Dari Anak Penjual Pecel hingga Sutradara Nasional, Bayu Skak Buktikan Bahasa Daerah Bisa Mendunia

Namun Bayu memilih bertahan pada idealismenya. Baginya, yang membuat penonton datang ke bioskop bukan semata-mata bahasa yang digunakan, melainkan kekuatan cerita yang disampaikan.

Keyakinan itu akhirnya terbayar melalui Yowis Ben pada 2018. Film yang sebagian besar menggunakan dialog berbahasa Jawa (Jawa Timuran) tersebut sukses besar di bioskop dan melahirkan beberapa sekuel, sekaligus mengubah cara pandang industri terhadap film berbahasa daerah.

Bayu pun semakin yakin dan terus menghadirkan karya-karya seperti Lara Ati, Sekawan Limo, hingga Cocote Tonggo yang seluruhnya tetap menjadikan budaya dan bahasa Jawa sebagai identitas utama.

Untuk menjaga idealismenya tetap hidup, Bayu mendirikan Skak Studios pada 2019. Rumah produksi ini dibangun dengan visi mengangkat cerita-cerita lokal yang erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui Skak Studios, Bayu tidak hanya menyutradarai film, tetapi juga membuka ruang bagi talenta daerah untuk berkembang tanpa harus meninggalkan asal budayanya.

Perjalanan Bayu belum berhenti. Setelah sukses dengan film terakhir yakni Sekawan Limo 2, Bayu kini menggarap FOuFO, sebuah film komedi fiksi ilmiah yang mengambil latar Madura dan menggunakan dominasi 70 persen dialog berbahasa Madura.

Dilansir dari Kompas, Bayu menyebut proyek ini sebagai bagian dari komitmennya untuk terus melestarikan keberagaman bahasa daerah melalui media perfilman.

Perjalanan Bayu Skak menjadi bukti bahwa identitas lokal bukanlah hambatan menuju kesuksesan. Dari seorang remaja yang iseng merekam video bersama teman-teman SMK, menjadi YouTuber yang dikenal luas, hingga menjelma sebagai sutradara dengan rumah produksi sendiri.

Bayu membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari kota kecil. Justru dari bahasa daerah itulah lahir karya-karya yang menginspirasi, sekaligus memperkaya wajah perfilman Indonesia. (eza/mt)

Namun Bayu memilih bertahan pada idealismenya. Baginya, yang membuat penonton datang ke bioskop bukan semata-mata bahasa yang digunakan, melainkan kekuatan cerita yang disampaikan.

Keyakinan itu akhirnya terbayar melalui Yowis Ben pada 2018. Film yang sebagian besar menggunakan dialog berbahasa Jawa (Jawa Timuran) tersebut sukses besar di bioskop dan melahirkan beberapa sekuel, sekaligus mengubah cara pandang industri terhadap film berbahasa daerah.

Bayu pun semakin yakin dan terus menghadirkan karya-karya seperti Lara Ati, Sekawan Limo, hingga Cocote Tonggo yang seluruhnya tetap menjadikan budaya dan bahasa Jawa sebagai identitas utama.

Untuk menjaga idealismenya tetap hidup, Bayu mendirikan Skak Studios pada 2019. Rumah produksi ini dibangun dengan visi mengangkat cerita-cerita lokal yang erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui Skak Studios, Bayu tidak hanya menyutradarai film, tetapi juga membuka ruang bagi talenta daerah untuk berkembang tanpa harus meninggalkan asal budayanya.

Perjalanan Bayu belum berhenti. Setelah sukses dengan film terakhir yakni Sekawan Limo 2, Bayu kini menggarap FOuFO, sebuah film komedi fiksi ilmiah yang mengambil latar Madura dan menggunakan dominasi 70 persen dialog berbahasa Madura.

Dilansir dari Kompas, Bayu menyebut proyek ini sebagai bagian dari komitmennya untuk terus melestarikan keberagaman bahasa daerah melalui media perfilman.

Perjalanan Bayu Skak menjadi bukti bahwa identitas lokal bukanlah hambatan menuju kesuksesan. Dari seorang remaja yang iseng merekam video bersama teman-teman SMK, menjadi YouTuber yang dikenal luas, hingga menjelma sebagai sutradara dengan rumah produksi sendiri.

Bayu membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari kota kecil. Justru dari bahasa daerah itulah lahir karya-karya yang menginspirasi, sekaligus memperkaya wajah perfilman Indonesia. (eza/mt)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait