Urban Farming: Tanam Cabai dan Bawang Merah di Pekarangan, Panen Awal Desember

METROTODAY, SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat ketahanan pangan dari lingkungan perkotaan melalui pengembangan urban farming. Memasuki tahun kelima, Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026 kini diarahkan menjadi gerakan masyarakat luas untuk meningkatkan produksi pangan sekaligus menjaga pasokan dan menstabilkan harga komoditas penting.

Program yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya ini resmi diluncurkan pada Jumat (4/9) di Graha Sawunggaling. Tahun ini, cabai rawit dan bawang merah menjadi komoditas utama yang dibudidayakan, dengan target panen pada awal Desember 2026.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Surabaya, Anna Fajriatin, menyampaikan bahwa program urban farming akan disinergikan dengan Lomba Kampung Pancasila, khususnya pada pilar lingkungan. Kolaborasi ini akan melibatkan seluruh 1.361 RW yang ada di Kota Surabaya.

“Di tahun 2026 ini akan menjadi sebuah sinergi yang hebat. Program dari Dinas Ketahanan Pangan melalui Urban Farming Competition akan bersinergi dengan Lomba Kampung Pancasila,” ujar Anna, Minggu (6/9).

Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan menjadikan urban farming bukan sekadar lomba, melainkan gerakan bersama di tingkat kewilayahan untuk memperkuat ketahanan pangan mulai dari lingkungan terdekat masyarakat.

“Urban farming ini tidak hanya menjadi kegiatan lomba, tetapi menjadi gerakan bersama di setiap wilayah. Dengan keterlibatan 1.361 RW, kita ingin membangun ketahanan pangan mulai dari lingkungan masing-masing,” tuturnya.

Kepala DKPP Surabaya, Nanik Sukristina, menambahkan bahwa SUFC 2026 mendorong masyarakat memanfaatkan berbagai ruang yang tersedia di kawasan perkotaan, mulai dari pekarangan rumah, lahan aset, fasilitas umum, hingga lahan yang belum termanfaatkan.

“Ketahanan pangan kita mulai dari skala rumah tangga. Setelah itu, secara bertahap bisa dikembangkan ke skala yang lebih luas, misalnya tingkat RW,” kata Nanik.

Tahun ini, SUFC menghadirkan empat kategori lomba, yaitu urban farming terintegrasi atau terpadu, kuantitas bawang merah, kuantitas cabai rawit, dan urban farming pemula. kategori terpadumenjadi pembeda karena menggabungkan sektor pertanian dengan unsur perikanan dan peternakan.

Pada kategori kelompok tani, peserta membudidayakan cabai rawit dan bawang merah. Panitia menyediakan 30 bibit bawang merah dan satu paket benih cabai rawit, sementara media tanam serta perlengkapan budidaya disiapkan secara mandiri oleh peserta. Penanaman dan pemeliharaan resmi dimulai pada 6 September 2026.

Selama kompetisi berlangsung, DKPP bersama para pemangku kepentingan akan melakukan pendampingan dan pemantauan berkala. Penilaian pun tidak hanya berfokus pada hasil akhir, melainkan juga proses pemeliharaan dan produktivitas sesuai kategori.

“Yang ingin kita dorong adalah bagaimana masyarakat bisa ikut memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming. Pengetahuan dan pengalaman selama kompetisi diharapkan dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing, sehingga produksi pangan bisa terus berjalan,” ujarnya.

Panen yang direncanakan jatuh pada awal Desember 2026 juga disiapkan untuk menjawab lonjakan permintaan menjelang akhir tahun. Momentum tersebut diharapkan dapat menambah pasokan cabai dan bawang merah sekaligus menekan laju inflasi saat periode libur Natal dan Tahun Baru.

“Panen tersebut diharapkan dapat turut menekan angka inflasi. Menjelang akhir tahun, Natal dan Tahun Baru, biasanya terjadi peningkatan permintaan yang dapat mendorong kenaikan harga komoditas seperti cabai dan bawang merah,” jelas Nanik.

Melalui pengembangan urban farming, Pemkot Surabaya berharap lahan-lahan perkotaan menjadi lebih produktif dan terbangun kemandirian pangan dari tingkat rumah tangga hingga kewilayahan.

“Sinergi dengan Kampung Pancasila juga diharapkan membuat gerakan menanam terus berkembang dan memberikan manfaat setelah kompetisi berakhir,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat ketahanan pangan dari lingkungan perkotaan melalui pengembangan urban farming. Memasuki tahun kelima, Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026 kini diarahkan menjadi gerakan masyarakat luas untuk meningkatkan produksi pangan sekaligus menjaga pasokan dan menstabilkan harga komoditas penting.

Program yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya ini resmi diluncurkan pada Jumat (4/9) di Graha Sawunggaling. Tahun ini, cabai rawit dan bawang merah menjadi komoditas utama yang dibudidayakan, dengan target panen pada awal Desember 2026.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Surabaya, Anna Fajriatin, menyampaikan bahwa program urban farming akan disinergikan dengan Lomba Kampung Pancasila, khususnya pada pilar lingkungan. Kolaborasi ini akan melibatkan seluruh 1.361 RW yang ada di Kota Surabaya.

“Di tahun 2026 ini akan menjadi sebuah sinergi yang hebat. Program dari Dinas Ketahanan Pangan melalui Urban Farming Competition akan bersinergi dengan Lomba Kampung Pancasila,” ujar Anna, Minggu (6/9).

Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan menjadikan urban farming bukan sekadar lomba, melainkan gerakan bersama di tingkat kewilayahan untuk memperkuat ketahanan pangan mulai dari lingkungan terdekat masyarakat.

“Urban farming ini tidak hanya menjadi kegiatan lomba, tetapi menjadi gerakan bersama di setiap wilayah. Dengan keterlibatan 1.361 RW, kita ingin membangun ketahanan pangan mulai dari lingkungan masing-masing,” tuturnya.

Kepala DKPP Surabaya, Nanik Sukristina, menambahkan bahwa SUFC 2026 mendorong masyarakat memanfaatkan berbagai ruang yang tersedia di kawasan perkotaan, mulai dari pekarangan rumah, lahan aset, fasilitas umum, hingga lahan yang belum termanfaatkan.

“Ketahanan pangan kita mulai dari skala rumah tangga. Setelah itu, secara bertahap bisa dikembangkan ke skala yang lebih luas, misalnya tingkat RW,” kata Nanik.

Tahun ini, SUFC menghadirkan empat kategori lomba, yaitu urban farming terintegrasi atau terpadu, kuantitas bawang merah, kuantitas cabai rawit, dan urban farming pemula. kategori terpadumenjadi pembeda karena menggabungkan sektor pertanian dengan unsur perikanan dan peternakan.

Pada kategori kelompok tani, peserta membudidayakan cabai rawit dan bawang merah. Panitia menyediakan 30 bibit bawang merah dan satu paket benih cabai rawit, sementara media tanam serta perlengkapan budidaya disiapkan secara mandiri oleh peserta. Penanaman dan pemeliharaan resmi dimulai pada 6 September 2026.

Selama kompetisi berlangsung, DKPP bersama para pemangku kepentingan akan melakukan pendampingan dan pemantauan berkala. Penilaian pun tidak hanya berfokus pada hasil akhir, melainkan juga proses pemeliharaan dan produktivitas sesuai kategori.

“Yang ingin kita dorong adalah bagaimana masyarakat bisa ikut memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming. Pengetahuan dan pengalaman selama kompetisi diharapkan dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing, sehingga produksi pangan bisa terus berjalan,” ujarnya.

Panen yang direncanakan jatuh pada awal Desember 2026 juga disiapkan untuk menjawab lonjakan permintaan menjelang akhir tahun. Momentum tersebut diharapkan dapat menambah pasokan cabai dan bawang merah sekaligus menekan laju inflasi saat periode libur Natal dan Tahun Baru.

“Panen tersebut diharapkan dapat turut menekan angka inflasi. Menjelang akhir tahun, Natal dan Tahun Baru, biasanya terjadi peningkatan permintaan yang dapat mendorong kenaikan harga komoditas seperti cabai dan bawang merah,” jelas Nanik.

Melalui pengembangan urban farming, Pemkot Surabaya berharap lahan-lahan perkotaan menjadi lebih produktif dan terbangun kemandirian pangan dari tingkat rumah tangga hingga kewilayahan.

“Sinergi dengan Kampung Pancasila juga diharapkan membuat gerakan menanam terus berkembang dan memberikan manfaat setelah kompetisi berakhir,” pungkasnya. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait