Kemenhaj mengimbau jemaah umrah untuk menggunakan penerbangan langsung ke tanah suci, menghindari tertahan akibat konflik Timur Tengah. (Foto: istimewa)
METROTODAY, SURABAYA – Jumlah jamaah umrah asal Jawa Timur menunjukkan tren peningkatan pesat dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah kondisi konflik di Timur Tengah yang memanas, Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Jawa Timur mengimbau jamaah serta biro travel untuk lebih selektif memilih maskapai, dengan mengutamakan penerbangan langsung tanpa transit.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Jawa Timur, Mohammad As’adul Anam, menjelaskan bahwa permasalahan utama saat ini bukan pada pelaksanaan ibadah, melainkan pada aspek transportasi udara khususnya bagi jamaah yang menggunakan rute transit.
“Problem utama umrah saat ini ada pada penerbangan. Kalau penerbangan aman dan langsung tanpa transit, maka jadwal tetap berjalan normal dan tidak ada penundaan,” ujarnya Jumat (27/3).
Menurutnya, maskapai yang menyediakan penerbangan langsung dari Indonesia ke Arab Saudi masih beroperasi sesuai jadwal, hanya saja jalur penerbangan dialihkan melalui jalur selatan demi menjamin keselamatan.
“Maskapai yang terbang langsung dari Indonesia ke Jeddah masih on schedule, hanya jalurnya dialihkan melalui jalur selatan,” jelasnya.
Anam mencontohkan, penerbangan langsung dari Jakarta, Surabaya, dan Bali menuju Jeddah hingga kini tidak mengalami kendala yang berarti.
Data dari kantornya mencatat peningkatan signifikan jumlah jamaah yang akan berangkat umrah. Tiga pekan lalu tercatat sekitar 1.700 orang, meningkat menjadi sekitar 2.500 orang pada pekan berikutnya, dan mencapai sekitar 4.500 jamaah pada data terbaru.
Di sisi lain, jumlah jamaah yang kembali ke Indonesia mengalami penurunan berturut-turut. Tiga pekan lalu tercatat sekitar 9.200 orang, kemudian turun menjadi 7.600 orang, dan terbaru sekitar 4.991 orang.
Penurunan angka kepulangan dinilai sebagai indikasi bahwa sebagian besar jamaah telah kembali dengan selamat tanpa hambatan signifikan.
Anam menegaskan bahwa kasus jamaah tertahan di luar negeri umumnya terjadi pada mereka yang menggunakan penerbangan transit, terutama di beberapa negara kawasan Timur Tengah.
“Ada jemaah yang sempat tertahan karena pesawat tidak beroperasi, bahkan harus kembali ke Jeddah dan membeli tiket baru agar bisa pulang ke Indonesia,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pada masa puncak eskalasi situasi, beberapa jamaah yang transit di negara tertentu tidak dapat melanjutkan perjalanan udara dan terpaksa menempuh perjalanan darat dengan biaya hingga puluhan juta rupiah.
Anam mengingatkan biro travel agar tidak hanya berorientasi pada keberangkatan, tetapi juga memperhatikan faktor keselamatan dan perkembangan situasi di kawasan tujuan.
“Kami berharap biro travel benar-benar memperhatikan keselamatan jemaah. Jika kondisi di sana berisiko tinggi, lebih baik keberangkatan ditunda. Keselamatan jemaah harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat yang akan menunaikan ibadah umrah untuk memastikan rute penerbangan yang digunakan adalah penerbangan langsung serta rutin memantau informasi resmi terkait kondisi perjalanan internasional. (ahm)
Taiwan kembali membidik pasar wisatawan Indonesia. Menjelang musim liburan akhir tahun dan Tahun Baru, promosi…
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan apresiasi atas penyerahan 10 unit aset rampasan negara yang…
Semangat kemerdekaan menyelimuti Griya Wreda Jambangan Kamis (13/8), saat ratusan lansia penghuni berkumpul mengikuti lomba…
Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan penjelasan lengkap terkait fluktuasi harga dan pasokan telur yang sempat…
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya mengerahkan personel serta peralatan untuk membantu penanganan kebakaran…
Meski baru saja meraih gelar juara Piala Presiden 2026, perjalanan pramusim Persebaya Surabaya belum berakhir.…
This website uses cookies.