Pemerintah Diminta Subsidi Tarif supaya Transportasi Umum Lebih Hemat daripada Kendaraan Pribadi

METROTODAY, SURABAYA – Penambahan 18 unit mikrobus baru beserta satu unit cadangan untuk melayani rute Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ)–Lakarsantri dinilai tepat guna menjawab lonjakan kebutuhan penumpang.

Namun, para pakar menegaskan efektivitas layanan pengumpan tidak hanya soal jumlah armada, melainkan juga penempatan yang sesuai permintaan, jangkauan kawasan permukiman, hingga keterjangkauan biaya dan integrasi antar-moda.

Pakar transportasi dari ITS, Machsus Fawzi, menilai penambahan kapasitas di rute Lakarsantri sangat tepat karena permintaan penumpang di jalur tersebut memang tinggi.

“Tentu efektif jika permintaannya besar. Kalau permintaannya besar, tapi kapasitasnya kecil, ya kurang efektif. Mestinya ukuran kendaraan disesuaikan dengan banyaknya permintaan penumpang di rute tersebut,” ujar Machsus, Jumat (6/11).

Machsus menjelaskan, fungsi utama angkutan pengumpan adalah mendekatkan akses transportasi ke kawasan permukiman.

Saat ini baru sebagian kawasan hunian yang terlayani, sehingga kebutuhan akan armada pengumpan yang lebih banyak masih sangat besar.

“Feeder itu kan prinsipnya mendekatkan halte ke hunian. Baru sebagian kawasan hunian yang terlayani, jadi kehadirannya pasti dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar,” jelasnya.

Keterbatasan jumlah armada menjadi alasan utama mengapa masih banyak kawasan yang belum terjangkau layanan ini.

“Armadanya terbatas, dibagi ke rute yang ada saja sudah habis. Kalau mau buka rute baru, berarti butuh armada tambahan. Prioritasnya sebaiknya kendaraan berukuran lebih besar ditempatkan di rute yang permintaannya tinggi,” katanya.

Lebih jauh, Machsus menyoroti alasan mendasar mengapa masyarakat masih enggan beralih ke angkutan umum, yaitu belum meratanya jangkauan hingga ke titik keberangkatan dan tujuan warga.

Hal ini membuat warga tetap membutuhkan kendaraan tambahan, sehingga biaya perjalanan menjadi lebih mahal dibanding menggunakan kendaraan pribadi.

“Orang tetap naik kendaraan pribadi karena titik berangkat atau tujuannya belum terlayani. Kalau harus naik angkot lalu pindah ke bus lalu naik ojek lagi, biayanya sama mahalnya dengan bawa motor sendiri. Pemerintah harus hadir dengan subsidi agar biayanya lebih murah dibanding kendaraan pribadi,” ungkapnya.

Ia berharap ke depan seluruh kawasan permukiman dapat terjangkau layanan angkutan umum dengan tarif yang kompetitif, sehingga masyarakat tidak lagi beralasan menggunakan kendaraan pribadi.

“Angkutan umum dikatakan nyaman kalau pelayanannya senyaman kendaraan pribadi. Selama belum tercapai, berarti masih perlu pengembangan: tambah armada, buka rute baru, perbaiki konektivitas, dan sesuaikan tarif,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Penambahan 18 unit mikrobus baru beserta satu unit cadangan untuk melayani rute Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ)–Lakarsantri dinilai tepat guna menjawab lonjakan kebutuhan penumpang.

Namun, para pakar menegaskan efektivitas layanan pengumpan tidak hanya soal jumlah armada, melainkan juga penempatan yang sesuai permintaan, jangkauan kawasan permukiman, hingga keterjangkauan biaya dan integrasi antar-moda.

Pakar transportasi dari ITS, Machsus Fawzi, menilai penambahan kapasitas di rute Lakarsantri sangat tepat karena permintaan penumpang di jalur tersebut memang tinggi.

“Tentu efektif jika permintaannya besar. Kalau permintaannya besar, tapi kapasitasnya kecil, ya kurang efektif. Mestinya ukuran kendaraan disesuaikan dengan banyaknya permintaan penumpang di rute tersebut,” ujar Machsus, Jumat (6/11).

Machsus menjelaskan, fungsi utama angkutan pengumpan adalah mendekatkan akses transportasi ke kawasan permukiman.

Saat ini baru sebagian kawasan hunian yang terlayani, sehingga kebutuhan akan armada pengumpan yang lebih banyak masih sangat besar.

“Feeder itu kan prinsipnya mendekatkan halte ke hunian. Baru sebagian kawasan hunian yang terlayani, jadi kehadirannya pasti dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar,” jelasnya.

Keterbatasan jumlah armada menjadi alasan utama mengapa masih banyak kawasan yang belum terjangkau layanan ini.

“Armadanya terbatas, dibagi ke rute yang ada saja sudah habis. Kalau mau buka rute baru, berarti butuh armada tambahan. Prioritasnya sebaiknya kendaraan berukuran lebih besar ditempatkan di rute yang permintaannya tinggi,” katanya.

Lebih jauh, Machsus menyoroti alasan mendasar mengapa masyarakat masih enggan beralih ke angkutan umum, yaitu belum meratanya jangkauan hingga ke titik keberangkatan dan tujuan warga.

Hal ini membuat warga tetap membutuhkan kendaraan tambahan, sehingga biaya perjalanan menjadi lebih mahal dibanding menggunakan kendaraan pribadi.

“Orang tetap naik kendaraan pribadi karena titik berangkat atau tujuannya belum terlayani. Kalau harus naik angkot lalu pindah ke bus lalu naik ojek lagi, biayanya sama mahalnya dengan bawa motor sendiri. Pemerintah harus hadir dengan subsidi agar biayanya lebih murah dibanding kendaraan pribadi,” ungkapnya.

Ia berharap ke depan seluruh kawasan permukiman dapat terjangkau layanan angkutan umum dengan tarif yang kompetitif, sehingga masyarakat tidak lagi beralasan menggunakan kendaraan pribadi.

“Angkutan umum dikatakan nyaman kalau pelayanannya senyaman kendaraan pribadi. Selama belum tercapai, berarti masih perlu pengembangan: tambah armada, buka rute baru, perbaiki konektivitas, dan sesuaikan tarif,” pungkasnya. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait