Luis De La Fuente, adalah pelatih dengan karir paling sukses. Makin tua, prestasinya makin mengkilap. (foto:forbes.com).
METROTODAY.ID, MADRID– Tak banyak yang menyangka Luis de la Fuente, pelatih Timnas Spanyol akan menjadi sosok yang membawa tim matador kembali ke singgasana sepak bola dunia.
Keberhasilan membawa La Furia Roja (julukan Spanyol) menundukkan Argentina dalam partai final yang dramatis di pentas Piala Dunia menjadi momen bersejarah. Hal tersebut sekaligus menobatkan De la Fuente sebagai pelatih tertua sepanjang sejarah yang berhasil menjuarai Piala Dunia di usia 65 tahun, melampaui rekor terdahulu milik Vicente del Bosque yang menjuarainya pada usia 59 tahun di edisi 2010.
Saat ditunjuk menggantikan Luis Enrique pada akhir 2022, keputusannya sempat dipandang sebelah mata. Ia bukan pelatih dengan segudang trofi di level klub, bahkan pernah merasakan pahitnya dipecat oleh Athletic Bilbao B dan Deportivo Alaves.
Namun empat tahun berselang, pria kelahiran Haro itu justru menorehkan sejarah sebagai pelatih yang mengantar La Roja meraih UEFA Nations League, Euro 2024, dan kini Piala Dunia 2026. Di usia 65 tahun 29 hari, De la Fuente juga resmi menjadi pelatih tertua yang pernah menjuarai Piala Dunia.
Transfermarkt mencatat, karier kepelatihannya dimulai pada 1997 bersama Club Portugalete di kasta kedua sepak bola Spanyol (Segunda Division) sebelum berlanjut ke Aurrera de Vitoria. Di sana, ia gagal bertahan lama, bahkan hanya memainkan dua laga dan diberhentikan pada 2001.
Setelah membina akademi Sevilla, De la Fuente hijrah ke Athletic Club untuk menangani tim muda dan Bilbao Athletic. Meski dikenal piawai mengembangkan pemain muda, hasil yang kurang memuaskan membuat masa baktinya di tim cadangan Athletic berakhir. Pada 2011 ia dipercaya menangani Deportivo Alaves, tetapi kembali kehilangan pekerjaannya hanya tiga bulan akibat rentetan hasil buruk Titik balik kariernya datang ketika bergabung dengan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) pada 2013. Bersama Spanyol U-19, ia langsung mempersembahkan gelar Piala Eropa U-19 2015.
Kesuksesan itu berlanjut dengan medali emas Mediterranean Games 2018 bersama tim U-18, lalu membawa Spanyol U-21 menjuarai Euro U-21 2019 serta meraih medali perak Olimpiade Tokyo 2020 bersama tim U-23. Rentetan prestasi tersebut membuatnya menjadi pelatih pertama dalam sejarah Spanyol yang sukses menjuarai Euro di level U-19, U-21, dan tim senior.
Fondasi yang ia bangun di kelompok umur terbukti menjadi modal utama saat menangani tim senior. The Guardian melaporkan, banyak sekali pemain yang pernah dibimbingnya sejak usia belia kemudian menjadi tulang punggung La Roja di Piala Dunia 2026. Nama-nama seperti Unai Simón, Martín Zubimendi, Mikel Oyarzabal, Mikel Merino, Ferran Torres, Alex Baena, Pedri, Gavi, Lamine Yamal, hingga Pau Cubarsí merupakan bagian dari generasi yang tumbuh dalam sistem pembinaan De la Fuente.
Kepercayaan terhadap pemain muda menjadi ciri khasnya sekaligus membuatnya lebih spesial dibanding era sebelumnya. Di level senior, sentuhan De la Fuente langsung menghasilkan trofi UEFA Nations League 2023, disusul Euro 2024, sebelum menyempurnakan pencapaiannya lewat gelar Piala Dunia 2026.
Kepercayaan RFEF terhadap De la Fuente juga terus menguat. Setelah sukses membawa Spanyol menjuarai Euro 2024, federasi memperpanjang kontraknya hingga Euro 2028, sebuah bentuk apresiasi atas keberhasilannya membangun regenerasi yang mulus dari level usia muda menuju tim nasional senior.
Di bawah arahannya, Spanyol mencatat rekor tidak terkalahkan dalam 38 pertandingan dan hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen Piala Dunia. Keberhasilan tersebut mempertegas dominasi La Roja yang dalam beberapa tahun terakhir juga berjaya di sepak bola putra, putri, hingga kelompok umur.
Dalam konferensi pers usai final, People mewartakan De la Fuente mengakui keberhasilan tersebut merupakan buah dari kebersamaan seluruh skuad, bukan hasil kerja satu orang. “Kami adalah tim yang paling bersatu. Para pemain ini adalah keluarga. Mereka memiliki nilai-nilai luar biasa dan pantas menikmati momen ini,” ujar sang pelatih, saat diwawancarai awak media, dilansir dari Reuters.
Sosok “Pak Tua Fuente” sangat dihormati oleh anak buahnya. Ketika ditanya mengenai nazar beberapa pemain yang ingin menato wajahnya, ia hanya tertawa sambil berkata bahwa dirinya bangga dengan rasa hormat yang ditunjukkan anak asuhnya.
Luis de la Fuente dikenal mengusung sepak bola yang tetap berakar pada identitas khas Spanyol, tetapi dengan pendekatan yang lebih vertikal, cepat, dan pragmatis. Pelatih berusia 65 tahun itu menjadikan 4-3-3 sebagai formasi andalan, dengan fleksibilitas beralih ke 4-2-3-1 atau 4-1-4-1 sesuai kebutuhan pertandingan.
Permainannya bertumpu pada penguasaan bola yang efektif, tekanan tinggi setelah kehilangan bola (counter-pressing), serta transisi menyerang yang cepat melalui eksploitasi kedua sayap.
Di lini tengah, Rodri atau Martín Zubimendi berperan sebagai pengatur ritme sekaligus pelindung pertahanan, sementara gelandang kreatif seperti Pedri, Gavi, dan Fabián Ruiz diberi kebebasan membangun serangan. Di depan, kecepatan Lamine Yamal dan Nico Williams menjadi senjata utama untuk membongkar pertahanan lawan melalui situasi satu lawan satu dan umpan-umpan berbahaya ke kotak penalti.
Perpaduan antara penguasaan bola, pressing agresif, dan serangan yang lebih langsung inilah yang membuat Spanyol tampil dominan hingga menjuarai Euro 2024 dan Piala Dunia 2026. Keberhasilan itu menuai pujian luas dari pengamat sepak bola. Associated Press menyebut De la Fuente sebagai arsitek yang berhasil mempertahankan identitas permainan Spanyol sambil memberi ruang bagi generasi baru untuk berkembang.
Di bawah arahan De la Fuente, pertahanan Spanyol juga sangatlah solid. Mereka hanya kebobolan satu gol dalam delapan pertandingan Piala Dunia. Berkatnya juga, Pau Cubarsi meraih penghargaan pemain muda terbaik Piala Dunia 2026.
FIFA juga menilai kekuatan utama Spanyol bukan hanya kualitas individu, melainkan kesinambungan filosofi permainan yang telah dibangun De la Fuente sejak menangani tim-tim junior.
Di Spanyol sendiri, kemenangan atas Argentina disambut gegap gempita. Ribuan suporter memenuhi Plaza de Colón di Madrid, Plaza de España di Sevilla, hingga pusat kota Bilbao. Tagar #GraciasLuis, #DeLaFuenteQuédate, dan #CampeonesDelMundo menjadi tren di media sosial.
Banyak pendukung meminta RFEF mempertahankan De la Fuente selama mungkin karena dinilai telah membangun salah satu generasi terbaik dalam sejarah sepak bola Spanyol. Sejumlah media seperti Marca, AS, dan Mundo Deportivo menyebut keberhasilannya sebagai bukti bahwa kesabaran membangun pemain muda mampu mengalahkan budaya instan dalam sepak bola modern. (Ezaar)
Bandung kembali "gaduh", tapi kali ini bukan soal euforia juara. Persib Bandung resmi mengumumkan Mariano…
Setelah 14 tahun berada di bawah komando Didier Deschamps, Timnas Prancis akhirnya memasuki babak baru.…
Pemkot Surabaya memperketat pengawasan penyelenggaraan parkir di kawasan usaha, meliputi pusat perbelanjaan, restoran, hingga kafe.…
Pemerataan layanan pendidikan hingga wilayah terpencil kembali menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Wakil Bupati Sidoarjo…
Pemkot Surabaya menyatakan kesiapan penuh menjadi tuan rumah salah satu gelaran Piala Presiden 2026. Berbagai…
Seorang santri pondok pesantren didampingi pengurus datang bukan untuk laporan kebakaran, melainkan meminta bantuan melepas…
This website uses cookies.