Dari data yang ada, Dahnil menyebutkan mayoritas jemaah yang meninggal dunia menderita gangguan pernapasan dan jantung, serta memiliki riwayat penyakit bawaan atau komorbid. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan ke depan akan difokuskan pada penyakit-penyakit yang paling sering memicu kematian di Tanah Suci.
“Mayoritas penyebabnya adalah pneumonia, sesak napas, tekanan darah tinggi, dan gangguan jantung. Sebab banyak dari mereka memang sudah memiliki penyakit komorbid sejak di dalam negeri sebelum berangkat,” ungkapnya.
Sementara itu, Plt Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Jawa Timur sekaligus Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, menambahkan bahwa faktor kelelahan menjadi pemicu utama yang memperparah kondisi kesehatan jemaah. Hal ini terutama terlihat setelah mereka melaksanakan rangkaian ibadah di Padang Arafah dan Armuzna.
“Pemicu utamanya adalah gangguan fungsi jantung akibat kelelahan. Oleh karena itu, hal ini akan menjadi bahan evaluasi kami. Ke depannya, penanganan terhadap kondisi fisik jemaah akan ditingkatkan agar lebih maksimal, terutama dalam mengantisipasi dampak kelelahan selama menjalankan ibadah,” pungkasnya. (ahm)
Page: 1 2
Persiapan Timnas Inggris menuju laga perdana Piala Dunia 2026 menghadapi Kroasia mendapat gangguan tak terduga.…
Di tengah kemeriahan Piala Dunia 2026, muncul kritik tajam terhadap sistem imigrasi di Amerika. Sejumlah…
Timnas Kanada gagal meraih kemenangan pada pertandingan pembuka Grup B Piala Dunia 2026. Kanada ditahan…
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menjadikan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 sebagai momentum memperkuat komitmen menjaga…
PDinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) kembali menggelar pemeriksaan sekaligus pelayanan tera…
Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)…
This website uses cookies.