24 March 2026, 16:37 PM WIB

Makam Sesepuh Desa Tambaksumur; Makam Barat dengan Aura Kesaktian dan Pangkat (5)

spot_img

Mulai Ramadan 1447 Hijriah/2026 M, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Letak kompleks makam bagian barat dan makam tengah hanya dipisahkan oleh jalan kampung selebar kurang lebih 8 meter. Namun, ukuran makam barat relatif lebih sempit. Sekitar 15 x 12 meter. Sejak awal, kondisi keduanya sangat kontras.

Makam tengah terbuka luas bercampur dengan makam umum dan dapat dimasuki siapa saja tanpa batasan. Sebaliknya, makam barat justru sangat tertutup dan eksklusif karena dipagari tembok keliling. Hanya ada satu pintu di bagian depan yang selalu digembok rapat. Pintu itu pun tampak berbeda dari pintu makam pada umumnya. Warnanya merah menyala. Seakan menjadi simbol karamah sekaligus tanda larangan.

Namun, sejak dilakukan renovasi pada tahun 2023, wajah makam bagian barat berubah drastis. Area yang dulu terkesan tertutup dan misterius kini menjadi lebih terbuka. Meski pintu di bagian depan tetap terkunci sebagaimana tradisi sebelumnya, akses menuju makam kini bisa dilalui lewat sisi selatan dan utara yang tidak lagi diberi pintu. Jadi, peziarah bisa sewaktu-waktu masuk ke dalamnya.

Pada dinding bagian barat makam itu kini terpampang jelas sebuah tulisan: ”Makam Sesepuh Desa Tambaksumur, Mbah Kenduruan/K. Sajidin, dan para leluhur lainnya.” Tulisan tersebut dibuat dari bahan akrilik timbul berlapis cat fosfor. Sehingga, ketika malam tiba, tulisan itu tampak bercahaya hijau keemasan dan sangat mudah terbaca meski dalam kondisi gelap.

1754902194317
Makam Sesepuh Desa Tambaksumur, Mbah Kenduruan/K. Sajidin yang terletak di sisi barat. (Foto: DIte Surendra)

Seiring dengan perubahan itu, pertanyaan pun kerap muncul di kalangan peziarah. Mengapa makam barat yang dulunya ditutup rapat kini justru dibuka dan bisa diakses dengan mudah?

Menurut H. Maslihan Alwi, Plt Ketua Yayasan Kyai Mas Ubaidah, pada mulanya, pintu merah itu dikunci rapat atas permintaan langsung K.H. Mas Ubaidah (Kiai Mas). Beliau tidak menghendaki makam bagian barat dijadikan tempat orang tirakat yang salah kaprah. Sebab, makam barat sejak dulu identik dengan karamah bernuansa kedigdayaan, kesaktian, dan kepangkatan. Banyak orang datang bukan semata untuk mendoakan, melainkan untuk mengharap tuah kekuasaan atau kehebatan lahiriah.

”Kiai (Mas) tidak suka dengan itu. Lalu pintunya ditutup dan dikunci terus,” ujar H. Maslihan.

Namun, seiring berjalannya waktu, terutama setelah muncul gagasan menjadikan Tambaksumur sebagai destinasi wisata religi, makam bagian barat tidak bisa lagi terus-menerus ditutup. Para tokoh desa berembuk. Bagaimana caranya tetap menjaga wibawa makam, tetapi juga tidak menutup akses bagi peziarah yang ingin berziarah dengan niat yang benar?

Maka, diputuskanlah sebuah jalan tengah. Pintu di bagian depan tetap dibiarkan terkunci sebagai simbol larangan dan peringatan. Agar tidak semua orang sembarangan mengakses makam dengan tujuan yang keliru. Akan tetapi, akses baru dibuka di sisi selatan dan utara. Dengan begitu, para peziarah tetap bisa masuk untuk berziarah, membaca doa, atau sekadar tabarruk.

Menurut Ustadz Munir, langkah itu diambil bukan sekadar teknis, tetapi juga simbolis. Pintu depan yang tetap terkunci melambangkan kontrol spiritual: bahwa karamah bukanlah sesuatu yang bisa diminta secara serampangan. Karamah adalah anugerah yang hanya diberikan Allah SWT kepada orang yang dikehendaki-Nya. Sedangkan akses terbuka di sisi lain adalah simbol keterbukaan Desa Tambaksumur sebagai pusat wisata religi. Selalu menyambut semua kalangan, tanpa membedakan asal maupun niat, selama masih dalam koridor akidah yang benar.

Kini, setiap malam, berkat cahaya lampu sorot yang menerangi, makam bagian barat tampak gagah dan penuh wibawa, namun tetap menyimpan aura misteri. Para peziarah yang datang sebagian berdoa dengan khusyuk. Sebagian lain termenung di depan pintu merah yang terkunci rapat, seolah bertanya-tanya: ”Apakah rahasia besar yang masih tersimpan di balik pintu itu?” (*/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

spot_img

Mulai Ramadan 1447 Hijriah/2026 M, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Letak kompleks makam bagian barat dan makam tengah hanya dipisahkan oleh jalan kampung selebar kurang lebih 8 meter. Namun, ukuran makam barat relatif lebih sempit. Sekitar 15 x 12 meter. Sejak awal, kondisi keduanya sangat kontras.

Makam tengah terbuka luas bercampur dengan makam umum dan dapat dimasuki siapa saja tanpa batasan. Sebaliknya, makam barat justru sangat tertutup dan eksklusif karena dipagari tembok keliling. Hanya ada satu pintu di bagian depan yang selalu digembok rapat. Pintu itu pun tampak berbeda dari pintu makam pada umumnya. Warnanya merah menyala. Seakan menjadi simbol karamah sekaligus tanda larangan.

Namun, sejak dilakukan renovasi pada tahun 2023, wajah makam bagian barat berubah drastis. Area yang dulu terkesan tertutup dan misterius kini menjadi lebih terbuka. Meski pintu di bagian depan tetap terkunci sebagaimana tradisi sebelumnya, akses menuju makam kini bisa dilalui lewat sisi selatan dan utara yang tidak lagi diberi pintu. Jadi, peziarah bisa sewaktu-waktu masuk ke dalamnya.

Pada dinding bagian barat makam itu kini terpampang jelas sebuah tulisan: ”Makam Sesepuh Desa Tambaksumur, Mbah Kenduruan/K. Sajidin, dan para leluhur lainnya.” Tulisan tersebut dibuat dari bahan akrilik timbul berlapis cat fosfor. Sehingga, ketika malam tiba, tulisan itu tampak bercahaya hijau keemasan dan sangat mudah terbaca meski dalam kondisi gelap.

1754902194317
Makam Sesepuh Desa Tambaksumur, Mbah Kenduruan/K. Sajidin yang terletak di sisi barat. (Foto: DIte Surendra)

Seiring dengan perubahan itu, pertanyaan pun kerap muncul di kalangan peziarah. Mengapa makam barat yang dulunya ditutup rapat kini justru dibuka dan bisa diakses dengan mudah?

Menurut H. Maslihan Alwi, Plt Ketua Yayasan Kyai Mas Ubaidah, pada mulanya, pintu merah itu dikunci rapat atas permintaan langsung K.H. Mas Ubaidah (Kiai Mas). Beliau tidak menghendaki makam bagian barat dijadikan tempat orang tirakat yang salah kaprah. Sebab, makam barat sejak dulu identik dengan karamah bernuansa kedigdayaan, kesaktian, dan kepangkatan. Banyak orang datang bukan semata untuk mendoakan, melainkan untuk mengharap tuah kekuasaan atau kehebatan lahiriah.

”Kiai (Mas) tidak suka dengan itu. Lalu pintunya ditutup dan dikunci terus,” ujar H. Maslihan.

Namun, seiring berjalannya waktu, terutama setelah muncul gagasan menjadikan Tambaksumur sebagai destinasi wisata religi, makam bagian barat tidak bisa lagi terus-menerus ditutup. Para tokoh desa berembuk. Bagaimana caranya tetap menjaga wibawa makam, tetapi juga tidak menutup akses bagi peziarah yang ingin berziarah dengan niat yang benar?

Maka, diputuskanlah sebuah jalan tengah. Pintu di bagian depan tetap dibiarkan terkunci sebagai simbol larangan dan peringatan. Agar tidak semua orang sembarangan mengakses makam dengan tujuan yang keliru. Akan tetapi, akses baru dibuka di sisi selatan dan utara. Dengan begitu, para peziarah tetap bisa masuk untuk berziarah, membaca doa, atau sekadar tabarruk.

Menurut Ustadz Munir, langkah itu diambil bukan sekadar teknis, tetapi juga simbolis. Pintu depan yang tetap terkunci melambangkan kontrol spiritual: bahwa karamah bukanlah sesuatu yang bisa diminta secara serampangan. Karamah adalah anugerah yang hanya diberikan Allah SWT kepada orang yang dikehendaki-Nya. Sedangkan akses terbuka di sisi lain adalah simbol keterbukaan Desa Tambaksumur sebagai pusat wisata religi. Selalu menyambut semua kalangan, tanpa membedakan asal maupun niat, selama masih dalam koridor akidah yang benar.

Kini, setiap malam, berkat cahaya lampu sorot yang menerangi, makam bagian barat tampak gagah dan penuh wibawa, namun tetap menyimpan aura misteri. Para peziarah yang datang sebagian berdoa dengan khusyuk. Sebagian lain termenung di depan pintu merah yang terkunci rapat, seolah bertanya-tanya: ”Apakah rahasia besar yang masih tersimpan di balik pintu itu?” (*/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait