METROTODAY, SURABAYA – Peningkatan kasus Influenza A yang banyak menyerang anak-anak menjadi perhatian khusus di tengah masyarakat.
Ketua Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Universitas Airlangga (Unair), dr. Priyo Budi Purwono, MSi M.KedKlin SpMK PhD, menjelaskan bahwa kenaikan jumlah kasus infeksi saluran pernapasan ini dipicu sejumlah faktor, antara lain perubahan cuaca dan interaksi antarmanusia.
Influenza A sendiri merupakan jenis virus influenza yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan atas maupun bawah.
Penularannya terjadi melalui percikan air liur saat penderita batuk atau bersin, maupun melalui benda yang telah terkontaminasi virus.
dr. Priyo menjelaskan mengapa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak karena anak-anak lebih rentan karena mereka belum sepenuhnya memahami pembatasan dalam berinteraksi, termasuk kebiasaan menjaga higiene seperti menutup mulut ketika batuk atau bersin.
“Selain itu, sistem imunitas anak masih dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan terinfeksi,” jelasnya.
Gejala Influenza A umumnya muncul setelah masa inkubasi berkisar antara satu hingga tujuh hari, ditandai dengan demam, nyeri tubuh, pilek, nyeri menelan, serta batuk.
Secara klinis, gejala ini sulit dibedakan dengan infeksi saluran pernapasan lainnya sehingga tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan tanda-tanda fisik saja.
Sebagian besar kasus Influenza A berjalan ringan hingga sedang. Namun, dr. Priyo mengingatkan ada kondisi yang tetap perlu diwaspadai, terutama jika anak mengalami penurunan nafsu makan yang mengganggu asupan gizi dan daya tahan tubuh.
“Komplikasi yang perlu diwaspadai adalah radang paru-paru. Jika peradangan semakin berat ditandai dengan sesak napas, bunyi napas tambahan dan menyebabkan hipoksemia. Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami sesak hingga kegagalan napas,” ujarnya.
Pemeriksaan lebih lanjut dapat dilakukan melalui usap (swab) hidung atau tenggorokan, serta foto rontgen dada sesuai indikasi medis.
Untuk mencegah penularan, dr. Priyo menekankan pentingnya menjaga kebersihan diri, mengurangi interaksi saat sedang sakit, berolahraga, istirahat cukup, mengonsumsi makanan bergizi, serta mendapatkan vaksinasi influenza.
“Tidak perlu panik. Kita bisa belajar dari pengalaman pandemi sebelumnya dengan menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Jika kondisi semakin parah, berkonsultasi dengan dokter atau fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan yang sesuai,” pungkasnya. (ahm)


