Waspada! Tanpa Vaksin Wajib Meningitis hingga Polio, Jemaah Haji Bisa Bermasalah di Arab Saudi

METROTODAY, SURABAYA – Menjelang keberangkatan haji tahun ini pada 22 April, kondisi kesehatan para calon jemaah dinilai jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.

Embarkasi Surabaya yang akan memberangkatkan total 43.200 jemaah dari Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam 116 kloter. Tahun ini, keberangkatan jemaah mencatat penurunan signifikan kasus risiko tinggi (risti) kesehatan.

Terkait persyaratan kesehatan, vaksinasi menjadi hal wajib yang harus dipenuhi jemaah sesuai ketentuan pemerintah Arab Saudi. Jenis vaksin yang diwajibkan antara lain untuk Meningitis dan Polio, sementara vaksin flu bersifat opsional atau anjuran.

Plt Kakanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Jatim, Mohammad As’adul Anam, menegaskan bahwa status vaksinasi ini terekam dalam sistem digital melalui kartu nusuk yang akan dibawah jemaah selama berada di tanah suci.

“Vaksin itu wajib. Nanti akan terdeteksi di sistem Nusuk juga. Jadi data Siskohatkes otomatis akan terintegrasi dengan pelaporan kesehatan di Arab Saudi. Kalau nggak ada, ini akan menjadi problem bagi jemaah sendiri,” tegas Anam.

Meskipun demikian, pihak medis tetap memberikan pengecualian atau pertimbangan khusus bagi kondisi tertentu, seperti ibu hamil, jemaah yang risti dengan mengacu pada rekomendasi medis dari dokter spesialis agar dapat laik terbang ke tanah suci.

Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya, Rosidi Roslan mengatakan bahwa pihaknya telah memantau kondisi para jemaah sejak tahap awal. Berdasarkan data yang diterima, tren kesehatan jemaah tahun ini menunjukkan perbaikan yang menggembirakan.

“Secara keseluruhan, saya sudah mendapatkan informasi mengenai jemaah haji yang sudah istitha’ah (layak berhaji). Alhamdulillah, kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kondisi kesehatan jemaah haji yang sekarang lebih bagus,” tutur Rosidi.

Menurutnya, salah satu indikator positif yang terlihat adalah berkurangnya jumlah jemaah yang menggunakan kursi roda. Hal ini menjadi bukti bahwa seleksi kesehatan dilakukan lebih ketat.

Rosidi juga menambahkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan daerah untuk memantau kondisi jemaah agar tetap prima hingga hari keberangkatan.

“Kami imbau agar kondisi kesehatan tetap dijaga dan dipantau, jangan sampai ketika akan berangkat kondisinya justru memburuk,” tegasnya.

Menghadapi kedatangan jemaah terbanyak di Indonesia ini di Asrama Haji Surabaya, BBKK telah menyiapkan sumber daya manusia dan fasilitas yang memadai.

Lebih dari 20 personel medis mulai dari dokter, perawat, tenaga farmasi, hingga petugas administrasi disiagakan setiap harinya dalam sistem shift.

Tidak hanya itu, dukungan fasilitas seperti ambulans juga dikerahkan bekerja sama dengan fasilitas kesehatan (fasyankes) dan rumah sakit di Jawa Timur.

Dengan persiapan yang matang, risiko kesehatan yang tergolong tinggi diprediksi berada di angka di bawah 30 persen dan dinilai masih bisa dikendalikan dengan baik.

“Risikonya sekarang bisa kita kondisikan, mungkin kurang dari 30 persen dengan risiko tinggi (risti). Karena di masing-masing kabupaten/kota sudah memastikan bahwa jemaah yang berangkat benar-benar sehat, fisik kuat, dan mentalnya bagus,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Menjelang keberangkatan haji tahun ini pada 22 April, kondisi kesehatan para calon jemaah dinilai jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.

Embarkasi Surabaya yang akan memberangkatkan total 43.200 jemaah dari Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam 116 kloter. Tahun ini, keberangkatan jemaah mencatat penurunan signifikan kasus risiko tinggi (risti) kesehatan.

Terkait persyaratan kesehatan, vaksinasi menjadi hal wajib yang harus dipenuhi jemaah sesuai ketentuan pemerintah Arab Saudi. Jenis vaksin yang diwajibkan antara lain untuk Meningitis dan Polio, sementara vaksin flu bersifat opsional atau anjuran.

Plt Kakanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Jatim, Mohammad As’adul Anam, menegaskan bahwa status vaksinasi ini terekam dalam sistem digital melalui kartu nusuk yang akan dibawah jemaah selama berada di tanah suci.

“Vaksin itu wajib. Nanti akan terdeteksi di sistem Nusuk juga. Jadi data Siskohatkes otomatis akan terintegrasi dengan pelaporan kesehatan di Arab Saudi. Kalau nggak ada, ini akan menjadi problem bagi jemaah sendiri,” tegas Anam.

Meskipun demikian, pihak medis tetap memberikan pengecualian atau pertimbangan khusus bagi kondisi tertentu, seperti ibu hamil, jemaah yang risti dengan mengacu pada rekomendasi medis dari dokter spesialis agar dapat laik terbang ke tanah suci.

Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya, Rosidi Roslan mengatakan bahwa pihaknya telah memantau kondisi para jemaah sejak tahap awal. Berdasarkan data yang diterima, tren kesehatan jemaah tahun ini menunjukkan perbaikan yang menggembirakan.

“Secara keseluruhan, saya sudah mendapatkan informasi mengenai jemaah haji yang sudah istitha’ah (layak berhaji). Alhamdulillah, kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kondisi kesehatan jemaah haji yang sekarang lebih bagus,” tutur Rosidi.

Menurutnya, salah satu indikator positif yang terlihat adalah berkurangnya jumlah jemaah yang menggunakan kursi roda. Hal ini menjadi bukti bahwa seleksi kesehatan dilakukan lebih ketat.

Rosidi juga menambahkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan daerah untuk memantau kondisi jemaah agar tetap prima hingga hari keberangkatan.

“Kami imbau agar kondisi kesehatan tetap dijaga dan dipantau, jangan sampai ketika akan berangkat kondisinya justru memburuk,” tegasnya.

Menghadapi kedatangan jemaah terbanyak di Indonesia ini di Asrama Haji Surabaya, BBKK telah menyiapkan sumber daya manusia dan fasilitas yang memadai.

Lebih dari 20 personel medis mulai dari dokter, perawat, tenaga farmasi, hingga petugas administrasi disiagakan setiap harinya dalam sistem shift.

Tidak hanya itu, dukungan fasilitas seperti ambulans juga dikerahkan bekerja sama dengan fasilitas kesehatan (fasyankes) dan rumah sakit di Jawa Timur.

Dengan persiapan yang matang, risiko kesehatan yang tergolong tinggi diprediksi berada di angka di bawah 30 persen dan dinilai masih bisa dikendalikan dengan baik.

“Risikonya sekarang bisa kita kondisikan, mungkin kurang dari 30 persen dengan risiko tinggi (risti). Karena di masing-masing kabupaten/kota sudah memastikan bahwa jemaah yang berangkat benar-benar sehat, fisik kuat, dan mentalnya bagus,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait