Kampus perlu membangun keberanian institusional dalam mengaudit kebijakan secara ilmiah, membaca risiko penguasaan regulasi oleh kepentingan sempit, dan menyampaikan rekomendasi berbasis data meskipun tidak populer. Itulah peran kampus dalam statecraft, yakni membantu negara dikelola dengan ilmu, teknologi, regulasi, dan etika publik.
Marwah kampus tidak ditegakkan dengan slogan. Ia ditegakkan dengan integritas, riset yang jujur, kritik yang beradab, keberanian berbasis ilmu, dan kedekatan kepada rakyat.
Pada akhirnya, state capture hanya bisa dilawan oleh negara yang kuat, masyarakat yang sadar, pers yang merdeka, dan kampus yang tidak membisu. Bila negara membutuhkan nakhoda, kampus harus menjadi kompas moralnya. Sebab tugas akademisi di kampus bukan hanya mencerdaskan manusia, melainkan menjaga agar kecerdasan tidak tunduk kepada kekuasaan, tidak dibeli oleh kepentingan, dan tidak diam ketika keadilan dibelokkan.
Lantaran itu, marilah kita jaga marwah kampus, agar ilmu tetap berpihak kepada kebenaran, kampus tetap dekat dengan rakyat, dan kebebasan mimbar akademik tak pernah kehilangan keberanian moralnya. (*)
Pemkot Surabaya resmi membuka akses Jalan Radial Road Lontar. Pembukaan jalan di kawasan Surabaya Barat…
Lelly Lailiyah Novianti resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil menyelesaikan ujian doktor terbuka yang digelar…
Nasib kurang beruntung menimpa Jonathan Yohvino, Media Officer Persebaya Surabaya. Ia harus kehilangan sepeda motor…
Langkah lemas skuad Korea Selatan saat menapakkan kaki di Bandara Internasional Incheon pada Selasa subuh…
Maroko kembali menegaskan statusnya sudah bukan lagi kuda hitam. Setelah mampu menembus semifinal Piala Dunia…
Langkah Jerman di Piala Dunia 2026 terhenti secara dramatis. Die Mannschaft (julukan Jerman) dipaksa angkat…
This website uses cookies.