Namun, di balik kemegahan peresmian tersebut, aroma kontroversi sempat merebak di jajaran direksi klub sebelum kesepakatan ini ketuk palu.
Penunjukan Amorim yang digagas langung oleh Zlatan Ibrahimovic selaku penasihat senior kabarnya sempat ditentang fraksi direksi lain yang lebih condong memilih pelatih lokal berpengalaman seperti Massimiliano Allegri demi meminimalisasi risiko adaptasi.
Selain itu, proses negosiasi yang berjalan sangat senyap tanpa kabar sempat membuat agen Amorim dituduh bermain dua kaki dengan klub Liga Primer Inggris, sebelum akhirnya Milan merampungkan kesepakatan secara kilat.
Revolusi yang ditawarkan Amorim ke Milanello mengundang sentilan dari mantan pelatih legendaris AC Milan, Fabio Capello. Pria yang mempersembahkan trofi Liga Champions 1994 bagi Milan ini memberikan analisis kritis.
“Amorim memiliki karisma kepemimpinan yang luar biasa modern, auranya mirip dengan apa yang kita lihat pada Jose Mourinho muda. Namun, dia harus ingat bahwa Serie A adalah ajang uji taktik yang paling kejam di dunia. Bermain tiga bek di Italia membutuhkan transisi yang sempurna, atau anda memilih dihabisi lewat serangan balik cepat. Jika para pemain tidak langsung menyerap idenya dalam dua bulan pertama, tekanan publik San Siro akan terasa sangat mencekik,” ujar Capello secara blak-blakan, dikutip dari Marca.
Senada dengan Capello, mantan bek tangguh Milan, Alessandro Costacurta, turut menambahkan bahwa kunci keberhasilan Amorim terletak pada bagaimana dia mengelola ego ruang ganti yang dihuni pemain bintang seperti Rafael Leao dan Mike Maignan.
Menurutnya, Amorim memiliki rekam jejak yang bagus dalam mengorbitkan pemain muda, namun menangani tekanan di Milan adalah level pembuktian yang sama sekali berbeda bagi karier kepelatihannya. (ezaar/mt)
Namun, di balik kemegahan peresmian tersebut, aroma kontroversi sempat merebak di jajaran direksi klub sebelum kesepakatan ini ketuk palu.
Penunjukan Amorim yang digagas langung oleh Zlatan Ibrahimovic selaku penasihat senior kabarnya sempat ditentang fraksi direksi lain yang lebih condong memilih pelatih lokal berpengalaman seperti Massimiliano Allegri demi meminimalisasi risiko adaptasi.
Selain itu, proses negosiasi yang berjalan sangat senyap tanpa kabar sempat membuat agen Amorim dituduh bermain dua kaki dengan klub Liga Primer Inggris, sebelum akhirnya Milan merampungkan kesepakatan secara kilat.
Revolusi yang ditawarkan Amorim ke Milanello mengundang sentilan dari mantan pelatih legendaris AC Milan, Fabio Capello. Pria yang mempersembahkan trofi Liga Champions 1994 bagi Milan ini memberikan analisis kritis.
“Amorim memiliki karisma kepemimpinan yang luar biasa modern, auranya mirip dengan apa yang kita lihat pada Jose Mourinho muda. Namun, dia harus ingat bahwa Serie A adalah ajang uji taktik yang paling kejam di dunia. Bermain tiga bek di Italia membutuhkan transisi yang sempurna, atau anda memilih dihabisi lewat serangan balik cepat. Jika para pemain tidak langsung menyerap idenya dalam dua bulan pertama, tekanan publik San Siro akan terasa sangat mencekik,” ujar Capello secara blak-blakan, dikutip dari Marca.
Senada dengan Capello, mantan bek tangguh Milan, Alessandro Costacurta, turut menambahkan bahwa kunci keberhasilan Amorim terletak pada bagaimana dia mengelola ego ruang ganti yang dihuni pemain bintang seperti Rafael Leao dan Mike Maignan.
Menurutnya, Amorim memiliki rekam jejak yang bagus dalam mengorbitkan pemain muda, namun menangani tekanan di Milan adalah level pembuktian yang sama sekali berbeda bagi karier kepelatihannya. (ezaar/mt)