Luncurkan Kapal Pembersih Sampah Tanpa Awak, Solusi Sederhana Berdampak untuk Laut Indonesia

Pada bagian depan terpasang sirip pengarah yang berfungsi mengumpulkan sampah menuju keranjang penampung di bagian tengah saat kapal bergerak.

Sistem kendalinya menggunakan remote control dengan jangkauan hingga satu kilometer, dipilih agar biaya perawatan tetap terjangkau dan tidak membebani pengguna.

“Kami sengaja mendesain sistem yang sederhana namun kuat, karena memang ditargetkan untuk masyarakat pesisir. Kadang teknologi yang terlalu canggih sering kali mangkrak karena biaya perawatan tinggi dan minimnya tenaga ahli di pesisir,” papar Hasan.

Inovasi yang didanai melalui program hilirisasi Dikti dan LPDP ini terus dikembangkan. Kini telah tersedia dua unit kapal terbaru berukuran panjang 8 meter yang lebih tangguh menghadapi gelombang laut terbuka.

Kedua unit tersebut telah dikirim dan diuji coba di kawasan wisata Bali dan Kalimantan melalui kerja sama antara Science Techno Park Maritim Nasdec ITS dengan PT Pertamina (Persero).

Kapal versi terbaru ini dilengkapi berbagai fitur unggulan, antara lain alat pencacah sampah, sistem pemantauan kamera, serta sumber energi ramah lingkungan dari panel surya.

“Kami lengkapi dengan alat pencacah sampah, sistem pemantauan kamera CCTV, serta suplai energi ramah lingkungan berbasis panel surya,” jelas Hasan.

Agar manfaatnya dapat berkelanjutan, tim peneliti juga menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) dan melakukan pendampingan kepada komunitas lokal di Bali.

Ke depan, tim berencana mengembangkan sistem kecerdasan buatan terintegrasi Internet of Things (IoT) agar kapal dapat mendeteksi area berkepadatan sampah tinggi secara otomatis.

Inovasi ini diharapkan dapat menjadi pemantik kolaborasi luas antara akademisi, industri, dan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kedaulatan wilayah maritim Indonesia. (ahm)

Pada bagian depan terpasang sirip pengarah yang berfungsi mengumpulkan sampah menuju keranjang penampung di bagian tengah saat kapal bergerak.

Sistem kendalinya menggunakan remote control dengan jangkauan hingga satu kilometer, dipilih agar biaya perawatan tetap terjangkau dan tidak membebani pengguna.

“Kami sengaja mendesain sistem yang sederhana namun kuat, karena memang ditargetkan untuk masyarakat pesisir. Kadang teknologi yang terlalu canggih sering kali mangkrak karena biaya perawatan tinggi dan minimnya tenaga ahli di pesisir,” papar Hasan.

Inovasi yang didanai melalui program hilirisasi Dikti dan LPDP ini terus dikembangkan. Kini telah tersedia dua unit kapal terbaru berukuran panjang 8 meter yang lebih tangguh menghadapi gelombang laut terbuka.

Kedua unit tersebut telah dikirim dan diuji coba di kawasan wisata Bali dan Kalimantan melalui kerja sama antara Science Techno Park Maritim Nasdec ITS dengan PT Pertamina (Persero).

Kapal versi terbaru ini dilengkapi berbagai fitur unggulan, antara lain alat pencacah sampah, sistem pemantauan kamera, serta sumber energi ramah lingkungan dari panel surya.

“Kami lengkapi dengan alat pencacah sampah, sistem pemantauan kamera CCTV, serta suplai energi ramah lingkungan berbasis panel surya,” jelas Hasan.

Agar manfaatnya dapat berkelanjutan, tim peneliti juga menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) dan melakukan pendampingan kepada komunitas lokal di Bali.

Ke depan, tim berencana mengembangkan sistem kecerdasan buatan terintegrasi Internet of Things (IoT) agar kapal dapat mendeteksi area berkepadatan sampah tinggi secara otomatis.

Inovasi ini diharapkan dapat menjadi pemantik kolaborasi luas antara akademisi, industri, dan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kedaulatan wilayah maritim Indonesia. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait