23 March 2026, 3:46 AM WIB

Konsumsi Jelang Lebaran: Wajar Asal Jangan Sampai Konsumtif

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Masyarakat Indonesia umumnya meningkatkan konsumsi menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kebutuhan yang dibeli meliputi pakaian baru, kue kering, hingga perlengkapan mudik untuk menyambut momen kebersamaan dengan keluarga.

Selain itu, tradisi seperti halal bihalal, reuni, dan silaturahmi keluarga besar juga mendorong pengeluaran lebih banyak dibandingkan hari biasa.

Menanggapi fenomena tersebut, Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Tika Widiastuti menilai bahwa peningkatan konsumsi menjelang hari besar merupakan hal yang wajar.

“Peningkatan konsumsi menjelang hari raya wajar karena masyarakat menjalankan berbagai aktivitas yang tidak terjadi pada hari-hari biasa,” ujarnya, Jumat (20/3).

Menurut Tika, aktivitas khas hari raya seperti mudik, halal bihalal, dan reuni keluarga membuat masyarakat mengeluarkan lebih banyak biaya. Hal ini berdampak pada peningkatan konsumsi khususnya untuk pakaian baru, kue kering, dan suguhan untuk tamu.

Ia juga membedakan antara konsumsi yang berbasis kebutuhan dengan perilaku konsumtif.

“Konsumsi tidak selalu bersifat konsumtif. Kalau dari perspektif ekonomi, perilaku konsumtif terjadi ketika seseorang membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh tren, keinginan untuk meningkatkan status sosial, atau sekadar mengikuti ajakan lingkungan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Tika menyebutkan salah satu kesalahan finansial yang sering terjadi menjelang hari besar adalah tidak memprioritaskan kebutuhan utama.

“Kalau di ekonomi Islam, kebutuhan terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu dharuriyah (kebutuhan pokok), hajiyah (kebutuhan penunjang), dan tahsiniyah (kebutuhan pelengkap). Kesalahannya itu adalah cenderung pada pemenuhan atau pemuasan keinginan karena yang disebut keinginan itu apabila dipenuhi sebenarnya biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan benefitnya,” imbuhnya.

Untuk menghindari pengeluaran berlebihan, Tika menekankan pentingnya perencanaan keuangan sebelum menyambut lebaran. Ia memberikan tips praktis bagi masyarakat.

“Kalau kalian punya pemasukan tambahan, yang boleh dipakai hanya sekitar 70 persen untuk kebutuhan lebaran, sementara sisanya bisa disimpan untuk kebutuhan tidak terduga. Kalian bisa mulai dengan mencatat kebutuhan lebaran apa saja, lalu pisahkan anggaran kebutuhan lebaran dari rekening utama agar pengeluaran lebih terkontrol,” tegasnya.

Di akhir, Tika mengingatkan bahwa makna lebaran tidak hanya berkaitan dengan konsumsi, tetapi juga kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama. “Rezeki yang kita miliki itu kan bukan hanya untuk diri kita sendiri, sebagiannya adalah titipan yang bisa kita gunakan untuk membantu orang yang lebih membutuhkan. Dengan begitu, perayaan lebaran ini menjadi lebih bermakna dan berharga,” pungkasnya. (ahm)

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Masyarakat Indonesia umumnya meningkatkan konsumsi menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kebutuhan yang dibeli meliputi pakaian baru, kue kering, hingga perlengkapan mudik untuk menyambut momen kebersamaan dengan keluarga.

Selain itu, tradisi seperti halal bihalal, reuni, dan silaturahmi keluarga besar juga mendorong pengeluaran lebih banyak dibandingkan hari biasa.

Menanggapi fenomena tersebut, Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Tika Widiastuti menilai bahwa peningkatan konsumsi menjelang hari besar merupakan hal yang wajar.

“Peningkatan konsumsi menjelang hari raya wajar karena masyarakat menjalankan berbagai aktivitas yang tidak terjadi pada hari-hari biasa,” ujarnya, Jumat (20/3).

Menurut Tika, aktivitas khas hari raya seperti mudik, halal bihalal, dan reuni keluarga membuat masyarakat mengeluarkan lebih banyak biaya. Hal ini berdampak pada peningkatan konsumsi khususnya untuk pakaian baru, kue kering, dan suguhan untuk tamu.

Ia juga membedakan antara konsumsi yang berbasis kebutuhan dengan perilaku konsumtif.

“Konsumsi tidak selalu bersifat konsumtif. Kalau dari perspektif ekonomi, perilaku konsumtif terjadi ketika seseorang membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh tren, keinginan untuk meningkatkan status sosial, atau sekadar mengikuti ajakan lingkungan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Tika menyebutkan salah satu kesalahan finansial yang sering terjadi menjelang hari besar adalah tidak memprioritaskan kebutuhan utama.

“Kalau di ekonomi Islam, kebutuhan terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu dharuriyah (kebutuhan pokok), hajiyah (kebutuhan penunjang), dan tahsiniyah (kebutuhan pelengkap). Kesalahannya itu adalah cenderung pada pemenuhan atau pemuasan keinginan karena yang disebut keinginan itu apabila dipenuhi sebenarnya biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan benefitnya,” imbuhnya.

Untuk menghindari pengeluaran berlebihan, Tika menekankan pentingnya perencanaan keuangan sebelum menyambut lebaran. Ia memberikan tips praktis bagi masyarakat.

“Kalau kalian punya pemasukan tambahan, yang boleh dipakai hanya sekitar 70 persen untuk kebutuhan lebaran, sementara sisanya bisa disimpan untuk kebutuhan tidak terduga. Kalian bisa mulai dengan mencatat kebutuhan lebaran apa saja, lalu pisahkan anggaran kebutuhan lebaran dari rekening utama agar pengeluaran lebih terkontrol,” tegasnya.

Di akhir, Tika mengingatkan bahwa makna lebaran tidak hanya berkaitan dengan konsumsi, tetapi juga kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama. “Rezeki yang kita miliki itu kan bukan hanya untuk diri kita sendiri, sebagiannya adalah titipan yang bisa kita gunakan untuk membantu orang yang lebih membutuhkan. Dengan begitu, perayaan lebaran ini menjadi lebih bermakna dan berharga,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait