Mahasiswa Unair Ciptakan Robot KSATRIA, Deteksi Dini Stunting dan Bisa Layani Puluhan Anak

METROTODAY, SURABAYA – Inovasi cemerlang lahir dari kegelisahan mahasiswa Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga. Kaysan Najib Murtaza menciptakan prototipe bernama KSATRIA Kendali Stunting Anak Terintegrasi Robotika sebuah alat berbasis teknologi yang mampu mendeteksi masalah stunting dengan biaya sangat terjangkau.

Gagasan ini sebenarnya sudah berakar sejak Kaysan masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Keresahan muncul saat melihat banyak kendala dalam penanganan stunting, terutama tingginya biaya pengukuran kondisi gizi yang sulit dijangkau masyarakat luas.

Dari sinilah lahir tekad untuk menciptakan alat deteksi yang murah namun tetap akurat, yang kemudian dikembangkan secara serius mulai tahun 2024.

“Makanya aku bikin robot itu dan fun fact robotnya hanya senilai Rp 500 ribu aja. Itu bisa buat deteksi dini stunting untuk satu posyandu yang mana itu lebih dari 40 anak kecil,” ujar Kaysan, Minggu (6/9).

Secara teknis, KSATRIA bekerja menggunakan sistem arduino dan sensor ultrasonik untuk mengukur tinggi serta berat badan anak.

Data yang diperoleh selanjutnya dikalkulasi menggunakan rumus Basal Metabolic Rate (BMR) melalui sistem pemrograman, sehingga alat mampu memberikan rekomendasi jenis makanan yang disesuaikan dengan kondisi gizi masing-masing.

“Lalu di situ juga ada terkait modul edukasinya, terkait stunting itu apa, gimana cara kita menjaga gizi seimbang. Jadi memang ada kayak modul bukunya gitu,” tuturnya.

Kini, karya tersebut telah resmi mendapatkan pengakuan. 6 Maret lalu KSATRIA memperoleh sertifikat Hak Cipta dari Kementerian Hukum Republik Indonesia. Alat ini pun telah melewati rangkaian uji coba bertingkat dimulai dari pengujian tingkat kota oleh BAPPERIDA Kabupaten Batang dan BRIDA Provinsi Jawa Tengah, hingga berlanjut ke tahap uji tingkat nasional.

Pemanfaatan KSATRIA kini sudah merambah ke dua wilayah di Jawa Tengah, yaitu Kota Surakarta dan Kabupaten Batang, masing-masing telah dilengkapi dua hingga tiga unit alat.

“Terkait pemanfaatan, sudah ada di dua kota di Jawa Tengah, ada di Kota Surakarta dan Kabupaten Batang dengan setiap kotanya sendiri sudah ada dua hingga tiga unit. Kalau dihitung per alatnya, setiap satu bulan bisa dipakai 10 anak. Jadi, kurang lebih 50 anak setiap bulan memanfaatkannya,” jelasnya.

Kaysan menyadari keberhasilan ini tidak diraih sendirian. Ia menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada para dosen FKM Unair yang telah membimbingnya, antara lain Pak Mahmud, Prof Mamik, dan Prof Annis. Pendampingan keilmuan dari para ahli menjadi kunci agar teknologi yang dibuat tidak hanya canggih, tetapi juga valid secara medis.

“Maka dari itu saya memberanikan diri untuk konsultasi dan koordinasi langsung sama dosen-dosen di FKM Unair, seperti Pak Mahmud, Prof Mamik, dan Prof Annis. Beliau-beliau ini yang membimbing aku dari sisi keilmuan kesehatannya, agar robot yang aku ciptakan itu valid secara medis dan tidak hanya sekadar canggih di atas kertas,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Inovasi cemerlang lahir dari kegelisahan mahasiswa Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga. Kaysan Najib Murtaza menciptakan prototipe bernama KSATRIA Kendali Stunting Anak Terintegrasi Robotika sebuah alat berbasis teknologi yang mampu mendeteksi masalah stunting dengan biaya sangat terjangkau.

Gagasan ini sebenarnya sudah berakar sejak Kaysan masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Keresahan muncul saat melihat banyak kendala dalam penanganan stunting, terutama tingginya biaya pengukuran kondisi gizi yang sulit dijangkau masyarakat luas.

Dari sinilah lahir tekad untuk menciptakan alat deteksi yang murah namun tetap akurat, yang kemudian dikembangkan secara serius mulai tahun 2024.

“Makanya aku bikin robot itu dan fun fact robotnya hanya senilai Rp 500 ribu aja. Itu bisa buat deteksi dini stunting untuk satu posyandu yang mana itu lebih dari 40 anak kecil,” ujar Kaysan, Minggu (6/9).

Secara teknis, KSATRIA bekerja menggunakan sistem arduino dan sensor ultrasonik untuk mengukur tinggi serta berat badan anak.

Data yang diperoleh selanjutnya dikalkulasi menggunakan rumus Basal Metabolic Rate (BMR) melalui sistem pemrograman, sehingga alat mampu memberikan rekomendasi jenis makanan yang disesuaikan dengan kondisi gizi masing-masing.

“Lalu di situ juga ada terkait modul edukasinya, terkait stunting itu apa, gimana cara kita menjaga gizi seimbang. Jadi memang ada kayak modul bukunya gitu,” tuturnya.

Kini, karya tersebut telah resmi mendapatkan pengakuan. 6 Maret lalu KSATRIA memperoleh sertifikat Hak Cipta dari Kementerian Hukum Republik Indonesia. Alat ini pun telah melewati rangkaian uji coba bertingkat dimulai dari pengujian tingkat kota oleh BAPPERIDA Kabupaten Batang dan BRIDA Provinsi Jawa Tengah, hingga berlanjut ke tahap uji tingkat nasional.

Pemanfaatan KSATRIA kini sudah merambah ke dua wilayah di Jawa Tengah, yaitu Kota Surakarta dan Kabupaten Batang, masing-masing telah dilengkapi dua hingga tiga unit alat.

“Terkait pemanfaatan, sudah ada di dua kota di Jawa Tengah, ada di Kota Surakarta dan Kabupaten Batang dengan setiap kotanya sendiri sudah ada dua hingga tiga unit. Kalau dihitung per alatnya, setiap satu bulan bisa dipakai 10 anak. Jadi, kurang lebih 50 anak setiap bulan memanfaatkannya,” jelasnya.

Kaysan menyadari keberhasilan ini tidak diraih sendirian. Ia menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada para dosen FKM Unair yang telah membimbingnya, antara lain Pak Mahmud, Prof Mamik, dan Prof Annis. Pendampingan keilmuan dari para ahli menjadi kunci agar teknologi yang dibuat tidak hanya canggih, tetapi juga valid secara medis.

“Maka dari itu saya memberanikan diri untuk konsultasi dan koordinasi langsung sama dosen-dosen di FKM Unair, seperti Pak Mahmud, Prof Mamik, dan Prof Annis. Beliau-beliau ini yang membimbing aku dari sisi keilmuan kesehatannya, agar robot yang aku ciptakan itu valid secara medis dan tidak hanya sekadar canggih di atas kertas,” pungkasnya. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait