METROTODAY, SURABAYA – Lelly Lailiyah Novianti resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil menyelesaikan ujian doktor terbuka yang digelar di Ruang Ternate ASEEC Tower, Selasa (30/6).
Ia meraih kelulusan dengan predikat sangat memuaskan atau cum laude. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mencapai 3,97 dalam masa studi hanya 2 tahun 10 bulan. Tak hanya itu, ia pun tercatat sebagai doktor pertama lulusan Program Studi Hukum dan Pembangunan, Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair).
Dalam disertasinya yang berjudul Nilai-Nilai Qonun Asasi Nahdlatul Ulama (NU) dalam Politik Hukum Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Pesantren Menuju Indonesia Emas 2045, sosok yang akrab disapa Bu Nyai Lelly ini menawarkan pembaruan penting bagi dunia pendidikan pesantren.
Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak cukup hanya mengandalkan keunggulan akademik, melainkan harus dibarengi dengan penguatan karakter yang menyatukan nilai agama, ilmu pengetahuan, dan kebangsaan.
Penelitian ini merumuskan 22 nilai utama yang tertuang dalam Qonun Asasi NU, yang dikelompokkan ke dalam tiga dimensi utama.

Yaitu dimensi keagamaan meliputi tauhid, integritas moral, kejujuran, keikhlasan, keberanian, kesabaran, toleransi, moderasi, harmoni, akhlak mulia, adab, serta etika. Kemudian dimensi pendidikan mencakup kebenaran, keilmuan, inklusivitas, profesionalisme dan dakwah.
Sementara dimensi kebangsaan berisi nilai kepemimpinan, demokrasi, kerja sama, musyawarah, persaudaraan, kekeluargaan, dan keadilan.
“Integrasi 22 nilai Qonun Asasi NU ke dalam model pembelajaran menjadi kerangka pengembangan sumber daya manusia pesantren yang utuh, adaptif, dan berkelanjutan guna menyambut Indonesia Emas tahun 2045,” ujar Lelly.
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa pembentukan karakter santri tidak terjadi semata-mata melalui pembelajaran di dalam ruang kelas. Nilai-nilai justru tertanam lebih kuat melalui pengalaman kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren.
“Penelitian ini membuktikan bahwa karakter santri terbentuk lebih banyak melalui keteladanan kiai, interaksi di lingkungan asrama, keterlibatan dalam organisasi santri, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pembelajaran formal tetap penting, namun penanaman nilai jauh lebih efektif jika dilakukan melalui pembiasaan dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

