Dari sisi perilaku konsumsi, Amin menyampaikan kabar baik bahwa hingga saat ini belum terindikasi adanya fenomena panic buying atau pembelian panik di tengah masyarakat.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, warga terlihat tenang dan hanya membeli kebutuhan sesuai keperluan rumah tangga.
“Pembelian dalam jumlah besar lebih banyak dilakukan oleh pedagang atau pelaku usaha untuk kepentingan distribusi dan penjualan kembali. Kalau masyarakat umum sejauh ini belanja secukupnya, belum ada fenomena memborong bahan pokok secara berlebihan,” jelasnya.
Kondisi serupa juga teramati saat pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di berbagai wilayah Surabaya.
Warga terlihat berbelanja secara wajar tanpa ada indikasi penimbunan. Menurutnya, pembatasan pembelian dalam jumlah besar di GPM hanya pernah diterapkan pada saat penjualan minyak goreng bersubsidi semata-mata agar distribusinya merata dan tidak diambil habis oleh oknum tertentu.
Oleh karena itu, Amin mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak perlu khawatir, apalagi membeli bahan pangan secara berlebihan.
Selain pasokan dan distribusi yang aman, pemborosan justru akan terjadi jika bahan makanan menumpuk, rusak, atau tidak terpakai sehingga berakhir menjadi sampah makanan.
“Masyarakat diimbau membeli kebutuhan pangan secukupnya sesuai kebutuhan rumah tangga. Pembelian dalam jumlah berlebihan justru berisiko menimbulkan sampah makanan karena bahan pangan tidak terpakai atau rusak sebelum dikonsumsi. Karena itu, masyarakat diminta berbelanja secara bijak dan sesuai kebutuhan,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pemerintah terus melakukan pengawasan ketat terhadap dinamika pasar global, seperti ketegangan krisis di Timur Tengah dan penguatan nilai tukar dolar AS yang berpotensi memengaruhi harga sejumlah komoditas impor.
Langkah antisipatif ini diambil demi memastikan stabilitas pasokan dan harga bahan pokok tetap terjaga selama momen Idul Adha dan libur panjang mendatang.
“Masyarakat tidak perlu panik. Stok pangan aman dan pemerintah terus melakukan pemantauan agar kebutuhan pokok tetap terkendali,” pungkasnya. (ahm)

