Perubahan positif pun mulai tampak jelas. Kondisi Kali Tebu yang dulunya kerap dipenuhi tumpukan sampah, kini tampak jauh lebih bersih dan tertata rapi. Sejalan dengan itu, kesadaran warga untuk turut menjaga kebersihan lingkungan juga semakin tumbuh.
Keberhasilan jangka panjang ditandai dengan terus menurunnya volume sampah yang masuk ke sungai. Di sisi lain, Pemkot Surabaya juga terus memperkuat strategi pengurangan sampah dari hulu melalui program berbasis masyarakat seperti Kampung Zero Waste dan Kampung Proklim. Langkah ini sejalan dengan target Wali Kota Surabaya untuk menekan jumlah sampah hingga 40 persen.
Data mencatat, saat ini timbulan sampah di Surabaya mencapai 1.800 ton per hari. Sebanyak 200 ton di antaranya sudah dimanfaatkan kembali, sementara 1.600 ton sisanya dikirim ke tempat pemrosesan akhir. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 ton telah berhasil diolah melalui fasilitas gasifikasi menjadi energi listrik, dan 600 ton sisanya masih berakhir di lokasi penimbunan.
Untuk mempercepat pengurangan sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, pemerintah pusat menunjuk Surabaya sebagai lokasi pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik. Lahan seluas 5,8 hektare telah disiapkan di kawasan Sumberrejo dan kini sedang dalam tahap survei.
“Fasilitas tersebut ditargetkan mulai dibangun pada akhir tahun ini dan diharapkan mampu mengolah sisa sampah yang masih masuk ke landfill, termasuk sampah dari wilayah Surabaya Raya seperti Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan,” jelas Fikser.
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Perubahan Perilaku Masyarakat Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, Sri Morwani Nifadilastuti, menegaskan bahwa perubahan sikap dan perilaku masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan penanganan sampah di perkotaan. Pengelolaan yang dimulai dari pemilahan di rumah tangga menjadi langkah paling efektif.
“Pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Sampah yang dikelola dengan baik tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Sri Morwani.
Senada dengan hal itu, Koordinator Sekretariat Tim Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Ahmad Bahri Rambe, menekankan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kekuatan sinergi lintas pihak. Selain pembersihan fisik, edukasi menjadi komponen utama agar pola pikir masyarakat berubah secara bertahap.
“Selain kegiatan pembersihan sungai, edukasi masyarakat menjadi komponen utama program ini. Tujuannya agar perubahan perilaku dapat terbangun dan pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Ahmad Bahri.
Mewakili Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Ahmad Didin mengungkapkan bahwa kerja sama ini mencakup lima wilayah awal, yaitu Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Bali. Namun, Surabaya dipilih menjadi yang pertama karena dinilai memiliki komitmen serta rekam jejak inovasi pengelolaan sampah yang sangat kuat.
“Surabaya diharapkan menjadi model bagi daerah lain. Jika implementasinya berhasil, berbagai praktik baik yang diterapkan di sini dapat direplikasi untuk memperkuat pengelolaan sampah dan mengurangi pencemaran plastik secara nasional,” pungkasnya. (ahm)

