24 March 2026, 3:00 AM WIB

Makam Sesepuh Desa Tambaksumur; Siapakah Mbah Zainal Abidin? (4)

spot_img

Mulai Ramadan 1447 Hijriah/2026 M, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Tidak ada seorang pun yang meragukan ketokohan ulama ini. Beliau dikenal sebagai seorang ulama kharismatik, pendakwah, sekaligus penulis kitab yang produktif. Cerita lisan maupun catatan yang tersisa menyebutkan bahwa Mbah Zainal Abidin telah menghasilkan tidak kurang dari 16 kitab. Sebagian besar membahas ilmu syariat dan tata bahasa Arab.

Salah satu karya yang paling masyhur adalah Kitab Tashrifan, sebuah kitab rujukan ilmu shorof (perubahan kata dalam bahasa Arab). Hingga kini, kitab tersebut tetap dipelajari di banyak pondok pesantren. Memang kitab itu kemudian lebih dikenal dengan nama Tashrifan Sono karena dikembangkan di Pondok Sono Buduran, pesantren yang kali pertama diasuh oleh K.H. Muhayyin, keponakan sekaligus menantu beliau. Namun, kuat dugaan bahwa naskah aslinya merupakan tulisan tangan orisinal Mbah Zainal Abidin.

Keharuman nama beliau tidak sebatas masa hidup saja, tetapi berlanjut melalui dzurriyah (keturunan) yang tersebar dan menjadi tokoh berpengaruh di berbagai daerah. Dari jalur putri pertama, lahir K.H. Ali Mas’ud Pagerwojo. Dari jalur putri kedua, lahir K.H. Idris Jemur Ngawinan, Surabaya. Dari putra ketiga, lahir K.H. Mas Ubaidah.

Adapun dari putri keempat, kelima, dan keenam, lahirlah tokoh-tokoh agama dan masyarakat Tambaksumur yang hingga kini masih berperan dalam menjaga tradisi dan melanjutkan warisan keilmuan Mbah Zainal Abidin.

Sementara itu, Nyai Ummi Kulsum, istri beliau, adalah putri dari pasangan Syarif Ampel dan Nyai Soni’ah, yang bermukim di kawasan religius Ampel, Surabaya. Antara Mbah Zainal Abidin dan Nyai Ummi Kulsum masih memiliki hubungan kekerabatan dekat (sepupu atau dua pupu) sehingga memperkuat ikatan genealogis beliau dengan jaringan ulama besar di kawasan Ampel.

Ketokohan pribadi, produktivitas karya, hingga keberlanjutan dzurriyah menguatkan bukti bahwa Mbah Zainal Abidin adalah sumber utama spiritual, keilmuan, dan sosial Desa Tambaksumur. Tidak berlebihan jika hingga kini masyarakat meyakini bahwa keberkahan desa ini bersumber dari beliau. Penduduk setempat sekaligus menjadikan makamnya sebagai episentrum ziarah dan doa bersama.

”Beliau itu lebih dikenal sebagai Kiai Tambak atau Kiai Abidin Tambak, yang namanya disebut dalam Babat Gresik,” tutur H. Maslihan Alwi, salah seorang dzurriyah Mbah Zainal Abidin.

Fakta itu menguatkan bahwa Mbah Zainal Abidin adalah sosok yang sangat istimewa. Selain dikenal sebagai ulama kharismatik, pada masanya, Mbah Zainal Abidin juga dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren besar di Tambaksumur. Pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan agama yang melahirkan banyak santri dan kader ulama. Mereka kemudian menyebar dan berperan di berbagai wilayah. Dalam konteks ini, Tambaksumur pada masa Mbah Zainal Abidin telah menjadi salah satu titik penting persebaran ilmu agama di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

Mbah Zainal Abidin diperkirakan hidup sekitar tahun 1743–1840. Beliau pernah hidup sezaman dengan Pangeran Diponegoro meskipun usianya jauh lebih sepuh. Beliau juga turut menyalakan semangat perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Bahkan, dalam cerita lisan masyarakat, Mbah Zainal Abidin pernah dua kali mengirimkan santri-santri untuk bergabung membantu perjuangan Pangeran Diponegoro. Sejarah itu menunjukkan bahwa perjuangan beliau tidak hanya terbatas di lingkup spiritual, tetapi juga menyentuh ranah kebangsaan mendukung upaya membebaskan tanah Jawa dari cengkeraman kolonialisme.

Dengan demikian, sosok Mbah Zainal Abidin bukan sekadar tokoh agama yang dihormati, melainkan juga pejuang yang berperan menyalurkan kekuatan moral dan dukungan nyata bagi perjuangan bangsa. Warisan keteladanan beliau hingga kini tetap hidup, terutama di sekitar makamnya yang masih menjadi pusat ziarah dan penghormatan. (*/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

spot_img

Mulai Ramadan 1447 Hijriah/2026 M, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Tidak ada seorang pun yang meragukan ketokohan ulama ini. Beliau dikenal sebagai seorang ulama kharismatik, pendakwah, sekaligus penulis kitab yang produktif. Cerita lisan maupun catatan yang tersisa menyebutkan bahwa Mbah Zainal Abidin telah menghasilkan tidak kurang dari 16 kitab. Sebagian besar membahas ilmu syariat dan tata bahasa Arab.

Salah satu karya yang paling masyhur adalah Kitab Tashrifan, sebuah kitab rujukan ilmu shorof (perubahan kata dalam bahasa Arab). Hingga kini, kitab tersebut tetap dipelajari di banyak pondok pesantren. Memang kitab itu kemudian lebih dikenal dengan nama Tashrifan Sono karena dikembangkan di Pondok Sono Buduran, pesantren yang kali pertama diasuh oleh K.H. Muhayyin, keponakan sekaligus menantu beliau. Namun, kuat dugaan bahwa naskah aslinya merupakan tulisan tangan orisinal Mbah Zainal Abidin.

Keharuman nama beliau tidak sebatas masa hidup saja, tetapi berlanjut melalui dzurriyah (keturunan) yang tersebar dan menjadi tokoh berpengaruh di berbagai daerah. Dari jalur putri pertama, lahir K.H. Ali Mas’ud Pagerwojo. Dari jalur putri kedua, lahir K.H. Idris Jemur Ngawinan, Surabaya. Dari putra ketiga, lahir K.H. Mas Ubaidah.

Adapun dari putri keempat, kelima, dan keenam, lahirlah tokoh-tokoh agama dan masyarakat Tambaksumur yang hingga kini masih berperan dalam menjaga tradisi dan melanjutkan warisan keilmuan Mbah Zainal Abidin.

Sementara itu, Nyai Ummi Kulsum, istri beliau, adalah putri dari pasangan Syarif Ampel dan Nyai Soni’ah, yang bermukim di kawasan religius Ampel, Surabaya. Antara Mbah Zainal Abidin dan Nyai Ummi Kulsum masih memiliki hubungan kekerabatan dekat (sepupu atau dua pupu) sehingga memperkuat ikatan genealogis beliau dengan jaringan ulama besar di kawasan Ampel.

Ketokohan pribadi, produktivitas karya, hingga keberlanjutan dzurriyah menguatkan bukti bahwa Mbah Zainal Abidin adalah sumber utama spiritual, keilmuan, dan sosial Desa Tambaksumur. Tidak berlebihan jika hingga kini masyarakat meyakini bahwa keberkahan desa ini bersumber dari beliau. Penduduk setempat sekaligus menjadikan makamnya sebagai episentrum ziarah dan doa bersama.

”Beliau itu lebih dikenal sebagai Kiai Tambak atau Kiai Abidin Tambak, yang namanya disebut dalam Babat Gresik,” tutur H. Maslihan Alwi, salah seorang dzurriyah Mbah Zainal Abidin.

Fakta itu menguatkan bahwa Mbah Zainal Abidin adalah sosok yang sangat istimewa. Selain dikenal sebagai ulama kharismatik, pada masanya, Mbah Zainal Abidin juga dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren besar di Tambaksumur. Pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan agama yang melahirkan banyak santri dan kader ulama. Mereka kemudian menyebar dan berperan di berbagai wilayah. Dalam konteks ini, Tambaksumur pada masa Mbah Zainal Abidin telah menjadi salah satu titik penting persebaran ilmu agama di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

Mbah Zainal Abidin diperkirakan hidup sekitar tahun 1743–1840. Beliau pernah hidup sezaman dengan Pangeran Diponegoro meskipun usianya jauh lebih sepuh. Beliau juga turut menyalakan semangat perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Bahkan, dalam cerita lisan masyarakat, Mbah Zainal Abidin pernah dua kali mengirimkan santri-santri untuk bergabung membantu perjuangan Pangeran Diponegoro. Sejarah itu menunjukkan bahwa perjuangan beliau tidak hanya terbatas di lingkup spiritual, tetapi juga menyentuh ranah kebangsaan mendukung upaya membebaskan tanah Jawa dari cengkeraman kolonialisme.

Dengan demikian, sosok Mbah Zainal Abidin bukan sekadar tokoh agama yang dihormati, melainkan juga pejuang yang berperan menyalurkan kekuatan moral dan dukungan nyata bagi perjuangan bangsa. Warisan keteladanan beliau hingga kini tetap hidup, terutama di sekitar makamnya yang masih menjadi pusat ziarah dan penghormatan. (*/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait