Berkah Pengepul Kulit Hewan Kurban: Dari Pinggir Jalan ke Pabrik untuk Jaket Kulit hingga Rambak

“Kulit-kulit ini nantinya dibuat jaket. Makanya dikirim ke pabrik kulit di Sidoarjo. Jadi ada nilainya, tidak terbuang percuma,” bebernya.

Selain untuk bahan jaket dan tas, kulit kambing maupun sapi berkualitas tertentu sering dimanfaatkan untuk pembuatan alat musik tradisional seperti bedug dan rebana hingga makanan rambak.

Udin biasanya menutup pengumpulannya sekitar pukul 17.00 WIB. Ia mengaku bersyukur usaha musiman ini masih bertahan dan terus diminati, mengingat permintaan bahan baku kulit di industri pengolahan masih stabil setiap tahunnya.

Sementara itu, Nasir, salah satu penjual kulit dari hasil sembelihan di mushala mengaku rutin menjual kulit sapi setiap tahun di tempat Udin. Menurutnya, menjual kulit sapi cukup membantu menambah pemasukan harian.

“Tadi habis menyembelih di mushala kemudian kulitnya disisihkan untuk dijual. Karena tidak bisa mengolah sendiri, jadi ya di jual ke pengepul,” ujarnya.

Ia bersama rekanya terlihat membawa dua sak karung yang dibawa menggunakan sepeda motor.

Setelah ditimbang, Nasir menerima uang Rp 250 ribu. Uang hasil penjualan tersebut menurutnya akan masuk ke kas masjid.

“Untungnya tadi bersih dapat Rp 250 ribu, lumayan lah yang penting kulit ini ada harganya dan laku terjual, jadi tidak dibuang begitu saja,” tuturnya. (ahm)

“Kulit-kulit ini nantinya dibuat jaket. Makanya dikirim ke pabrik kulit di Sidoarjo. Jadi ada nilainya, tidak terbuang percuma,” bebernya.

Selain untuk bahan jaket dan tas, kulit kambing maupun sapi berkualitas tertentu sering dimanfaatkan untuk pembuatan alat musik tradisional seperti bedug dan rebana hingga makanan rambak.

Udin biasanya menutup pengumpulannya sekitar pukul 17.00 WIB. Ia mengaku bersyukur usaha musiman ini masih bertahan dan terus diminati, mengingat permintaan bahan baku kulit di industri pengolahan masih stabil setiap tahunnya.

Sementara itu, Nasir, salah satu penjual kulit dari hasil sembelihan di mushala mengaku rutin menjual kulit sapi setiap tahun di tempat Udin. Menurutnya, menjual kulit sapi cukup membantu menambah pemasukan harian.

“Tadi habis menyembelih di mushala kemudian kulitnya disisihkan untuk dijual. Karena tidak bisa mengolah sendiri, jadi ya di jual ke pengepul,” ujarnya.

Ia bersama rekanya terlihat membawa dua sak karung yang dibawa menggunakan sepeda motor.

Setelah ditimbang, Nasir menerima uang Rp 250 ribu. Uang hasil penjualan tersebut menurutnya akan masuk ke kas masjid.

“Untungnya tadi bersih dapat Rp 250 ribu, lumayan lah yang penting kulit ini ada harganya dan laku terjual, jadi tidak dibuang begitu saja,” tuturnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait