hingga 20 kilogram daging setiap harinya. Tabungan demi tabungan terkumpul, namun takdir berkata lain. Suami tercinta meninggal dunia pada 25 April 2022, tepat sebelum giliran mereka tiba.

Meskipun bahagia, Romlah mengakui ada rasa sedih mendalam karena tidak bisa berangkat bersama suami. Namun, ia bersyukur karena porsi haji almarhum dapat dialihkan atau dilimpahkan kepada anak bungsunya, Mohamad Arif Rachman, 23.

Uniknya, jadwal masuk Asrama Haji Embarkasi Surabaya yang jatuh pada tanggal 25 April ini persis sama dengan tanggal meninggalnya sang suami tiga tahun lalu.

“Ya sedih gak bisa ibadah haji sama suami. Tapi takdir, bismillah lancar dan didampingi anak saya. Suami saya meninggal akhirnya digantikan oleh anak saya yang terakhir,” jelasnya.

Arif, sang anak, mengaku sangat terharu mendapat kepercayaan mendampingi ibunya di usia yang masih muda. Ia sadar, posisi di samping ibunya seharusnya ditempati oleh ayahnya.

“Terharu. Harusnya kan bukan saya, tapi bapak. Ya gimana lagi, sudah takdir. Saya cuma dampingi Ibu supaya baik-baik saja di sana,” ujarnya.

Ia mengaku membawa doa di depan ka’bah agar segera mendapatkan jodoh dan kelancaran rezeki ini.

Menjelang keberangkatan yang tergabung dalam Kloter 18, Romlah mempersiapkan diri dengan sangat matang. Ia memilih berhenti berjualan selama kurang lebih dua minggu terakhir untuk fokus menjaga kesehatan fisik dan mental.

“Pokoknya makanan yang berpengaruh ke kesehatan tidak saya makan. Jaga kesehatan, pagi-pagi olahraga jalan-jalan, biar nanti di sana nggak kaget. Kan jalannya jauh katanya,” ungkapnya.

Romlah dan Arif dijadwalkan masuk asrama pada 25 April dan akan terbang ke Tanah Suci keesokan harinya. Doa besar pun dipanjatkan, semoga ibadah mereka diterima sebagai Haji Mabrur, membawa berkah bagi keluarga, dan keselamatan sepanjang perjalanan. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait