Kampus perlu membangun keberanian institusional dalam mengaudit kebijakan secara ilmiah, membaca risiko penguasaan regulasi oleh kepentingan sempit, dan menyampaikan rekomendasi berbasis data meskipun tidak populer. Itulah peran kampus dalam statecraft, yakni membantu negara dikelola dengan ilmu, teknologi, regulasi, dan etika publik.
Marwah kampus tidak ditegakkan dengan slogan. Ia ditegakkan dengan integritas, riset yang jujur, kritik yang beradab, keberanian berbasis ilmu, dan kedekatan kepada rakyat.
Pada akhirnya, state capture hanya bisa dilawan oleh negara yang kuat, masyarakat yang sadar, pers yang merdeka, dan kampus yang tidak membisu. Bila negara membutuhkan nakhoda, kampus harus menjadi kompas moralnya. Sebab tugas akademisi di kampus bukan hanya mencerdaskan manusia, melainkan menjaga agar kecerdasan tidak tunduk kepada kekuasaan, tidak dibeli oleh kepentingan, dan tidak diam ketika keadilan dibelokkan.
Lantaran itu, marilah kita jaga marwah kampus, agar ilmu tetap berpihak kepada kebenaran, kampus tetap dekat dengan rakyat, dan kebebasan mimbar akademik tak pernah kehilangan keberanian moralnya. (*)
Unit Garda Ksatria Airlangga mengerahkan tim aju tanggap darurat untuk membantu penanganan korban gempa bumi…
Berbeda dengan upacara yang umumnya digelar di kantor, sekolah, maupun istana negara, ratusan pendaki dan…
Fenomena pendaki yang ingin melakukan upacara 17 Agustus di puncak gunung semakin tinggi. Selain semangat…
Polisi bergerak cepat dan berhasil menangkap terduga pelaku pelemparan benda terbakar ke Pos Polisi Lalu…
Duka mendalam menyelimuti warga Desa Liang Deruk, Kecamatan Lambaleda Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara…
Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur…
This website uses cookies.