Tegaskan Tidak Ada Campur Tangan Istana saat Muktamar, Gus Irfan: NU Bukan Barang Warisan yang Diperebutkan

METROTODAY, SURABAYA – Muktamar ke-35 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang diagendakan berlangsung pada 1 hingga 5 Agustus mendatang masih menjadi sorotan publik, salah satunya terkait dinamika persiapan hingga penetapan lokasi penyelenggaraannya.

Menanggapi hal ini, Mochamad Irfan Yusuf atau akrab disapa Gus Irfan yang merupakan cucu pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, sekaligus putra KH. Yusuf Hasyim yang saat ini menjadi Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) menyampaikan harapan agar ajang lima tahunan tersebut berjalan dengan suasana yang tenang dan tetap menjunjung nilai-nilai dasar organisasi.

“Saya berharap nanti Muktamar dapat berlangsung sejuk, menggambarkan sesungguhnya apa itu Nahdlatul Ulama, apa itu NU, dan apa itu para ulama,” tegas Gus Irfan, Rabu (1/7) malam di Surabaya.

Ia menegaskan bahwa Muktamar NU tidak boleh disamakan dengan mekanisme pemilihan umum partai politik yang identik dengan persaingan ketat. Menurutnya, semangat awal para pendiri NU adalah menganggap amanah kepemimpinan sebagai beban berat yang ingin ditolak, bukan diperebutkan.

“Kita tidak ingin Muktamar NU menjadi seperti muktamarnya partai politik, di mana saling berebut, saling menolak, dan saling menjegal. Itu bukanlah ciri khas Nahdlatul Ulama. Kita harus berkaca pada para pendahulu, para kiai terdahulu. Mereka justru saling menolak untuk dipilih karena menyadari ini adalah tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” tuturnya.

Menurutnya saat ini banyak yang berebut posisi sehingga sudah jauh dari ajaran Qanun Asasi yang diajarkan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Gus Irfan juga mengakui berdasarkan kajian ilmiah yang baru saja dihadirkan, nilai-nilai dasar organisasi tersebut sudah mulai terabaikan. Oleh karena itu, ia berharap Muktamar kali ini menjadi momen perubahan.

“Baru saja saya menghadiri promosi doktor yang membahas Qanun Asasi, dan memang terlihat bahwa kondisi saat ini sudah jauh dari nilai-nilai tersebut,” imbuhnya.

Menurutnya, Muktamar kali ini menjadi momen yang ikhlas, tanpa politik uang, dan tanpa campur tangan kepentingan politik luar. Kepada pihak-pihak yang selama ini dianggap menimbulkan keributan, sebaiknya ikhlas dan memberi kesempatan kepada yang lebih layak.

“Cukup membantu dari luar, agar NU tetap menjadi organisasi yang teduh dan bermanfaat bagi umat,” tambahnya.

Merespons isu yang berkembang, Gus Irfan secara tegas membantah adanya campur tangan dari lingkungan Istana Kepresidenan atau pihak luar dalam penentuan kepemimpinan NU.

METROTODAY, SURABAYA – Muktamar ke-35 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang diagendakan berlangsung pada 1 hingga 5 Agustus mendatang masih menjadi sorotan publik, salah satunya terkait dinamika persiapan hingga penetapan lokasi penyelenggaraannya.

Menanggapi hal ini, Mochamad Irfan Yusuf atau akrab disapa Gus Irfan yang merupakan cucu pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, sekaligus putra KH. Yusuf Hasyim yang saat ini menjadi Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) menyampaikan harapan agar ajang lima tahunan tersebut berjalan dengan suasana yang tenang dan tetap menjunjung nilai-nilai dasar organisasi.

“Saya berharap nanti Muktamar dapat berlangsung sejuk, menggambarkan sesungguhnya apa itu Nahdlatul Ulama, apa itu NU, dan apa itu para ulama,” tegas Gus Irfan, Rabu (1/7) malam di Surabaya.

Ia menegaskan bahwa Muktamar NU tidak boleh disamakan dengan mekanisme pemilihan umum partai politik yang identik dengan persaingan ketat. Menurutnya, semangat awal para pendiri NU adalah menganggap amanah kepemimpinan sebagai beban berat yang ingin ditolak, bukan diperebutkan.

“Kita tidak ingin Muktamar NU menjadi seperti muktamarnya partai politik, di mana saling berebut, saling menolak, dan saling menjegal. Itu bukanlah ciri khas Nahdlatul Ulama. Kita harus berkaca pada para pendahulu, para kiai terdahulu. Mereka justru saling menolak untuk dipilih karena menyadari ini adalah tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” tuturnya.

Menurutnya saat ini banyak yang berebut posisi sehingga sudah jauh dari ajaran Qanun Asasi yang diajarkan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Gus Irfan juga mengakui berdasarkan kajian ilmiah yang baru saja dihadirkan, nilai-nilai dasar organisasi tersebut sudah mulai terabaikan. Oleh karena itu, ia berharap Muktamar kali ini menjadi momen perubahan.

“Baru saja saya menghadiri promosi doktor yang membahas Qanun Asasi, dan memang terlihat bahwa kondisi saat ini sudah jauh dari nilai-nilai tersebut,” imbuhnya.

Menurutnya, Muktamar kali ini menjadi momen yang ikhlas, tanpa politik uang, dan tanpa campur tangan kepentingan politik luar. Kepada pihak-pihak yang selama ini dianggap menimbulkan keributan, sebaiknya ikhlas dan memberi kesempatan kepada yang lebih layak.

“Cukup membantu dari luar, agar NU tetap menjadi organisasi yang teduh dan bermanfaat bagi umat,” tambahnya.

Merespons isu yang berkembang, Gus Irfan secara tegas membantah adanya campur tangan dari lingkungan Istana Kepresidenan atau pihak luar dalam penentuan kepemimpinan NU.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait