METROTODAY, SURABAYA – Kota Surabaya terpilih sebagai kota pertama di Indonesia yang menggelar penayangan khusus film komedi fiksi ilmiah terbaru berjudul Foufo.
Pemilihan Kota Pahlawan ini bukan tanpa alasan, melainkan bentuk apresiasi atas banyaknya talenta lokal asal Jawa Timur yang terlibat dalam proses pembuatan film tersebut .
Penayangan spesial digelar pada Sabtu lalu di salah satu bioskop kota ini, menuai antusiasme tinggi dari warga. Acara ini berlangsung lebih awal sebelum film dirilis secara serentak di seluruh Indonesia 9 Juli mendatang .
Sutradara sekaligus penggagas film, Bayu Skak, menjelaskan andil besar Surabaya dan Jawa Timur dalam produksi ini.
“Surabaya dan Jawa Timur memiliki andil besar karena proses produksi banyak melibatkan talenta-talenta lokal. Selain itu, film ini juga secara otentik menggunakan bahasa Madura sebanyak 70 persen, dikombinasikan dengan bahasa khas Suroboyoan,” ujar Bayu Skak, Minggu (28/6).
Lebih dari sekadar hiburan, film ini diharapkan menyampaikan makna mendalam bagi penonton. Film ini penuh dengan komedi yang dibawakan.
Para pemeran yang hampir 80 persen berdarah Madura dan non-aktor tentu melewati proses seleksi casting terlebih dahulu.
“Foufo diharapkan tidak hanya menghibur lewat aksi komedi dan fiksi ilmiahnya, tetapi juga menyampaikan pesan hangat tentang kasih sayang seorang ibu kepada para penonton di tanah air,” jelasnya.
Dengan keunikan bahasa daerah dan cerita yang menyentuh, Foufo menjadi salah satu film paling dinanti yang mengangkat kearifan lokal ke layar lebar nasional.
Sementara itu open casting itu dilakukan di Surabaya Utara dengan melibatkan 2.500 peserta dari Jawa Timur dan Madura.
METROTODAY, SURABAYA – Kota Surabaya terpilih sebagai kota pertama di Indonesia yang menggelar penayangan khusus film komedi fiksi ilmiah terbaru berjudul Foufo.
Pemilihan Kota Pahlawan ini bukan tanpa alasan, melainkan bentuk apresiasi atas banyaknya talenta lokal asal Jawa Timur yang terlibat dalam proses pembuatan film tersebut .
Penayangan spesial digelar pada Sabtu lalu di salah satu bioskop kota ini, menuai antusiasme tinggi dari warga. Acara ini berlangsung lebih awal sebelum film dirilis secara serentak di seluruh Indonesia 9 Juli mendatang .
Sutradara sekaligus penggagas film, Bayu Skak, menjelaskan andil besar Surabaya dan Jawa Timur dalam produksi ini.
“Surabaya dan Jawa Timur memiliki andil besar karena proses produksi banyak melibatkan talenta-talenta lokal. Selain itu, film ini juga secara otentik menggunakan bahasa Madura sebanyak 70 persen, dikombinasikan dengan bahasa khas Suroboyoan,” ujar Bayu Skak, Minggu (28/6).
Lebih dari sekadar hiburan, film ini diharapkan menyampaikan makna mendalam bagi penonton. Film ini penuh dengan komedi yang dibawakan.
Para pemeran yang hampir 80 persen berdarah Madura dan non-aktor tentu melewati proses seleksi casting terlebih dahulu.
“Foufo diharapkan tidak hanya menghibur lewat aksi komedi dan fiksi ilmiahnya, tetapi juga menyampaikan pesan hangat tentang kasih sayang seorang ibu kepada para penonton di tanah air,” jelasnya.
Dengan keunikan bahasa daerah dan cerita yang menyentuh, Foufo menjadi salah satu film paling dinanti yang mengangkat kearifan lokal ke layar lebar nasional.
Sementara itu open casting itu dilakukan di Surabaya Utara dengan melibatkan 2.500 peserta dari Jawa Timur dan Madura.