Di lokasi Pasar Ikan dan Kuliner Ikan Bakar & Kepala Kambing sekitar 1,5 km sisi barat Masjid Nabawi. (Foto: Machsus for Metrotoday)
Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci.
———–
DI antara sekian banyak oleh-oleh yang dibawa pulang dari Tanah Suci, barangkali tidak ada yang lebih khas, lebih simbolik, dan lebih “sakral” dalam imajinasi selain air zamzam.
Kurma bisa ditemukan di banyak tempat. Sajadah bisa dibeli di mana saja. Tasbih pun demikian. Tetapi zamzam selalu terasa lain. Ia bukan sekadar air, melainkan bagian dari pengalaman spiritual itu sendiri. Ia membawa cerita, doa, jejak perjalanan, dan rasa ingin berbagi keberkahan kepada orang-orang di rumah.
Karena itulah, kami juga membawa beberapa botol kecil zamzam sebagai oleh-oleh yang terasa paling spesifik dari Tanah Suci. Ada semacam kebahagiaan sederhana dalam membayangkan air itu nanti dibagikan kepada keluarga, sahabat, atau orang-orang terdekat.
Seolah-olah kita tidak hanya membawa benda, tetapi juga sedikit suasana dari perjalanan ibadah yang baru saja dijalani. Namun perjalanan pulang, seperti hidup, kadang tetap menyimpan kejutan kecil yang tidak masuk dalam itinerary.
Saat transit di Bandara Kuala Lumpur, botol-botol kecil zamzam yang kami bawa ke kabin ternyata harus tertahan oleh petugas bandara. Aturannya jelas, dan kami pun tidak bisa banyak berargumentasi.
Pada saat itu, ada rasa sayang yang spontan muncul. Bukan semata karena nilai bendanya, tetapi karena air itu terasa istimewa. Ada rasa kasihan juga, dalam arti yang sederhana dan manusiawi: sayang sekali, oleh-oleh yang dibawa dengan niat baik, dijaga sepanjang perjalanan, justru harus berhenti sebelum benar-benar sampai ke rumah.
Tetapi mungkin memang begitu cara perjalanan mengajari kita: bahkan oleh-oleh yang suci pun tetap harus tunduk pada prosedur keamanan penerbangan.
Lalu terjadilah salah satu adegan paling khas dalam perjalanan kami. Karena botol-botol kecil itu tidak bisa dibawa naik, sementara rasanya terlalu sayang untuk dibuang begitu saja, maka jalan keluarnya hanya satu: diminum semampunya.
Kami pun mulai menenggak zamzam itu bersama-sama, dengan campuran rasa khidmat, panik kecil, dan tawa yang mulai susah ditahan. Minum zamzam yang biasanya dilakukan dengan tenang dan penuh adab, kali itu berubah sedikit menjadi “operasi penyelamatan cairan suci” di area bandara.
Awalnya masih tampak tertib. Satu botol, dua teguk. Lalu bertambah. Lalu berpindah tangan. Lalu ada yang mulai berkata, “Sudah, saya nggak kuat lagi.” Tetapi botol masih tersisa. Akhirnya diminum lagi. Sampai benar-benar terasa kelempokan.
Ada sesuatu yang lucu dalam peristiwa itu. Air yang biasanya diminum dengan harap penuh keberkahan, kali itu kami minum dengan tambahan motif yang sangat praktis: daripada tertahan sia-sia.
Spiritualitas bertemu logistik. Kekhusyukan bertemu aturan bagasi. Dan kami, seperti biasa, berada di tengah-tengahnya, berusaha tetap khusyuk sambil menahan perut yang mulai terasa penuh.
Tak butuh waktu lama, efek samping “ibadah cair” itu pun muncul dengan sangat manusiawi: kami jadi lebih cepat kebelet pipis. Perjalanan transit mendadak memiliki tantangan baru. Langkah yang semula tenang berubah sedikit lebih sigap mencari toilet terdekat.
Di titik itu kami tidak bisa lagi menahan tawa. Ada ironi yang jenaka di sana. Zamzam yang ingin kami antarkan pulang sebagai oleh-oleh, justru lebih dulu “bekerja” di tubuh kami sebelum sempat sampai kepada siapa pun.
Selain itu, sahabat kami masih bisa tersenyum atas perjuangannya, karena dari 7 botol yang seharusnya ditahan, masih bisa diselamatkan 2 botol, untungnya 2 botol ini luput dari pantauan petugas.
Tetapi begitulah kadang kenangan terbaik tercipta. Bukan dari rencana yang mulus, melainkan dari kekacauan kecil yang dijalani bersama.
Syukurlah, kami masih punya alasan besar untuk tetap lega. Zamzam ukuran lima liter yang masuk bagasi tetap aman. Oleh-oleh utama itu masih selamat dan tetap bisa dibawa pulang sebagaimana mestinya.
Jadi kesedihan kecil tadi tidak sampai berubah menjadi penyesalan besar. Bahkan setelah dipikir-pikir, ada hikmah praktis yang tidak bisa diabaikan: tas bawaan kami jadi lebih ringan. Dalam dunia para musafir, ini bukan hikmah kecil.
Dan mungkin memang begitu tabiat perjalanan spiritual: selalu ada pelajaran yang datang dengan cara yang tidak diduga. Kadang melalui keheningan masjid. Kadang melalui antrean menuju Raudhah. Kadang melalui percakapan sederhana saat makan malam.
Dan kadang, ya melalui botol-botol zamzam yang tertahan di bandara, lalu diminum bersama sampai perut penuh dan langkah menjadi lebih sering singgah ke toilet.
Pada akhirnya, peristiwa kecil itu justru menjadi salah satu kenangan yang paling hidup. Ada rasa sayang, ada rasa lucu, ada sedikit kepanikan, tetapi juga ada kebersamaan yang hangat. Kami tertawa bersama, menerima keadaan bersama, dan pulang dengan cerita yang mungkin nilainya justru lebih panjang daripada isi botol itu sendiri.
Sebab oleh-oleh memang tidak selalu hadir dalam bentuk yang utuh.
Kadang ia hadir dalam bentuk air yang tidak jadi dibagikan, tetapi berubah menjadi cerita yang terus diceritakan.
Dan bukankah pada akhirnya, cerita yang membuat kita tertawa bersama juga termasuk oleh-oleh yang layak disyukuri?
Potret Jemaah Indonesia: Antara Spiritualitas dan Logistik
Tidak lengkap rasanya membicarakan oleh-oleh tanpa menyinggung fenomena unik jamaah Indonesia, tentunya jamaah asal Madura juga. Kita adalah bangsa yang kolektif. Di Tanah Suci, sifat ini terlihat sangat jelas. Berjalan dalam rombongan. Saling menjaga. Saling mengingatkan. Saling membantu. Dan tentu saja, saling menitip oleh-oleh.
Budaya “titip” ini unik. Kadang satu orang bisa membawa daftar titipan dari banyak pihak. Bahkan tidak jarang, daftar tersebut lebih panjang daripada daftar doa pribadi. Saya pernah mendengar candaan yang rasanya terlalu akurat untuk disebut sekadar candaan, “Doa pribadi sepuluh poin, titipan oleh-oleh dua puluh lima item.”
Tetapi di balik humor itu, ada sesuatu yang indah. Kita adalah bangsa yang terbiasa membawa orang lain dalam perjalanan kita. Bahkan ketika pergi beribadah, kita tetap memikirkan siapa yang harus diingat, siapa yang harus dibahagiakan, dan siapa yang perlu dibawakan sesuatu.
Bahkan dalam urusan logistik, kreativitas jamaah Indonesia sering kali layak mendapat penghargaan tersendiri.
Ada yang menggunakan vacum bag agar ruang lebih hemat. Ada yang menyusun barang berlapis-lapis agar tidak rusak. Ada yang mendistribusikan oleh-oleh antar koper rombongan dengan strategi yang hampir menyerupai manajemen rantai pasok skala kecil. Jika semangat ini diteliti secara serius, mungkin bisa lahir mata kuliah baru: Supply Chain Management for Spiritual Travel.
Dan tentu saja, ada warna khas dari berbagai daerah. Jamaah dari Madura, misalnya, sering menghadirkan kombinasi unik antara semangat ibadah dan ketegasan dalam urusan transaksi.
Bahasanya lugas, tawar-menawar dilakukan dengan percaya diri, tetapi pada saat yang sama kekhusyukan ibadah tetap terjaga. Di situ kita melihat bahwa identitas lokal tidak hilang di Tanah Suci; ia justru hadir dalam bentuk yang lebih hangat dan manusiawi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa oleh-oleh bukan sekadar aktivitas belanja. Ia juga fenomena sosial. Di dalamnya ada solidaritas, budaya, identitas, humor, strategi, dan rasa keterhubungan yang khas Indonesia.
Oleh-Oleh yang Tak Terlihat
Di antara semua pengalaman itu, ada satu oleh-oleh yang tidak bisa difoto, tidak bisa dibungkus, dan tidak bisa ditimbang. Ia adalah rasa.
Rasa tenang ketika duduk di Masjid Nabawi. Rasa haru yang datang tanpa diundang. Rasa dekat dengan Rasulullah yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rasa bahwa hidup ternyata tidak harus selalu secepat target bulanan.
Rasa bahwa diam pun bisa menjadi ibadah. Rasa bahwa keberkahan kadang hadir bukan melalui hal besar, tetapi justru melalui hal-hal sederhana yang kita alami dengan hati yang lebih terbuka.
Perjalanan ini akhirnya mengajarkan satu hal sederhana, tetapi sering terlupakan: tidak semua oleh-oleh bisa dibungkus.
Ada oleh-oleh yang berupa rasa syukur yang lebih dalam. Ada oleh-oleh yang berupa kesadaran bahwa hidup tidak harus selalu tergesa. Ada oleh-oleh yang berupa perubahan cara pandang, dari yang semula fokus pada pencapaian, menjadi lebih menghargai perjalanan.
Dan yang paling penting, ada oleh-oleh berupa kedekatan yang lebih tulus, baik dengan Tuhan, maupun dengan sesama.
Di Madinah, saya belajar bahwa kekeliruan kecil. Seperti salah masuk restoran, bisa menjadi pintu menuju pelajaran besar. Bahwa langkah kaki sejauh satu setengah kilometer bisa membawa kita bukan hanya ke tempat baru, tetapi juga ke pemahaman baru.
Dan bahwa percakapan sederhana di meja makan bisa lebih mengenyangkan daripada hidangan itu sendiri.
Saya juga belajar bahwa pengalaman spiritual tidak berkurang ketika dibagikan. Justru ia tumbuh. Seperti cahaya yang tidak habis karena menyalakan cahaya lain. Seperti rasa syukur yang justru menjadi lebih kuat ketika diceritakan. Seperti ketenangan yang ikut merembes ketika seseorang pulang dan membawa perubahan itu ke dalam sikap sehari-hari.
Barang bisa habis. Cokelat bisa dimakan. Kurma bisa dibagi. Sajadah bisa dipakai. Parfum bisa menguap. Tetapi pengalaman spiritual, bila sungguh meresap, tidak habis oleh waktu. Ia bisa mengubah cara memandang hidup, memperhalus cara bersikap, dan memperdalam cara beribadah.
Sejatinya yang Dibawa Pulang?
Ketika koper akhirnya ditutup, saya menyadari bahwa sebagian besar isinya memang penuh dengan oleh-oleh yang terlihat. Ada barang-barang untuk anak-anak, keluarga, dan sahabat. Semua itu penting. Semua itu membahagiakan. Semua itu bagian dari tradisi berbagi yang indah.
Namun ada satu ruang lain yang juga penuh, ruang yang tidak bisa ditimbang, tidak bisa diperiksa di bandara, dan tidak bisa dibeli dengan uang.
Ruang itu adalah hati.
Di sanalah tersimpan makan malam sederhana yang terasa lebih dalam daripada jamuan mewah. Di sanalah tersimpan langkah kaki menuju pasar ikan yang ternyata mengantar pada pelajaran tentang rasa cukup.
Di sanalah tersimpan keheningan Masjid Nabawi yang mengajari hati untuk tidak selalu gaduh. Di sanalah tersimpan kerinduan, haru, sabar, syukur, dan sedikit perubahan cara pandang yang mungkin baru benar-benar terasa setelah pulang.
Pada akhirnya, perjalanan ini mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam. Oleh-oleh terbaik bukanlah yang paling mahal, paling banyak, atau paling eksklusif.
Oleh-oleh terbaik adalah yang paling mengubah.
Mungkin ia hadir dalam bentuk kesabaran yang lebih panjang. Mungkin dalam bentuk keikhlasan yang lebih dalam. Mungkin dalam bentuk kesadaran bahwa hidup ini tidak sepenuhnya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang apa yang kita maknai.
Mungkin pula dalam bentuk keputusan-keputusan kecil setelah pulang: menjadi lebih lembut dalam berbicara, lebih lapang dalam menerima orang lain, lebih tertib dalam ibadah, lebih jujur dalam bekerja, lebih peka terhadap nikmat yang selama ini dianggap biasa.
Di bandara, koper-koper akan ditimbang. Barang-barang akan dihitung. Tidak ada petugas yang akan bertanya berapa kilogram syukur yang kita bawa. Tidak ada label bagasi untuk ketenangan. Tidak ada barcode untuk air mata yang jatuh di sela-sela doa. Tidak ada bea masuk untuk rasa haru yang menetap lama setelah perjalanan usai.
Barangkali, di situlah letak rahasianya.
Bahwa perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar tentang pergi dan kembali. Ia bukan hanya perpindahan geografis dari satu negara ke negara lain. Ia bukan semata perpindahan fisik dari hotel ke masjid, dari pelataran ke Raudhah, dari pusat belanja ke bandara.
Ia adalah perjalanan untuk menjadi seseorang yang sedikit berbeda saat pulang.
Sedikit lebih teduh.
Sedikit lebih sabar.
Sedikit lebih peka.
Sedikit lebih tahu mana yang penting dan mana yang sekadar ramai.
Dan mungkin, oleh-oleh yang paling berharga bukanlah yang kita masukkan ke dalam koper, melainkan yang diam-diam menetap, tumbuh, dan hidup di dalam hati.
Karena pada akhirnya, perjalanan spiritual bukan tentang apa yang kita bawa pulang, tetapi tentang siapa kita ketika kita pulang. (*/bersambung)
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto mengungkap jumlah kasus kecelakaan lalu lintas di wilayahnya…
Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP tahun 2026 di Kota Surabaya digelar berbasis…
Setelah menjalani masa jeda kompetisi Super League sekitar dua pekan dalam rangka menyambut Idulfitri, skuad…
Selama operasional Posko Mudik dan Balik Lebaran di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada 13–26 Maret…
Jumlah jamaah umrah asal Jawa Timur menunjukkan tren peningkatan pesat dalam beberapa pekan terakhir. Di…
Pemkot Surabaya bekerja sama dengan aparat penegak hukum (APH) dan PT Peruri Wira Timur (PWT)…
This website uses cookies.