METROTODAY, SURABAYA – Di tengah citra sebagai sungai yang tercemar, Kali Brantas dan Kali Surabaya ternyata masih menyimpan kekayaan alam yang luar biasa.
Penelitian terbaru mengungkapkan fakta menggembirakan bahwa kedua aliran air vital ini masih memiliki potensi besar untuk pulih dan kembali menjadi habitat perikanan yang sehat.
Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya 34 spesies ikan di Kali Surabaya dan 42 spesies ikan di Kali Brantas.
Temuan ini menjadi modal utama bagi masyarakat Jawa Timur untuk bergerak memulihkan kualitas air sungai yang menjadi sumber kehidupan jutaan warga ini.
Direktur Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, menegaskan bahwa keberadaan beragam jenis ikan tersebut adalah tanda nyata bahwa sungai ini belum mati. Oleh karena itu, publik perlu diedukasi mengenai kekayaan hayati ini.

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama aliansi komunitas lingkungan akan menggelar kegiatan Ngintir Kali Surabaya, yang dimulai Sabtu (30/5).
“Kali Brantas dan Kali Surabaya masih memiliki potensi untuk bisa pulih dan menjadi habitat ikan. Penelitian terbaru menunjukkan temuan 34 spesies ikan di Kali Surabaya dan 42 spesies ikan di Kali Brantas. Ini bisa jadi modal kuat masyarakat Jawa Timur untuk memulihkan kualitas air Kali Brantas dan Kali Surabaya,” ungkap Rulli.
Aksi penyusuran sungai ini melibatkan tim yang dibentuk dari gabungan Aliansi Komunitas Penyelamat Bantaran Sungai (AKAMSI), ECOTON, Posko Ijo, River Warrior, dan TitikTerang.
Beranggotakan 7 orang, tim dibagi menjadi dua: 4 orang akan terjun langsung menyusuri aliran sungai, sementara 3 orang lainnya bertugas sebagai tim darat untuk melakukan pemantauan, uji kualitas air, serta pendokumentasian kondisi lapangan.
Kegiatan serupa sebenarnya telah dilaksanakan pada tahun 2025 lalu, di mana tim menyusuri jalur dari Pintu Air Mlirip, Mojokerto hingga ke wilayah Gunungsari, Surabaya. Pengalaman saat itu meninggalkan kesan mendalam sekaligus keprihatinan.
Alaika Rahmatullah, Koordinator Ronda Sungai ECOTON, menceritakan betapa parahnya kondisi air sungai di titik-titik tertentu.
“Selama tiga hari pada 2025, kami ngintir di Kali Surabaya. Namun, saat sampai di lokasi sekitar Jembatan Karangpilang, kami terpaksa meneruskan perjalanan menggunakan perahu. Pasalnya, air sungai berbau sangat menyengat, dan parahnya lagi, salah satu anggota tim kami bahkan mengalami bengkak pada telinga akibat infeksi bakteri dari air sungai,” kenang Alaika.
Berdasarkan pengalaman dan kondisi tersebut, Alaika menjelaskan bahwa kegiatan Ngintir Kali Surabaya tahun 2026 ini memiliki lima misi utama, yaitu: mengenalkan keanekaragaman ikan, mengidentifikasi sumber pencemaran industri, memetakan tumpukan sampah plastik, mendata bangunan liar di bantaran sungai, serta melakukan pengujian kandungan mikroplastik dan kualitas air.
Keberadaan ikan-ikan air tawar di Sungai Brantas kini berada di ujung tanduk.
Ancaman terbesar datang dari pencemaran mikroplastik yang berasal dari limbah industri daur ulang, sampah rumah tangga, serta pesatnya alih fungsi lahan bantaran sungai menjadi kawasan pemukiman dan industri.
Di Kali Surabaya yang membentang sepanjang 41 kilometer ini, tim peneliti menemukan 34 spesies ikan air tawar.
Yang paling istimewa, di antaranya terdapat 3 jenis ikan endemik Jawa, artinya spesies ini secara alami hanya bisa ditemukan di Pulau Jawa.
Ketiga ikan langka tersebut adalah Ikan Rengkik atau Baung (Hemibagrus nemurus), Lele Jawa (Clarias batrachus), dan Ikan Wader Bitnik-bintik (Barbodes binatus).
Sementara itu, penelitian sebelumnya pada rentang 2021–2022 yang melibatkan pakar perikanan dari Indonesia, Malaysia, dan Brasil, mencatat data serupa di Sungai Brantas.
Teridentifikasi ada 42 spesies ikan yang terbagi dalam 35 genus dan 21 famili. Famili ikan Cyprinidae (kelompok ikan Wader, Bader, atau Tawes) menjadi yang paling dominan dengan 15 spesies. (ahm)

