METROTODAY, SURABAYA – Kisah Rachmad Arga Dumilang menjadi pelajaran penting bagi siapa saja yang belajar menjejaki perjalanan bisnis. Ia tidak hanya memulai semua usaha dari nol lantas mengeruk untung besar. Jatuh bangun, bahkan terperosok ke titik nadir pernah ia alami. Namun, hanya kegigihan dan keuletan yang membuat seorang pebisnis bangkit untuk kembali berkibar.
Arga, panggilan karib Rachmad Arga Dumilang, adalah seorang pengusaha asal Surabaya yang kini menahkodai PT Cahaya Pratama Energy. Perusahaan itu bergerak sebagai pemasok sekaligus agen resmi BBM industri di Surabaya.
Perusahaan yang berdiri sejak 2023 dan beroperasi di kawasan Surabaya Timur tersebut kini fokus menyalurkan solar industri nonsubsidi kepada konsumen di Jawa Timur melalui jalur resmi. Saat ini, perusahaan tersebut mengklaim mampu menyalurkan sekitar 300 ribu liter BBM industri setiap bulan untuk kebutuhan konsumen di Jatim.
Arga masih mengingat bagaimana titik awal membangun jalur distribusi BBM pada satu dekade silam. Sekitar 2012, Arga mulai mengenal bisnis minyak. Pria 35 tahun itu memulai dari posisi sebagai broker minyak dengan kondisi tanpa modal.
“Saya benar-benar mulai dari nol. Awalnya broker minyak, lalu bekerja ikut orang. Dari situ sedikit demi sedikit menyisihkan hasil untuk biaya operasional dan akhirnya bisa mengumpulkan modal untuk membuat akta pendirian perusahaan,” kata Arga membuka perbincangan dengan wartawan.
Perjalanan kemudian membawanya masuk ke bisnis minyak ilegal atau yang dikenal dengan istilah black market. Menurut pengakuannya, bisnis tersebut sempat berkembang hingga dirinya mampu menguasai pasar pada sekitar 2023. Namun, siapa yang mengira bahwa dua tahun berikutnya terjadi peristiwa yang menjadi titik balik hidupnya.
Arga mengaku pernah ditangkap aparat kepolisian pada 2025. Dia disangka melakukan bisnis BBM ilegal. Peristiwa tersebut kemudian mendapat sorotan pemberitaan sejumlah media. Arga benar-benar jatuh. Ia merasa apa yang ia bangun selama ini berantakan. Arga hanya bisa pasrah dan menjalani roda kehidupan yang berputar.
“Saat itu semua media memberitakan. Itu menjadi titik balik bagi saya. Saya berpikir, kalau terus berada di jalur seperti ini, bagaimana masa depan keluarga dan perusahaan saya?” ujarnya.


