METROTODAY, SURABAYA – Dunia pesantren kembali diguncang oleh kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum pengasuh yang tidak bertanggung jawab.
AS, pendiri dan pengasuh di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo di Pati, Jawa Tengah, diketahui tega mencabuli hingga menghamili sejumlah santriwatinya yang masih di bawah umur.
Aksi bejat ini memicu kemarahan publik dan reaksi keras dari berbagai pihak. Termasuk Menteri Sosial (Mensos) Syaifullah Yusuf yang secara tegas mengutuk tindakan predator anak tersebut.
“Kita kutuk keras pelaku. Kita kecewa, sangat kecewa. Untuk pelakunya, harus kita kawal supaya ada hukuman yang paling berat, seperti hukuman seumur hidup,” tegas Mensos di Surabaya, Minggu (10/5).
Gus Ipul –sapaan akrabnya– juga menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah pendampingan psikologis bagi para korban, terutama santriwati yang dihamili oleh pelaku.
Ia menambahkan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim dari Sentra PATI untuk berkoordinasi dengan kepolisian guna mengawal kasus ini hingga tuntas.
“Santri-santrinya sudah kita perhatikan, kalau nanti lembaganya ditutup, mungkin akan dipindahkan ke pusat yang lain. Kita harus memikirkan korban dengan baik,” tuturnya.
METROTODAY, SURABAYA – Dunia pesantren kembali diguncang oleh kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum pengasuh yang tidak bertanggung jawab.
AS, pendiri dan pengasuh di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo di Pati, Jawa Tengah, diketahui tega mencabuli hingga menghamili sejumlah santriwatinya yang masih di bawah umur.
Aksi bejat ini memicu kemarahan publik dan reaksi keras dari berbagai pihak. Termasuk Menteri Sosial (Mensos) Syaifullah Yusuf yang secara tegas mengutuk tindakan predator anak tersebut.
“Kita kutuk keras pelaku. Kita kecewa, sangat kecewa. Untuk pelakunya, harus kita kawal supaya ada hukuman yang paling berat, seperti hukuman seumur hidup,” tegas Mensos di Surabaya, Minggu (10/5).
Gus Ipul –sapaan akrabnya– juga menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah pendampingan psikologis bagi para korban, terutama santriwati yang dihamili oleh pelaku.
Ia menambahkan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim dari Sentra PATI untuk berkoordinasi dengan kepolisian guna mengawal kasus ini hingga tuntas.
“Santri-santrinya sudah kita perhatikan, kalau nanti lembaganya ditutup, mungkin akan dipindahkan ke pusat yang lain. Kita harus memikirkan korban dengan baik,” tuturnya.