METROTODAY, TEHERAN – Hanya selang sehari setelah gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat gempuran udara Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyerang rumahnya di Teheran, militer Iran langsung membalas.
Minggu (1/3), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menghujani kapal induk kebanggaan Pentagon, USS Abraham Lincoln, dengan rudal balistik.
Klaim tersebut memicu guncangan hebat di bursa keamanan global. Melalui pernyataan resminya, IRGC menyebut kapal bertenaga nuklir kelas Nimitz itu menjadi sasaran empuk empat rudal balistik saat berada di perairan Teluk.
“Darat dan laut akan segera menjadi kuburan bagi para agresor teroris,” ungkap IRGC dalam siaran media lokal, kemarin.
Membalas klaim itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) langsung mengeluarkan bantahan keras terkait nasib USS Abraham Lincoln.
Menurut mereka, rudal-rudal Iran tersebut bahkan tidak mendekati kapal perang sepanjang 333 meter itu. CENTCOM menegaskan bahwa jet-jet tempur dari dek Abraham Lincoln masih terus mengangkasa untuk menggempur aset-aset Iran.
Namun, AS tidak bisa menyembunyikan fakta pahit lainnya. Pentagon mengonfirmasi adanya korban jiwa pertama dari pihak militer Amerika sejak operasi bertajuk Epic Fury diluncurkan.
Sebanyak tiga tentara AS dilaporkan tewas dalam aksi (killed in action) dan lima lainnya mengalami luka parah. Ini adalah laporan kematian perdana personel AS di tengah hujan rudal balistik Iran yang menyasar instalasi militer Paman Sam di seantero Timur Tengah.
Operasi Epic Fury yang dimulai Sabtu pukul 01.15 dini hari waktu setempat memang dirancang untuk melumpuhkan jantung pertahanan Iran. Selain menyasar situs nuklir dan peluncuran drone, serangan udara tersebut menghantam kompleks kediaman Ali Khamenei hingga sang pemimpin dinyatakan syahid.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal dari sisi kemanusiaan. Masyarakat Bulan Sabit Merah Iran merilis data memilukan bahwa sedikitnya 201 orang tewas dan 700 lainnya luka-luka dalam agresi biadab itu. Ironisnya, di antara korban tewas, terdapat lebih dari seratus siswi sekolah putri yang menjadi korban hantaman rudal Israel.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki pilihan selain membela diri. Mengingat Teheran tidak bisa menjangkau daratan Amerika, pangkalan militer AS di kawasan Teluk kini menjadi target utama “balas dendam”.
Araghchi juga melempar tuduhan serius. Ia menyebut para prajurit AS mulai mengevakuasi pangkalan militer dan berpindah ke hotel-hotel sipil. “Mereka menjadikan warga sipil sebagai perisai manusia. Namun, fokus kami tetap pada personel dan fasilitas militer yang membantu operasi melawan Iran,” tegasnya lewat saluran Al Jazeera.
Hingga berita ini diturunkan, identitas tentara AS yang tewas masih dirahasiakan selama 24 jam ke depan sesuai prosedur militer. Dunia kini menahan napas, menanti apakah eskalasi ini akan menjadi pembuka bagi Perang Dunia Ketiga atau ada jalur diplomasi yang tersisa di tengah puing-puing Teheran. (MT)


