Categories: Akal Sehat

State Capture dan Kebisuan Mimbar Akademik

Kesunyian Mimbar Akademik

Di titik inilah kampus seharusnya hadir. Bukan untuk memusuhi negara, bukan pula menjadi oposisi politik. Kampus harus menjadi sahabat kritis negara, yakni mencintai dengan cara mengingatkan, mendukung dengan cara meluruskan, dan menjaga agar kebijakan publik tidak menjauh dari kemaslahatan rakyat.

Konteks Indonesia hari ini membuat peran itu makin mendesak. Di tengah percepatan pembangunan, hilirisasi, proyek strategis, konsolidasi investasi, dan kompetisi global, nalar akademik harus tetap menjadi penguji. Jangan sampai atas nama pertumbuhan, suara rakyat kecil tersisih. Jangan sampai atas nama efisiensi, keadilan sosial dipinggirkan. Jangan sampai atas nama stabilitas, kritik ilmiah dianggap gangguan.

Masalahnya, mimbar akademik kita sering terlalu sunyi. Kampus ramai oleh seminar, tetapi sepi keberanian. Akademisi sibuk mengejar indeks, sitasi, akreditasi, dan reputasi global, tetapi kadang terlalu pelan ketika ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, konflik agraria, tata kelola sumber daya alam, dan beban hidup rakyat berlangsung di depan mata.

Kesunyian itu tidak selalu lahir dari kebodohan. Sering kali ia lahir dari ketakutan. Takut kehilangan akses. Takut kehilangan jabatan. Takut kehilangan proyek. Takut kehilangan hibah. Takut dianggap tidak sejalan. Maka kampus pelan-pelan menjadi terlalu sopan kepada kekuasaan, terlalu hati-hati kepada oligarki, dan terlalu jauh dari denyut rakyat.

Padahal, kebebasan mimbar akademik adalah kehormatan tertinggi perguruan tinggi. Ia bukan ruang gaduh tanpa data, tetapi juga bukan ruang diam ketika data menunjukkan penyimpangan. Kritik akademik adalah cinta kepada republik. Ketika mimbar akademik membisu, kebijakan kehilangan penguji, dan ilmu kehilangan marwahnya.

Menegakkan Marwah Kampus

Pembicaraan tentang state capture akhirnya harus menjadi autokritik bagi civitas akademika. Jangan-jangan kita terlalu lama nyaman sebagai pengamat. Jangan-jangan kita mudah menyebut diri independen, padahal hanya sedang memilih aman. Jangan-jangan kita terlalu bangga dengan capaian akademik, tetapi kurang gelisah terhadap ketimpangan sosial.

Menegakkan marwah kampus berarti mengembalikan ilmu kepada fungsi moralnya. Gelar tidak boleh sekadar menjadi status. Publikasi tidak boleh berhenti sebagai angka kinerja. Riset tidak boleh menjadi kewajiban administratif. Semua harus bermuara pada kebenaran, keadilan, dan martabat manusia.

Page: 1 2 3

Jay Wijayanto

Recent Posts

Pasca Gempa NTT Sebagian Pelabuhan Kembali Normal, Pelindo Percepat Pemulihan di Maumere

Pelindo memastikan sejumlah pelabuhan di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah kembali beroperasi normal pascagempa bumi…

1 day ago

Usai Tugas Pengibaran Bendera, Paskibraka Surabaya Ditunjuk Jadi Duta Kampung Pancasila 2027

Malam Apresiasi Paskibraka Kota Surabaya Tahun 2026 digelar di Lobi Lantai 2 Balai Kota Surabaya,…

1 day ago

Diduga Sopir Konsumsi Alkohol, Mobil Ertiga Tabrak Pohon hingga Terbalik di Banjar Sugihan Surabaya

Mobil Suzuki Ertiga dengan nomor polisi W 1864 RK mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya…

1 day ago

966 PNS Kota Surabaya Terima Satyalancana Karya Satya, Wali Kota: Jaga Integritas, Hindari Korupsi

Pemerintah Kota Surabaya menggelar Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Halaman Balai Kota…

2 days ago

Malam Tirakat HUT ke-81 RI, Bupati Subandi Berupaya Wujudkan Indonesia Berdaulat, Adil, & Makmur

Peringatan HUT Kemerdekaan RI sangat monumental bagi seluruh rakyat Indonesia. Minggu malam (16/8/2026), digelar malam…

2 days ago

HUT Ke-81 RI di Sidoarjo, Bupati Subandi Serahkan Remisi dan Apresiasi Inovasi Pelayanan Polresta

Bupati Sidoarjo H. Subandi SH MKn memimpin upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan…

2 days ago

This website uses cookies.