Categories: Surabaya

Tren Penyembelihan Kurban di Surabaya: Masyarakat Beralih Potong Langsung di Lapak, Lebih Praktis dan Bersih

“Pembeli yang banyak, mayoritas untuk dijagal itu sapi ya. Karena sapi itu memang ongkos operasionalnya sangat besar. Jadi misalnya takmir dapat urunan Rp 3 juta gitu, total 7 orang jadinya Rp 21 juta. Nah, ongkos operasional pasti disisihkan Rp 1 juta. Nah, di tempat kami karena gratis, itu takmir dapat kelebihan, akhirnya uangnya bisa dibuat yang lain daripada untuk ongkos jagal,” paparnya.

Terkait pembagian hasil kurban, Pondra menegaskan bahwa seluruh bagian hewan, mulai dari daging, kulit, kepala, hingga jeroan, diserahkan utuh kepada pemilik. Pihaknya sama sekali tidak mengambil hak apa pun dari hewan tersebut.

“Untuk pendistribusiannya, setelah kita jagal dan belah empat, kita langsung serahkan ke shohibul kurban. Jadi kita tanpa meminta apa pun. Kayak kulit, kepala, atau apa pun kita enggak ambil. Semua kita kasihkan ke pemilik hewan,” tegasnya.

Di sisi lain, Pondra mengakui adanya penurunan omzet penjualan yang cukup signifikan tahun ini. Jika tahun lalu lapaknya mampu menjual 150 ekor sapi dan 500 ekor kambing, angka tersebut turun pada tahun ini menjadi 80 ekor sapi dan 350 ekor kambing.

Ia menduga penurunan ini berkaitan dengan arus kas masyarakat yang terbagi dengan kebutuhan pendidikan anak.

“Di tahun ini cukup dapat penurunan penjualan. Kemungkinan ya, kalau saya lihat, ini berbarengan dengan anak sekolah. Ini kan sekarang bulan-bulan orang nabung buat sekolah anak. Jadi, shohibul kurban menahan uangnya dulu. Kemungkinan seperti itu,” ujarnya.

Adapun kisaran harga hewan kurban di tempat ini cukup bervariasi, yaitu sapi mulai dari Rp 12 juta, sedangkan kambing dijual mulai harga Rp 1,8 juta.

Terakhir, pengelola memastikan aspek kebersihan dan lingkungan tetap terjaga ketat. Limbah organik atau rumen sapi tidak dibuang sembarangan di lokasi, melainkan diangkut dan dikubur di tempat pembuangan akhir agar tidak menimbulkan pencemaran atau bau tak sedap.

“Rumen ini nanti kita gali dan kita buang di tempat pembuangan akhir. Meskipun ini tanah, tapi kan tetap di lingkungan warga, nanti bisa menimbulkan dampak. Jadi nanti setelah selesai, kita bersihkan, dikembalikan seperti semula,” pungkasnya. (ahm)

Page: 1 2 3

Jay Wijayanto

Recent Posts

Gibran Kaget Lihat Kandungan Mikroplastik di Air Kali Tebu Surabaya yang tampak Jernih

Kehadiran Microplastic Mobile Laboratory (Mimo) membawa terobosan unik, tidak hanya mengajak masyarakat mengurangi pemakaian plastik…

3 days ago

DPRD Minta BPKAD Optimalisasi Lahan Tidur Strategis di Surabaya via Digitalisasi

Nilai aset Pemkot Surabaya tembus Rp 55 triliun, Wakil Ketua DPRD Laila Mufidah menegaskan jangan…

3 days ago

Dishub Surabaya Jamin Bagi Hasil Jukir 40 Persen Cair Cepat

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya memastikan sistem pembayaran parkir non-tunai, baik QRIS maupun voucher, dirancang…

3 days ago

Expo Madrasah Jatim 2026 Jadi Ruang Apresiasi Peserta Didik

Expo Madrasah Jawa Timur Tahun 2026 Selasa (1/9) digelar di Aula Al Ikhlas II Kanwil…

3 days ago

ITS Bantu Rumah Tahan Gempa dan Sensor Deteksi Dini untuk NTT

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali mengerahkan bantuan kebutuhan pokok serta Tim Satgas Kemanusiaan…

3 days ago

Perempuan di Wiyung Hendak Ceburkan Diri ke Sungai Berhasil Dicegah Warga

Seorang perempuan berinisial PPM, 37, diamankan warga setelah diduga mencoba menceburkan diri ke sungai di…

3 days ago

This website uses cookies.