WhatsApp Image 2026-03-25 at 16.41.04
Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci.
———–
LANGIT Madinah pagi itu terasa berbeda. Bukan karena warnanya berubah, tetapi karena hati yang tak lagi sama. Ada rasa berat yang sulit dijelaskan, sejenis enggan yang tidak bisa ditawar.
Kaki harus melangkah pulang, sementara hati masih ingin menetap. Seakan-akan ada bagian dari diri yang tertinggal di antara lantunan doa, di sela-sela salam kepada Rasulullah, atau mungkin di sudut Raudhah yang tak sempat kita datangi lebih lama.
Namun, realitas tidak memberi banyak ruang dan waktu untuk berlama-lama dalam perasaan.
Di tengah suasana itu, kami dihadapkan pada situasi yang menghadirkan kegelisahan tersendiri. Tiket kami memang on schedule, dan tak ada pemberitahuan cancel. Secara sistem, semuanya masih on schedule.
Namun arus informasi yang beredar di berbagai kanal begitu deras, berita tentang pembatalan penerbangan dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara tujuan mulai bermunculan. Satu per satu jadwal berubah, beberapa rute dihentikan, sebagian lainnya tertunda tanpa kepastian.
Di tengah eskalasi konflik di kawasan Teluk yang semakin meninggi, rasa khawatir menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Bandara yang seharusnya menjadi gerbang pulang, perlahan berubah menjadi ruang kontemplasi.
Ada yang mondar-mandir mengecek layar informasi, seolah berharap tidak menemukan kata “cancelled” di samping nomor penerbangan. Ada yang sibuk menghubungi pihak travel, memastikan segala kemungkinan.
Ada pula yang memilih diam, duduk tenang, menatap kosong, mungkin sedang berdialog dengan dirinya sendiri, atau justru sedang mempercayakan semuanya kepada Yang Maha Mengatur.
Kami sendiri berada di antara harap dan cemas. “Semoga tetap on schedule,” gumam dalam hati.
Kalimat sederhana, tapi terasa sangat dalam. Karena pada akhirnya, kita sadar, bahkan untuk pulang pun, kita tidak pernah benar-benar memegang kendali.
Rencana Tak Sepenuhnya Milik Kita
Kita terbiasa hidup dengan rencana. Jadwal tersusun rapi, tiket dipesan jauh hari, transit diatur sedemikian detail. Semua serba terukur, seakan hidup ini bisa kita kendalikan melalui perencanaan yang presisi. Namun di titik itu, kita diingatkan, rencana manusia selalu berada dalam bingkai takdir.
Tiket kami belum batal. Tapi bayang-bayang kemungkinan itu cukup untuk mengguncang ketenangan. Di sinilah letak ujian yang halus. Bukan pada kenyataan yang sudah terjadi, tetapi pada ketidakpastian yang menggantung.
Dan justru di situlah tawakal menemukan bentuknya yang paling jujur. Tawakal bukan tentang berserah setelah semuanya jelas. Tawakal justru hadir saat semuanya belum jelas. Ketika logika belum menemukan pijakan, dan satu-satunya pegangan hanyalah keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengatur.
Ada celetukan ringan yang sempat mencairkan suasana, “Umrah paket lengkap, ibadah dapat, bonus uncertainty management, plus latihan sabar level advance.”
Kami tersenyum. Bukan karena semuanya mudah, tetapi karena kami mulai memahami, bahwa ini bukan gangguan perjalanan. Ini justru bagian dari perjalanan itu sendiri.
Dari Tanah Suci ke Tanah Realitas
Perjalanan pulang bukan sekadar perpindahan geografis. Ia adalah transisi batin.
Di Madinah dan Makkah, hidup terasa lebih sederhana. Waktu seolah berputar di sekitar ibadah. Langkah kaki menuju masjid menjadi rutinitas yang menenangkan. Hati terasa lebih lunak, lebih mudah tersentuh, lebih dekat dengan Allah.
Namun begitu kita beranjak pulang, ritme itu perlahan berubah. Dunia kembali mengambil tempatnya. Jadwal pekerjaan, tanggung jawab, target, dan segala kompleksitas kehidupan mulai menunggu di depan pintu.
Dan di titik itulah muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari, Apakah cahaya itu ikut kita bawa pulang, atau justru tertinggal di sana?
Ujian Sebenarnya di Tanah Air
Banyak orang mengira ujian terbesar ada di Tanah Suci, berdesakan, antre panjang, kelelahan fisik, atau perjuangan mendapatkan akses ke Raudhah. Namun sesungguhnya, ujian yang lebih berat justru dimulai setelah kita kembali.
Di Tanah Air, tidak ada lagi atmosfer yang “memaksa” kita untuk khusyuk. Tidak ada lagi gema adzan yang mengguncang jiwa di setiap waktu. Tidak ada lagi lingkungan yang seluruhnya mengarah pada ibadah.
Yang ada adalah realitas. Rutinitas pekerjaan. Tekanan target. Hiruk pikuk kehidupan. Distraksi tanpa henti dari layar-layar kecil di genggaman.
Di sinilah iman diuji dalam bentuk yang lebih sunyi. Tanpa sorotan. Tanpa euforia. Tanpa suasana yang mendukung. Menjaga kekhusyukan, ternyata jauh lebih sulit daripada mendapatkannya.
Cahaya Harus Dijaga
Dari seluruh rangkaian perjalanan ini, dari niat yang bergetar saat berangkat, dari langkah kaki di Masjid Nabawi, dari doa-doa yang dipanjatkan di antara jutaan harapan umat, apa sebenarnya yang kita bawa pulang?
Bukan sekadar oleh-oleh. Bukan pula foto-foto kenangan. Yang paling berharga adalah sesuatu yang tak terlihat, yakni cahaya dalam hati.
Cahaya itu adalah keikhlasan yang sempat kita rasakan. Ketenangan yang sempat kita nikmati. Kedekatan dengan Allah yang sempat kita alami.
Namun cahaya itu rapuh. Ia bisa redup oleh kesibukan. Bisa pudar oleh ego. Bisa hilang oleh kelalaian yang perlahan menjadi kebiasaan. Maka tantangannya bukan lagi mendapatkan cahaya itu, melainkan menjaganya.
Melupakan Amal, Mengejar Ridha
Ada satu ujian yang jauh lebih halus, namun juga lebih berbahaya, yakni merasa telah melakukan sesuatu yang besar. Setelah umrah, tanpa sadar kita bisa mulai mengingat-ingat amal kita. Menghitung pengorbanan. Bahkan, mungkin, membandingkan diri dengan orang lain.
Padahal di hadapan Allah, semua itu belum tentu bernilai apa-apa. Maka mungkin, langkah terbaik justru adalah melupakan semuanya.
Melupakan amal kebaikan yang pernah kita lakukan. Menghapus rasa bangga yang diam-diam tumbuh. Kembali menjadi manusia biasa, yang lemah, yang penuh kekurangan, yang sangat membutuhkan petunjuk dan ridha Allah.
Lantaran pada akhirnya, bukan amal kita yang menentukan segalanya. Tapi ridha Allah-lah yang menjadi tujuan.
Perjalanan Tak Pernah Selesai
Tulisan ini adalah bagian terakhir dari rangkaian panjang perjalanan. Delapan belas (18) seri yang mencoba merekam jejak langkah, rasa, dan makna dari sebuah ibadah yang tidak sederhana.
Namun jika ada satu kesimpulan yang bisa ditarik, maka sesungguhnya kesimpulannya sederhana sekaligus dalam narasi umrah tak pernah benar-benar selesai.
Ia tidak berhenti saat thawaf terakhir. Tidak berakhir saat pesawat lepas landas. Tidak pula selesai ketika kita kembali menginjakkan kaki di Tanah Air. Justru di situlah ia dimulai.
Sebuah perjalanan menjaga yang tak pernah usai. Menjaga hati agar tetap lembut. Menjaga niat agar tetap lurus. Menjaga langkah agar tidak kembali pada kebiasaan lama yang menjauhkan kita dari Allah. Menjaga kesadaran untuk senantiasa memohon ampunan dan mengharap ridha-Nya.
Dalam sebuah kisah sufi, diceritakan bahwa seorang murid datang kepada gurunya setelah pulang dari perjalanan haji. Dengan penuh semangat ia berkata, “Wahai guru, aku telah Berumrah/berhaji ke Baitullah.”
Sang guru menatapnya tenang, lalu bertanya, “Ketika engkau thawaf, apakah hatimu juga mengelilingi Allah, atau hanya tubuhmu yang mengelilingi Ka’bah?” Murid itu terdiam.
Sang guru melanjutkan, “Jika yang berubah hanya langkah kakimu, maka perjalananmu telah selesai. Tetapi jika yang berubah adalah hatimu, maka perjalananmu baru saja dimulai.”
Barangkali, kita semua adalah murid dalam kisah itu. Lantaran yang diuji bukan seberapa jauh kita telah melangkah ke Tanah Suci, tetapi seberapa jauh hati kita terus berjalan menuju Allah setelah kembali.
Inilah ujian terberat. Ujian menjaga cahaya umrah di Tanah Air. Bukan tentang seberapa sering kita mengenang Madinah, tetapi seberapa mampu kita menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah Saw pernah bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini sederhana, namun menghantam kesadaran kita dengan sangat dalam. Bahwa yang Allah nilai bukan ledakan spiritual sesaat, melainkan keberlanjutan yang sunyi. Bukan puncak emosi, tetapi konsistensi yang seringkali tak terlihat.
Maka bisa jadi, menjaga satu rakaat tahajud di rumah sendiri, lebih berat daripada seratus rakaat di Tanah Suci.
Menahan lisan dari menyakiti, lebih berat daripada menahan lelah saat tawaf. Menjaga kejujuran dalam pekerjaan, lebih berat daripada antre panjang menuju Raudhah.
Di sinilah kualitas iman diuji. Ujiannya bukan dalam keramaian ibadah, tetapi dalam kesunyian keseharian.
Pada akhirnya, kita harus jujur pada diri sendiri. Kita bukan manusia suci. Kita hanyalah manusia biasa.
Hamba yang sedang berikhtiar. Hamba yang sejatinya tidak memiliki daya apa-apa. Pangkat, jabatan, dan segala atribut dunia, termasuk di dunia kerja, hanyalah titipan sementara.
Maka, biarlah kita belajar melupakan seluruh amal yang pernah kita lakukan, bukan untuk meniadakan, tetapi untuk membersihkan hati dari rasa memiliki. Mengikis perasaan “pernah dekat”, meredam bisikan “pernah berbuat”.
Bahkan terhadap amal yang kita anggap sebagai kebaikan sekalipun, kita lepaskan keterikatan itu. Sebab pada akhirnya, bukan kita yang berhak menilai; hanya Allah Swt semata yang memiliki otoritas atas diterima atau tidaknya setiap amal yang kita persembahkan.
Lalu kembali berdiri sebagai hamba yang kosong. Hamba yang hanya membawa harapan. Harapan untuk senantiasa berkomitmen sebagai insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur, yang diridhai Allah SWT.
Dalam sebuah ungkapan hikmah disebutkan: “Janganlah engkau melihat kecilnya amalmu, tetapi lihatlah kepada siapa amal itu engkau persembahkan.”
Semoga cahaya itu tetap ada. Meski kecil. Meski redup. Meski sering hampir padam. Lantaran selama ia masih menyala, selama itu pula kita masih punya harapan.
Harapan untuk terus berjalan. Harapan untuk terus kembali. Dan harapan, suatu saat nanti, dipanggil lagi ke Baitullah dengan cara yang lebih indah. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin…🤲🤲🤲 (*/habis)
Siapakah Sayyid Hasan Al-Madinah itu? Menurut keterangan Qomaruddin, tokoh Desa Bohar, Kecamatan Bedangan, Sayyid Hasan…
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto mengungkap jumlah kasus kecelakaan lalu lintas di wilayahnya…
Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP tahun 2026 di Kota Surabaya digelar berbasis…
Setelah menjalani masa jeda kompetisi Super League sekitar dua pekan dalam rangka menyambut Idulfitri, skuad…
Selama operasional Posko Mudik dan Balik Lebaran di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada 13–26 Maret…
Jumlah jamaah umrah asal Jawa Timur menunjukkan tren peningkatan pesat dalam beberapa pekan terakhir. Di…
This website uses cookies.