Tegaskan Tidak Ada Campur Tangan Istana saat Muktamar, Gus Irfan: NU Bukan Barang Warisan yang Diperebutkan

“Tidak ada sama sekali poros istana atau dukungan dari Presiden. Bapak Prabowo sangat menghormati kemandirian Nahdlatul Ulama. Beliau tidak akan ikut campur menentukan siapa yang memimpin. Jika ada yang mengaku didukung Presiden, itu tidak benar. Harapan beliau hanya satu: terpilih pemimpin terbaik untuk kemajuan NU, tidak lebih,” jelasnya.

Ia menilai bahwa dinamika pencarian pemimpin adalah hal yang wajar, namun tidak boleh menghalalkan segala cara. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari berbagai daerah, sudah terlihat gejala-gejala negatif yang seharusnya dihindari.

“Mencari pemimpin itu wajar, tapi bukan dengan cara apa pun,” ujarnya.

Bahkan ia mengaku mendapat laporan dari banyak daerah bahwa ada pihak yang berkeliling menjanjikan sesuatu, meminta dukungan, bahkan diduga menggunakan uang. Padahal jika seseorang memang layak, tanpa dibayar pun umat akan memilihnya.

“Sebagai bagian dari keluarga pendiri NU, saya merasa sangat malu dan kecewa melihat hal ini terjadi. Semoga mereka segera sadar,” ungkapnya.

Gus Irfan mengingatkan kembali kepada seluruh warga Nahdliyin dan para calon pemimpin agar kembali ke jati diri organisasi.

“Para kiai sepuh pun sangat sedih dan prihatin melihat kondisi ini. Harus dipahami sekali lagi NU bukanlah barang warisan yang bisa diperebutkan. Ini adalah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan. Semoga kita semua bisa membuka lembaran baru yang lebih baik,” tegasnya.

Sebelumnya Rapat pleno yang mengagendakan penentuan lokasi Muktamar NU ke-35 tersebut sempat memanas hingga memicu kericuhan antarpeserta sidang.

Suasana forum mulai tidak kondusif setelah muncul anggapan di tengah persidangan bahwa lokasi Muktamar NU telah ditetapkan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Aksi protes yang mulanya berupa adu argumen verbal berujung pada tindakan saling dorong antarpeserta di dalam ruangan. (ahm)

“Tidak ada sama sekali poros istana atau dukungan dari Presiden. Bapak Prabowo sangat menghormati kemandirian Nahdlatul Ulama. Beliau tidak akan ikut campur menentukan siapa yang memimpin. Jika ada yang mengaku didukung Presiden, itu tidak benar. Harapan beliau hanya satu: terpilih pemimpin terbaik untuk kemajuan NU, tidak lebih,” jelasnya.

Ia menilai bahwa dinamika pencarian pemimpin adalah hal yang wajar, namun tidak boleh menghalalkan segala cara. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari berbagai daerah, sudah terlihat gejala-gejala negatif yang seharusnya dihindari.

“Mencari pemimpin itu wajar, tapi bukan dengan cara apa pun,” ujarnya.

Bahkan ia mengaku mendapat laporan dari banyak daerah bahwa ada pihak yang berkeliling menjanjikan sesuatu, meminta dukungan, bahkan diduga menggunakan uang. Padahal jika seseorang memang layak, tanpa dibayar pun umat akan memilihnya.

“Sebagai bagian dari keluarga pendiri NU, saya merasa sangat malu dan kecewa melihat hal ini terjadi. Semoga mereka segera sadar,” ungkapnya.

Gus Irfan mengingatkan kembali kepada seluruh warga Nahdliyin dan para calon pemimpin agar kembali ke jati diri organisasi.

“Para kiai sepuh pun sangat sedih dan prihatin melihat kondisi ini. Harus dipahami sekali lagi NU bukanlah barang warisan yang bisa diperebutkan. Ini adalah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan. Semoga kita semua bisa membuka lembaran baru yang lebih baik,” tegasnya.

Sebelumnya Rapat pleno yang mengagendakan penentuan lokasi Muktamar NU ke-35 tersebut sempat memanas hingga memicu kericuhan antarpeserta sidang.

Suasana forum mulai tidak kondusif setelah muncul anggapan di tengah persidangan bahwa lokasi Muktamar NU telah ditetapkan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Aksi protes yang mulanya berupa adu argumen verbal berujung pada tindakan saling dorong antarpeserta di dalam ruangan. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait